Travel
Melacak Jejak Bissu di Tiga Kota Bugis

27 Feb 2016


Di masa lalu di bumi Nusantara, hiduplah kaum yang dipercaya sebagai titisan Dewata. Mereka bukan pria, bukan pula wanita. Mereka adalah kaum bissu, kaum yang menjadi pemimpin spiritual dari era Bugis kuno. Keberadaan mereka sudah tertera dalam naskah La Galigo, warisan budaya tulis dari hikayat Bugis yang berkembang secara lisan sejak abad ke-13. Ingin bertemu langsung dengan para living history itu, saya pun bernapak tilas ke beberapa kota di Sulawesi Selatan.

 

Pangkep, Berkunjung ke Rumah Arajang
Dari Kota Makassar, saya langsung menuju ke Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan atau yang dikenal sebagai Pangkep. Jaraknya 1,5 jam perjalanan, 75 km jauhnya, di sebelah utara Kota Makassar.  Di kota inilah, di Kecamatan Segeri, Desa Bontomatene, terdapat rumah yang menjadi sekretariat komunitas bissu.
Dari pemandangan petak-petak sawah yang sudah kosong dan mengering sehabis dipanen, mobil membawa saya memasuki perkampungan. Pemandangan ruko berdinding beton berganti menjadi deretan rumah panggung yang berdinding kayu dan beratapkan seng, berjejer teratur di jalanan yang sudah beraspal. Tak lama, sampailah saya di sebuah rumah di pinggir tanah lapang.

Menaiki tangga kayu menuju ke teras, rumah itu terlihat sepi. Seseorang berkemeja batik yang sudah lawas, berkain sarung, mengenakan tutup kepala dari kain putih (serupa kerudung), memperkenalkan dirinya sebagai Bissu Juleha. Ia berperawakan besar, berkulit gelap, tapi ada raut feminin terpancar dari wajahnya.

Ia pun mengeluarkan tikar anyaman dari dalam rumah dan menggelarnya di teras. Dengan ramah, ia mempersilakan saya duduk, dalam bahasa Bugis yang sesekali bercampur bahasa Makassar.

Rumah itu adalah tempat penyimpanan benda pusaka dari peninggalan Kerajaan Bugis, atau dikenal sebagai rumah Arajang. Dulu, di sinilah Puang Matoa Saidi bermukim. Dia adalah pemimpin komunitas bissu yang disegani, dan cukup dikenal namanya sejak keikutsertaannya di pementasan I La Galigo yang disutradarai oleh Robert Wilson, beberapa tahun lalu.

Sejak Puang Saidi meninggal tahun 2011, belum ada satu pun bissu yang mampu menyamai ketokohannya. Keberadaan bissu pun seperti tercerai berai karena tidak ada figur pemersatu. Tak sedikit yang bertanya-tanya, siapakah gerangan penerus Puang Matoa sekarang?
 
“Belum ada lagi. Ada Bissu Muharram, sepupu almarhum Puang Matoa, sempat disebut-sebut sebagai penggantinya. Dia diharapkan bisa menjadi pemimpin. Tetapi, tampaknya dia masih belum fokus. Masih asyik mengerjakan hal di luar ‘kebissuan’. Bissu seharusnya hanya bekerja untuk adat. Jauh dari urusan dunia,” cerita Bissu Juleha, yang sehari-hari menjaga rumah Arajang.

Secara tidak langsung, Bissu Juleha yang bertindak sebagai koordinator sementara para bissu di Segeri. Sebab, pemimpin bissu nantinya haruslah tinggal di rumah Arajang. Bissu yang bernama asli Jumaise ini mengaku, dirinya merasa tak siap jika harus menjadi pengganti Puang Matoa. “Mencari pengganti pemimpin bissu itu tak semudah mencari pengganti jabatan kepala desa. Harus ada tanda-tanda dari Dewata, tentang siapa dan kapan tiba saat yang tepat,” tutur ‘pria’ yang mulai tertarik untuk menjadi bissu sejak kelas 1 SD ini.    

Segeri menempati posisi khusus di kalangan para bissu Bugis. Jika dirunut, dulunya karena pernah ada cerita mengenai hilangnya benda keramat Kerajaan Bone. Jika tidak ditemukan, malapetaka kelaparan akan menimpa kerajaan. Raja pun memerintahkan 40 bissu mencari benda keramat tersebut. Alkisah, benda itu ditemukan di Segeri. Tetapi, rakyat setempat tidak mau mengembalikannya ke Bone. Bissu --sebagai penjaga benda pusaka-- akhirnya memilih tinggal di tempat itu untuk menjaga benda yang dikeramatkan, hingga sekarang.

Dalam benak saya, benda keramat itu mungkin berupa senjata semacam keris, atau barangkali peti harta karun kerajaan. Ternyata dugaan saya meleset jauh. Bissu Juleha menjelaskan, benda pusaka yang dimaksud adalah bajak sawah yang panjangnya hingga 5 meter. Bajak itu tersimpan rapi, dan hanya boleh dikeluarkan untuk upacara adat.

Di sela-sela obrolan kami, datanglah seorang warga menemui Bissu Juleha, membawa proposal. Rupanya, dalam waktu dekat ini (akhir November) akan berlangsung upacara adat tahunan yang paling ditunggu, yakni upacara Mappalili. Ini adalah upacara penyambutan musim tanam. Di sinilah bajak sawah itu akan dikeluarkan, untuk dibersihkan, diarak keliling kampung, dan diturunkan ke sawah. Bissulah yang akan memimpin ritual ini. Serunya lagi,  usai upacara  tiap warga saling menyiramkan air sebagai tanda sukacita datangnya musim hujan, dan dimulainya musim tanam. Sayang, saya datang terlalu cepat, jadi tak bisa menyaksikan upacara yang digelar sekali dalam setahun itu.

Menurut Bissu Juleha, untuk mengadakan upacara ini, bissu diharuskan membuat proposal untuk diajukan ke pemerintah, yang berisi tujuan, detail kegiatan, dan bujet yang dibutuhkan. Padahal, acara ini sebetulnya sudah menjadi event tahunan andalan dinas setempat.
Si tamu bertanya, “Berapa bissu yang nantinya datang?”
“Paling sekitar 2 orang,” jawab Bissu.
Kenapa sedikit, yang lain ke mana?” tanya si tamu.
“Kalau ingin banyak yang datang, ada dananya tidak? Mereka nanti pasti bertanya, ada uangnya tidak?” kata Bissu  lagi.
“Dulu, waktu masih ada Puang Matoa, tanpa diminta pun seluruh bissu  akan hadir di Mappalili karena ini upacara besar,” cerita Bissu Juleha. Sebagai pemimpin spiritual dalam tradisi Bugis, bissu tidak seharusnya memikirkan hal-hal duniawi dan materi. “Dulu, segala keperluan bissu sepenuhnya ditanggung oleh kerajaan. Sekarang, peran kerajaan digantikan pemerintah. Bissu tidak masuk struktur pemerintahan modern. Mau tidak mau, bissu harus mencari nafkah untuk bertahan hidup. Tidak hanya bergantung dari adat dan upacara,” cerita Juleha, yang sehari-harinya menerima pekerjaan sebagai perias pengantin dan konsultan spiritual, seperti untuk ditanya tentang hari baik dan ramalan. 


Masih di Segeri, saya juga menemui Bissu Eka. Tapi, ia tidak tinggal di Arajang, melainkan di salon miliknya. Bissu Eka yang berambut panjang digelung, wajahnya tampak lebih terawat dan rupawan daripada Bissu Juleha. Saat ditemui, ia tengah sibuk mempersiapkan kostum busana pengantin. Beruntung, ia mengajak saya turut serta ke rumah mempelai yang sedang ia tangani. Inilah kesempatan saya melihat langsung prosesi pesta pernikahan Bugis.
Rumah itu terletak di Desa Parenreng. Tamu-tamu sudah memenuhi pekarangan rumah. Saya diajak naik ke lantai atas. Seluruh kesibukan ada di sana. Buah-buahan untuk antaran mempelai sudah siap di teras. Bagian langit-langit dan dinding rumah bersolek kain warna-warna terang. Di ruang tamu, mata saya langsung menangkap piring-piring penuh sajian beraneka kue menggoda yang belum pernah saya lihat sebelumnya.


Saya segera menyusul Bissu Eka ke kamar pengantin. Tak hanya merias, sebelum itu, Bissu Eka memimpin beberapa ritual, sebelum mempelai pria dipakaikan busana pengantin. Di kamar mempelai, terdapat beberapa piring nasi ketan, sebaskom beras yang di atasnya ditempatkan telur, uang, dan lilin berwarna merah. Masing-masing memiliki makna yang terkait dengan kesiapan mempelai dalam menghadapi kehidupan berumah tangga.

Menjadi bissu sejak usia 19 tahun, Bissu Eka adalah orang yang luwes dan banyak bergaul. Sebagian besar para tamu di situ sudah mengenalnya dengan baik. “Di Bugis, calabai diterima dengan baik. Apalagi menjadi bissu, sangat dihormati,” tuturnya, bangga. Calabai adalah kata setempat untuk menyebut laki-laki yang bersifat kewanitaan atau waria.

Salah seorang tamu yang hadir ikut menimpali, “Bissu punya kekuatan magis dan bisa berkomunikasi dengan roh. Saya malah sudah menunggu-nunggu acara Mappalili. Tahun lalu, suami saya yang sakit bertahun-tahun, akhirnya bisa sembuh karena siraman air cucian benda pusaka,” kata seorang ibu yang hadir di situ.

Masih mengikuti Bissu Eka, ia mengajak saya mengikuti iring-iringan mempelai pria ke rumah pengantin wanita, yang berjarak hanya beberapa kilometer. Para penduduk sekitar berbondong-bondong mendekati iringan mobil. Rupanya, mereka mengincar mobil boks yang membawa berbagai bahan makanan, seperti semangka, pisang, dan beras, sebagai antaran dari mempelai pria.


Saya juga bertamu ke kediaman seorang bissu senior dari Segeri, namanya Bissu Nani. Ia bergelar Puang Lolo. Secara hierarki, Puang Lolo adalah posisi satu level di bawah Puang Matoa. Bissu Nani juga pernah menginjakkan kaki di Eropa, untuk beberapa pementasan tradisional yang melibatkan bissu.

Di rumahnya yang sederhana, ia bercerita tentang kegelisahannya: bissu tak bisa hidup sebagaimana seharusnya. Meski hidup selibat, mereka juga punya tanggung jawab finansial pada keluarganya, kerabat, juga para keponakan. Bertahun-tahun ia memilih untuk hidup di rantau, dan lama tinggal di Jayapura. Dengan cara itu, ia tak terbebani untuk memikirkan rumah Arajang. “Saya lebih memilih menjalani kerja pelayanan ke masyarakat. Menjadi konsultan spiritual, dan mereka yang datang untuk berobat,” ungkap Puang Nani, yang sudah merasa skeptis dengan masa depan bissu di Tanah Bugis.         
 

Bone, Legenda Arung Palakka

Salah satu kerajaan Bugis yang cukup terkenal adalah Kerajaan Bone. Kota kelahiran Wapres Jusuf Kalla ini banyak menyimpan sejarah Kerajaan Bone.
Tempat pertama yang saya datangi adalah Taman Bunga Arung Palakka, yang menjadi titik nol kilometer Kabupaten Bone. Tak ada yang luar biasa, selain dia adalah taman publik yang teduh di pusat kota. Salah satu yang membuatnya berbeda dari taman lain adalah patung Arung Palakka yang berdiri tegak, dan menjadi landmark kota.

Arung Palakka, Raja Bone ke-15 itu, dikenal sebagai pemersatu rakyat Bugis. Ia dikenal gagah, pemberani, dan mempunyai sifat terpuji. Patung itu berupa sosok pria berbadan tegap, berambut panjang sebahu, bertelanjang dada dengan sebuah selempang menempel, direkonstruksi dari sketsa yang dibuat oleh VOC. Arung Palakka juga tak lain adalah sepupu Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa.   

Di seberang Taman Bunga ini, berdiri Museum La Pawawoi, tepatnya di Jl. MH. Thamrin, Watampone. Di sinilah tempat yang pernah menjadi istana Kerajaan Bone. Alangkah kaget dan kecewanya hati saya ketika melihat bangunan museum yang berantakan, dan atapnya sudah roboh. Seorang pekerja menjelaskan kepada saya bahwa museum tengah direnovasi hingga beberapa bulan. Tidak ada yang lebih menyakitkan hati selain menemukan museum yang kita datangi dari jauh, sedang direnovasi. Padahal, di sinilah tempat saya berharap bisa belajar banyak tentang sejarah Bugis.

Di sinilah seharusnya tersimpan koleksi peninggalan Kerajaan Bone, antara lain keramik peralatan makan para raja, peralatan upacara bissu, payung emas kerajaan, dan lainnya.

Seorang anak muda asal Bone, Appi, mengajak saya ke belakang bangunan museum. Di belakang reruntuhan bangunan yang sedang dibongkar itu, ada bangunan tua yang tak disentuh pekerja. Terasnya dipenuhi dengan frame foto-foto lama. Beberapa foto lama itu adalah foto-foto koleksi keluarga ahli waris kerajaan.  Bangunan itu difungsikan sebagai sanggar, tempat anak-anak setempat belajar berkesenian, tarian adat dan musik.

Kami duduk-duduk di terasnya. “Di dalam sini ada pusaka,” tutur Appi, yang bisa membaca rasa penasaran saya pada ruangan di hadapan saya, yang pintunya tak terkunci itu. Pusaka yang dimaksud adalah peralatan upacara bissu. Yang membuat saya cukup kaget, peralatan tersebut kebanyakan berupa tempat sajian jamuan makanan, dari bahan kuningan dan keramik, yang mungkin sudah berusia ratusan tahun. Bahan makanan, seperti beras, telur, beras ketan, daun sirih, beserta kue-kue dan masakan lokal, adalah elemen penting dalam  tiap upacara adat.  

Saya mengajukan pertanyaan pada Appi, sebagai anak muda, berpikiran modern, yang pernah mengenyam bangku kuliah di Makassar, masihkah ia percaya pada kekuatan bissu? “Tentu, percaya. Apalagi, saya pernah melihat sendiri, saat bissu sedang menarikan tarian maggiri dalam upacara adat, ia tidak terluka sedikit pun ketika ia menusuk-nusukkan tubuhnya dengan keris, alias kebal,” jawab Appi, kagum.    

Appi lalu mengajak saya napak tilas beberapa situs tua Bone, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tak jauh dari museum, terdapat monumen Tanah Bangkalae. Dahulu, kerajaan di Tanah Sulawesi sering terjadi selisih paham, antara Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone, dan Kerajaan Luwu. Untuk mempersatukannya dibentuklah simbol pemersatu ketiga kerajaan itu. Tanah Bangkalae itu merupakan simbol penyatuan tanah dari 3 kerajaan tersebut. Konon, di sinilah tempat pelantikan raja-raja Bone.

Jejak kesakralan itu mungkin hanya tinggal monumen yang kian terimpit pembangunan kota. Pada malam hari, tempat ini ramai oleh para pedagang pasar senggol yang memanfaatkan lahan kosong.

Berjalan kaki sekitar 1 km dari monumen, melewati kompleks bangunan ruko tua bertingkat dua, terdapat Lalebbata, kompleks pekuburan yang terletak persis di belakang Masjid Al-Mujahidin, di Jalan Sungai Citarum, Watampone.


Masjid ini konon merupakan masjid tertua di Kabupaten Bone yang dibangun sekitar tahun 1890. Itu artinya, era awal syiar Islam di Bone dimulai. Di kompleks makamnya, berdiri menjulang pohon kurma yang tak pernah berbuah.
Advertisement

Di belakang masjid, terdapat makam Raja Bone ke-24, yaitu To Appatunru’, dan Raja Bone ke-29, yaitu Singkeru Rukka. Siang itu, Kota Bone sedang luar biasa panasnya, sampai-sampai keramik nisan makam berkilat-kilat tertimpa pantulan cahaya matahari.

Kami bergegas meninggalkan masjid karena sudah ditunggu oleh Bissu Angel di rumahnya. Bissu Angel adalah pengasuh sanggar tempat Appi beraktivitas. “Bissu Angel tak mendapat uang dari mengasuh sanggar. Bahkan, tak jarang biaya operasional untuk pementasan dibayari oleh Bissu Angel dari hasil pekerjaannya sebagai perias pengantin,” cerita Appi.

Rumah di pinggir Jalan Pisang itu tak ubahnya sebuah salon. Di sekelilingnya terdapat lemari besar tempat menyimpan busana-busana pengantin adat Bugis, serta beberapa perlengkapan pernikahan dan upacara adat.

Saya selalu tertarik pada koleksi frame foto yang berjejer rapi di dinding. Seperti sebuah album  sejarah yang menunggu untuk dibuka. Tampak di situ, dalam salah satu foto, Bissu Angel dalam jubah kebesarannya, sedang memimpin upacara adat dengan membawa selempang emas, benda pusaka kerajaan.

Siang itu, Bissu Angel mengenakan jubah putih dan berpeci putih, raut wajahnya memancarkan karisma yang kuat. Beliau menjelaskan, di kalangan bissu, ada bissu laki-laki (disebut mujangka) dan ada pula bissu wanita (disebut core-core). Wanita yang bisa menjadi bissu adalah mereka yang sudah tidak lagi menstruasi dan tidak menikah. Akan tetapi, mereka yang bisa menjadi pemimpin bissu adalah dari kalangan calabai.


“Semua bissu adalah calabai, tapi tidak semua calabai adalah bissu. Seorang bissu bukan calabai biasa, karena ada tirakat serta peraturan yang harus dijalani sebelum menjadi bissu. Selain itu, bissu juga diharuskan berpakaian sopan dan anggun, serta menjaga perilakunya,” tutur bissu yang bernama asli Syamsul Bahri, dan setelah menjadi bissu namanya berubah menjadi Sesung Rio, ini.

Menurut Bissu Angel, dirinya dilantik langsung oleh Puang Matoa Saidi. Dalam salah satu prosesinya, ia harus dikafani selama 7 hari 7 malam dengan hanya diberi minum air kelapa. Setelah menjadi bissu, ia juga menjalani ritual  tiap harinya, seperti mempelajari sureq La Galigo dan berdoa.

Seorang bissu harus menjaga kesucian spiritual. Selain memimpin upacara kelahiran, kematian, perkawinan, bissu juga harus meritualkan alat-alat pusaka milik kerajaan. “Di masa lalu, bissu adalah orang paling dipercaya oleh raja untuk menyimpan dan merawat benda pusaka. Bissu juga yang melantik para raja, menjamu tamu kerajaan, dan seluruh acara kenegaraan. Tidak seperti penari yang bebas bepergian, bissu hidupnya tidak pernah keluar dari istana,” ujar Bissu Angel, yang mengatakan, di seluruh Sulawesi Selatan bissu yang aktif berjumlah sekitar 40-an yang tersebar di berbagai tempat.

Sekarang, menurut Bissu Angel, banyak peran bissu sudah tergeser. Dalam keagamaan misalnya, perannya sudah tergantikan oleh imam agama. Dalam pengobatan, jika dulu bissu dipercaya sebagai tabib, maka kini perannya sudah tergeser oleh tenaga medis. Saat ini, sebagai bissu, ia mengambil peran untuk melestarikan tradisi lewat sanggar kesenian yang melatih anak-anak.  

Bissu kedua yang saya temui, juga tak jauh-jauh dari dunia kesenian. Bissu Fitri atau yang bernama asli Abdul Muin, adalah sosok yang mengasuh Lembaga Seni Budaya Arung Palakka. Sanggarnya yang berlokasi di Jl. Latenri Tatta No.1, menempati kawasan wisata kompleks Bola Soba.

Bola Soba yang berupa rumah panggung  dulunya adalah rumah tinggal Panglima Perang Kerajaan Bone. Tepatnya di masa pemerintahan Raja Bone di tahun 1895. Dari tangan Bissu Fitri, sanggar Arung Palakka banyak memenangkan kejuaraan dalam berbagai lomba kesenian, baik tingkat provinsi maupun tingkat nasional.
 

Sengkang,  Kota Sutra di Ujung Tanduk

Penelusuran jejak Bugis juga membawa saya ke Sengkang, ibu kota Kabupaten Wajo, yang hanya berjarak 1,5 jam dari Bone. Saya mengawali pagi di Sengkang dengan singgah ke warung kopi. Warung kopi adalah tempat yang tepat untuk tahu kabar terbaru yang sedang terjadi di kota itu. Buka dari sehabis subuh hingga sore hari, orang-orang keluar masuk untuk meneguk kopi dan sarapan di warung-warung kopi.

Warkop Tamang’e letaknya dekat dengan pasar tradisional Sengkang. Di pinggir jalan sempit, saya segera mengambil tempat di bangku yang kosong. Tamang’e adalah tipikal warung tradisional, dengan dinding  yang sudah kumuh, meja bertaplak plastik dengan kipas angin tergantung di dinding. Bangkunya yang bercat biru menjadi sentuhan artistik tersendiri. Saya duduk tepat membelakangi ‘dapur’, sebuah tungku menempel dinding dengan kayu bakar yang membara, dan satu sudut tempat semua hidangan diracik. 

Jenis menu minumannya, teh telur atau kopi telur. Saya memesan teh telur dan sepiring roti dan bolu dengan selai srikaya. Lalu ada menu telur, berupa dua telur ayam kampung yang dimasak setengah matang, yang dijikan di dalam gelas, dengan dibubuhi sedikit lada. Saya menyukai rasa telurnya yang kematangannya pas, dan meleleh di mulut. Tapi, telur yang ada dalam gelas teh saya sulit tertelan. Saya sebetulnya sudah berusaha mencoba cita rasa yang asing, tapi karena porsi susu kental manisnya yang terlalu banyak, rasa manis itu nyangkut di tenggorokan. Saya hanya mampu bertahan dua sendok teh dan segera meminta teh tawar sebagai gantinya.

Di kalangan wisatawan baik domestik maupun mancanegara, Sengkang sudah cukup dikenal. Sebab, Sengkang adalah kota terdekat untuk menuju ke Toraja. Ada beberapa tempat yang digarap khusus sebagai objek wisata, salah satunya, kompleks rumah adat Atakkae. Menempati lahan seluas 8 hektare, di kawasan ini berjejer 34 rumah adat tradisional. Salah satunya, yang berukuran paling besar, dinamakan Bola SeratuE, karena jumlah tiang penyangga bangunan rumah sebanyak 101. Rumah ini dijuluki Saoraja La Tenri Bali atau istana kerajaan.

Dari teras bangunannya yang tinggi, saya memandang ke arah danau di sebelahnya, dan hamparan kolam teratai di depannya, tempat yang tepat untuk menyepi. Beberapa rumah di kompleks ini memang ada yang diperuntukkan untuk penginapan. 


Saya juga mengunjungi keindahan alam lain yang dimiliki Sengkang, yakni Danau Tempe. Danau yang menurut data luasnya hingga 13.000 hektare itu merupakan danau tektonik, yang terletak di atas lempengan Benua Australia dan Asia. Danau tersebut menjadi pusat mata pencaharian para nelayan Wajo.
Dengan menyewa perahu, saya ingin membuktikan keindahan danau, meski saat itu tengah hari sedang terik-teriknya. Beberapa kali, perahu yang saya naiki nyaris oleng. Bukan karena gelombang, tetapi karena debit air sungai yang teramat dangkal. Atas saran teman, saya pun tak melanjutkan perjalanan dan memilih berbalik. “Tapi mana danaunya?” Protes saya pada Abdi, guide yang menemani perjalanan saya. “Tadi kita sudah lewat, kok,” jawabnya.

Perahu kembali berbelok ke arah jalur yang telah saya lewati tadi. Tak berapa lama, kami pun menepi. “Nah, ini danaunya,” ujar Abdi, menunjuk pada hamparan ladang jagung. Barulah saya tahu, di musim panas, danau yang sudah mengalami pendangkalan, berubah menjadi hamparan tanah lapang, yang kemudian ditanami sayur mayur oleh para nelayan. Nelayan pun banting setir menjadi petani. “Tadi kalau kita terus, sungai itu nanti tembus ke Soppeng,” katanya lagi. Berarti tidak lama lagi kebun jagung ini akan selesai dan kembali menjadi danau, karena musim hujan sudah akan segera tiba. 


Saya melanjutkan perjalanan ke kampung sutra. Sengkang juga terkenal sebagai sentra penghasil sutra. Di Kecamatan Sabbangparu, hampir semua bagian bawah rumah penduduk, sebagai tempat menenun, sekaligus juga berfungsi sebagai kandang ulat sutra. Ada ungkapan setempat yang mengatakan, “Bukan gadis Wajo kalau tidak bisa menenun.”

Di kampung yang saya singgahi, di kanan kirinya ditumbuhi pohon murbei, makanan ulat sutra. Saya juga bertemu penenun yang sedang bekerja. Meskipun katanya, tidak sebanyak yang dulu. Sejak beberapa tahun terakhir ini, produksi sutra menurun drastis. Jumlah pengrajin tenun juga ikut surut. Banyak faktor yang turut menjadi penyebab, ditambah ketiadaan perhatian pemerintah pada sektor ini, makin memperburuk keadaan.

Harga sutra yang kian mahal dikeluhkan oleh penjualnya. Sekarang, harga sutra per meternya  mencapai Rp250.000. Di Sengkang, banyak dijumpai motif tenun yang khas, seperti motif geometris, bunga, atau kotak-kotak. Di sini juga bisa didapatkan baju bodo dengan beragam corak.


Keberadaan sutra dan tenun di kota ini ternyata masih ada hubungannya dengan sejarah Bugis. Hal ini terkonfirmasi ketika pada sore harinya saya berhasil menemui pimpinan bissu di Sengkang, bernama Haji Jannah. Menurut beliau, salah satu pusaka kerajaan yang berada di Sengkang, adalah pusaka berupa alat tenun. Pusaka inilah yang dijaga oleh bissu hingga kini.

Konon, dulunya, Tosora adalah pusat kerajaan Wajo, sebelum kemudian dipindahkan ke Sengkang. Daerah ini sudah menjadi penghasil sutra yang digunakan sebagai pakaian raja dan para bangsawan.

Berbeda dengan bissu di Bone dan Pangkep yang bergelar Puang Matoa, maka pimpinan bissu di Sengkang bergelar Angkuru. Haji Jannah sendiri adalah generasi ke-10 pemangku pimpinan bissu di Wajo.

“Dulu, sewaktu saya kecil, pada malam hari anak-anak belajar mengaji Alquran dan dilanjutkan dengan membaca La Galigo. Sekarang sudah jarang sekali menemukan anak yang bisa membaca aksara Bugis,” sesal Haji Jannah, menutup perjumpaan dengan saya di rumah panggungnya.(f)
 

La Galigo dan Asal Usul Manusia

Manusia pertama dalam versi La Galigo adalah batara guru. Dia adalah keturunan Dewata dari dunia atas yang diturunkan ke bumi. Dikisahkan, Batara lalu melahirkan sepasang anak kembar, pria dan wanita, yang diberi nama Sawerigading dan We Tanriabeng. Sebuah ramalan memperingatkan, keduanya kelak akan saling jatuh cinta. Maka kakak beradik ini saling dipisahkan. Yang wanita, tumbuh di dalam istana. Sedangkan, si anak lelaki, dibesarkan di luar istana. Si kakak yang senang merantau mendapati rahasia bahwa dia punya saudara yang disembunyikan dari dia.

Penasaran ingin bertemu adiknya, Sawerigading pergi ke istana. Begitu melihat We Tanriabeng, dia jatuh cinta dan ingin menikahinya. Seisi istana marah. Jika keduanya menikah, bakal terjadi malapetaka. Adiknya yang bijak memberi jalan, “Kalau memang kamu jatuh cinta padaku, ada jodoh yang sudah disiapkan untukmu. Namanya We Cudai, putri kerajaan Cina.”

Untuk menempuh perjalanan itu, Sawerigading memerlukan kendaraan yang besar. Ia pun harus  menebang pohon Welenrengge. Digambarkan pohon itu amat tinggi hingga dahannya menyentuh bintang. Dengan sekali tebas menggunakan pedangnya, pohon raksasa itu roboh. Sewaktu tumbang, bukan hanya terjadi gempa di dunia tengah, tetapi juga menjadikan bencana banjir seisi negeri. Banjir bukan karena air, tetapi oleh telur-telur makhluk-makhluk yang tinggal di pohon tersebut. Muncullah bahtera dari kayu pohon tersebut, dan berangkatlah ia ke negeri Cina. We Tenriabeng naik ke dunia atas, dan menjadi pendeta Bissu. Adapun Sawerigading, dalam perjalanannya, ia menghadapi tantangan 7 peperangan.

Sampai di istana, putri Cina ini menolak lamaran Sawerigading, yang dianggapnya berkepribadian kasar. Sawerigading yang tersinggung, lantas memerangi orang-orang seisi kerajaan. Setelah terdesak, We Cudai akhirnya mau menerima lamaran, dengan berbagai syarat, Sawerigading bisa menghidupkan kembali orangorang yang telah ia bunuh.

Syarat lainnya, tak boleh ada pesta, tak boleh melihat wajahnya, kamar harus berlapis pintu, selimut harus 7 lapis. Dari keduanya, lahirlah seorang anak yang diberi nama La Galigo. Namun, ibunya menolak untuk membesarkannya, dan diserahkanlah La Galigo pada ayahnya. La Galigo tumbuh menjadi penjelajah seperti ayahnya. Sekali waktu, ia memenangkan pertandingan sabung ayam di depan istana,
tempat ibunya tinggal.

Melihat putranya yang tampan bersama sang ayah, We Cudai pun kembali menerima keduanya. Ketiganya berkumpul dan memutuskan kembali ke dunia atas. Dunia tengah jatuh dalam kekacauan dan masa kegelapan. Setelah beberapa generasi, putri Sawerigading dan putra We Tenriabeng dikirim ke dunia tengah. Mereka memenuhi sumpah orang tua mereka, menikah dan menjadi penguasa baru dunia tengah.

Pelangi yang menjadi sarana dewa-dewa melakukan perjalanan di antara tiga dunia digulung. Gerbang yang menghubungkan dunia tengah, dunia atas, dan dunia bawah tertutup dan di gembokselamanya. Para dewa pun takakan lagi campur tangan dalam urusan manusia karena mereka menentukan jalannya sendiri.

(FOTO: SOFYAN SYAMSUL)




 


MORE ARTICLE

polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?