Travel
Jajan Gaya Berbeda di Gang-Gang Beijing

29 Aug 2016

 

Beijing --dahulu bernama Peking-- merupakan melting pot dari beragam budaya tradisional dan budaya asing. Ibu kota Negeri Tirai Bambu  ini dipenuhi pendatang dari berbagai daerah di penjuru Tiongkok, para ekspatriat, maupun turis mancanegara. Pilihan kuliner yang tak terhitung jumlahnya membuat saya, Elvina Febriani, tidak bisa mencentang semua daftar tujuan wisata kuliner yang telah saya buat. Di balik ketenaran Tembok Cina, Forbidden City (Imperial Palace), Summer Palace, dan Temple of Heaven, Beijing berhasil menyulap hutong --sebutan masyarakat lokal untuk gang kecil-- menjadi salah satu destinasi unik. Inilah cerita kuliner saya, termasuk terpenuhinya rasa penasaran saya untuk mencicipi kalajengking goreng!
 


TANTANGAN MENYANTAP KALAJENGKING
Seperti pelancong umumnya, saya tetap pergi ke lokasi ramai turis karena penasaran. Salah satunya adalah Wangfujing, sebuah jalan pedestrian di distrik timur Beijing yang eksistensinya sudah tercatat sejak Dinasti Ming (1368–1644) sebagai tempat perdagangan. Jalan utamanya dipenuhi mal, cocok untuk mereka yang hobi berbelanja. Sebagai pemburu jajanan, saya lebih memilih blusukan ke gang-gang di Wangfujing. Siapa tahu ketemu jajanan enak!
           
Saya menelusuri bagian barat jalan utama, dan melihat satu jalan yang lebih kecil. Inilah lokasi Wangfujing Snack Street. Tak sulit menemukannya karena di sana berdiri kokoh pilar besar khas Tiongkok.
           
Area snack street ini ternyata jauh lebih sempit dari jalan utama. Tapi, orang yang datang tak kalah ramainya. Dari mulut gang, saya mendengar suara teriakan bersahutan. Ternyata, saking banyaknya penjaja makanan di sini, mereka berlomba menjual dagangannya masing-masing dengan teriakan yang lantang. Saya langsung paham mengapa tempat ini begitu terkenal. Suasananya begitu ‘hidup’, kontras dengan suasana ‘dingin’ di jalan utama yang penuh gedung perbelanjaan.
           
Saat menyusuri jalan ini, tidak sadar langkah kaki saya melambat. Sama seperti turis lainnya yang datang, mata saya sibuk melihat-lihat display makanan yang ada di sepanjang jalan. Kebab kambing, tahu busuk, tanghulu --sejenis buah arbei berselimut gula-- babat rebus, permen kacang, dan berbagai minuman buah-buahan, semua terlihat menggiurkan. Harga jajanan di sini lebih tinggi dibandingkan di tempat lain,  10-15 RMB (± Rp20.000-Rp30.000). Maklumlah, ini kan tempat wisata!

Tak berselang lama setelah berjalan dari mulut gang, akhirnya saya menyerah pada aroma satai kambing yang sejak tadi menggelitik  hidung. Alhasil, lima tusuk satai kambing (10 RMB) sukses menjadi appetizer.

Awalnya, saya cukup takjub melihat ukuran satai kambing di sini. Dibandingkan dengan satai kambing di Jakarta, potongan satai di sini lebih besar. Tusuk satainya juga tiga kali lebih panjang. Setelah dibakar, satai langsung dibubuhi campuran bubuk jintan, bubuk cabai, dan garam. Gurih sekali!

Setelah melahap semua satai tadi, saya lanjut menelusuri gang.  Belum begitu jauh melangkah, terlihat kerumunan orang di kios yang menjual berbagai macam satai. Bukan satai biasa yang ditawarkan, melainkan satai serangga dan binatang yang tak biasa dimakan. Pilihannya seputar ulat sutra, kalajengking, bintang laut, kuda laut, kadal, dan jangkrik. Saya sedikit shock melihatnya.  IA, ini diangkat ya krn sedikit cruel walau seranggga. Bg sebagian orang, ini bisa menggaggu.

Walau agak ngeri, saya pesan setusuk kalajengking goreng (20 RMB). Pengunjung lain mengatakan saya pemberani. Sebenarnya, saya memesan satai kalajengking yang ukurannya lebih kecil dan terlihat tidak begitu menyeramkan.

Semua mata pengunjung tertuju pada tangan saya yang memegang satai. Nekat, saya gigit setengah badan kalajengking itu. Kress! Oh, ternyata rasanya tidak seburuk penampilannya, kok. Teksturnya garing seperti keripik. Tidak ada pula   aroma yang mencurigakan. Dugaan saya, ini karena proses deep frying dan taburan bubuk satai yang melimpah. Tanpa sadar, tiga ekor kalajengking saya lahap dalam sekejap!

Cukup bangga juga ketika sebagian turis bertepuk tangan menyoraki keberanian saya. Ada turis yang masih geli melihat aksi saya yang cukup menikmati jajanan ekstrem ini. Namun, setidaknya saya sudah bisa mencoret nama kalajengking dari dalam daftar target saya.
 


BERSEPEDA DI PELOSOK HUTONG
Di Indonesia, gang bukanlah sesuatu yang spesial. Beda halnya di Beijing, hutong (gang) menjadi warisan budaya. Seiring perkembangan Kota Beijing,  makin banyak hutong yang lenyap akibat pembangunan gedung pencakar langit. Itu sebabnya, pemerintah setempat memutuskan untuk menyulapnya menjadi tempat pameran seni, pusat perbelanjaan, restoran, dan bar sebagai usaha melestarikannya. Perlu sedikit ‘perjuangan’ untuk menggali keberadaannya. Suasana dan keunikannya membuat  hutong disukai kalangan hipster.

Salah satu hutong yang saya kunjungi adalah hutong di area Gulou. Menurut buku petunjuk yang saya baca, cara termudah mencapainya adalah menggunakan subway.  Saya turun di Stasiun Guloudajie di line 2, exit G. Saya menuruti saran teman,  menyewa sepeda di sekitar pintu keluar stasiun subway. Katanya, ini cara terpraktis menjelajahi hutong.

Advertisement
Ternyata benar, naik sepeda cukup menghemat waktu dan tenaga saat  berpindah lokasi di hutong yang jaraknya lumayan jauh. Pemberhentian pertama saya di hutong ini adalah Wang Pang Zi (王胖子, kedai yang khusus menjual  daging keledai khas Kota Baoding di Provinsi Hebei). Awalnya saya ragu. Tapi, kemudian saya berpikir, kalajengking saja saya lahap, apalagi daging keledai!

Satu tangkup burger daging keledai (10 -11 RMB) langsung saya pesan. Isinya   antara daging yang berlemak atau tanpa lemak. Tidak menunggu lama, pesanan datang. Walau disebut burger, nyatanya roti yang digunakan bertekstur seperti roti prata, berbentuk persegi empat dan dilipat layaknya roti hot dog. Di dalamnya ada daging keledai cincang yang direbus, berwarna merah gelap, dan potongan paprika hijau. Dagingnya yang empuk tanpa aroma prengus sedikit pun menjadi kombinasi yang pas untuk menemani garingnya roti dan paprika. Kalau tidak diberi tahu, mungkin saya akan mengira sedang menyantap burger daging sapi bagian sengkel karena warna dan teksturnya yang mirip.

Saya melanjutkan petualangan sambil bersepeda. Walaupun Beijing terkenal dengan kuliner tradisionalnya, di sisi lain, luasnya komunitas ekspatriat di kota ini melahirkan sejumlah kedai maupun restoran khas mancanegara yang tersembunyi di dalam hutong. Kedai Moxi Moxi di Fang Jia Hutong yang menjadi persinggahan saya selanjutnya, contohnya. Letaknya di tengah daerah Gulou dan Andingmen. Ruang yang minim digunakan secara maksimal menjadi dapur sekaligus meja bar. Di bagian luar, suasananya lebih santai dengan beberapa meja kursi.

Saya duduk di luar sambil mencoba sabich (25 RMB), vegetarian street food khas Israel yang dibuat menggunakan roti pita yang diisi telur rebus, tomat cincang, terung, dan kembang kol goreng. Rasanya gurih karena tambahan saus tahini (saus wijen) di dalamnya. Kalau tak puas dengan menu vegetarian, ada sabich dengan isi chicken schnitzel.

Walau sang koki --sekaligus pemilik-- tidak memberikan pilihan menu yang beragam, pengunjung ekspatriat tetap banyak yang mengantre. Saya tersenyum geli   melihat para ekspatriat berjongkok di pinggir jalan sambil menikmati sabich-nya, sementara beberapa kakek-nenek dengan santai lalu-lalang melintasi mereka.

Bagi sebagian besar masyarakat dunia, gang seperti ini mungkin tidak ada artinya. Namun, bagi penduduk Beijing, hutong lebih dari sekadar jalan kecil. Peleburan sisi tradisional dan sisi modernnya sangat terasa, menjadikan huton sebagai identitas baru kota Beijing yang kian berkembang.
 

BERGUMUL
DI TENGAH LAUTAN MANUSIA
Meninggalkan area Gulou dengan perut kenyang tak membuat saya mengurungkan niat ke Nanluoguxiang. Hutong yang dibangun di masa  Dinasti Yuan (206 SM-220 M) ini  dilestarikan dengan baik dan sengaja diubah menjadi   kios jajanan yang berjajar rapi dan menarik. Saking terkenalnya, pemerintah membangun stasiun subway khusus untuk menjangkau tempat ini.
           
Selain berniat menghibur lidah, saya juga ingin mengunjungi siheyuan (courtyard house), rumah tradisional Cina berbentuk  persegi empat dengan halaman di bagian tengah, seperti yang sering saya tonton di film Wong Fei Hung. Di Nanluoguxiang, ada beberapa pintu rumah siheyuan yang sengaja dibuka untuk para wisatawan yang ingin melihat bagian dalamnya.          
Hari sudah sore saat saya tiba di Nanluoguxiang. Wow! Tempat ini seperti lautan manusia. Pantas saja teman saya tidak menyarankan menyewa sepeda. Pasti bakal ribet!
    
Saya mulai dari gang utama yang dipenuhi  kafe, restoran, bar, kedai jajanan, hingga toko pernak-pernik. Jenis jajanannya bervariasi, mulai dari camilan khas Barat hingga Asia. Tidak sabar rasanya ingin mencoba churros, es krim serut ala Taiwan, kentang goreng saus keju, cumi goreng, dan masih banyak lagi. Uniknya, walaupun menjajakan makanan khas Barat, rupa kiosnya tetap didesain dengan arsitektur Cina. Bahkan, kedai Starbucks di gang ini berarsitektur tradisional dengan pilar-pilar kayu berpahat di dalamnya.
           
Kebetulan saya datang dari arah Stasiun Nanluoguxiang. Katanya, jika datang dari arah ini, wajib membeli yoghurt tradisional khas Beijing (seharga 5 RMB) yang dikemas dalam botol beling putih bersegel biru. Mudah saja menemukannya karena hampir semua kedai menjual yoghurt ini. Tekstur yoghurtnya sangat kental dengan rasa asam yang tajam. Mungkin ini karena tambahan arak beras  saat proses fermentasinya.
             
Mampir ke kedai es krim Modern juga wajib. Toko yang sudah berdiri sejak tahun 1902 ini menjual es lilin khas Kota Harbin di Provinsi Timur Laut. Saat melihat-lihat jenis rasanya, si penjual menyarankan es krim rasa rum. Tidak salah saya mengikuti saran paman yang ramah ini, karena rasanya memang enak. Aroma rumnya tidak terlalu menohok, seimbang dengan rasa krim yang gurih dan lembut.
Sejak tadi yang saya cicipi hanya yoghurt dan es krim, makanan yang dipengaruhi budaya Rusia. Saatnya beralih ke makanan khas lokal. Saya pun mampir ke kedai Lu Zhu yang ada di ujung gang. Di sini dijual macam-macam makanan khas Beijing maupun daerah lain. Mi dan dumpling-nya enak, harganya juga tidak terlalu mahal.

Saya memesan liangpi, yang artinya kulit dingin, seharga 8 RMB. Seperti mi tek-tek di Jakarta, hidangan ini khas jajanan Kota Xian dan Shanxi yang biasa dijual menggunakan gerobak motor di pinggir jalan. Bahan utamanya adalah potongan kwetiau yang dicampur dengan mentimun parut dan potongan mianjin (seperti otak-otak vegetarian). Rasanya asam, asin, dan aromatik berkat bumbu wijen dan daun ketumbar.
           
Perburuan saya kali ini cukup sukses. Kalau ada kesempatan berkunjung ke Beijing lagi, pasti saya akan kembali menjadi hipster. Dengan cara ini, saya bisa melihat sisi kuliner unik Beijing yang tidak bisa ditemukan di destinasi kuliner mainstream.
 
           
INI JUGA LAYAK DISINGGAHI

  1. Qian Men(前门: Daerah menuju pintu utama Kota Terlarang yang disulap menjadi jalan pedestrian berarsitektur tradisional. Banyak kedai jajanan tradisional dari bebek panggang hingga dessert khas Utara. Jangan lupa, cicipi es krim rasa teh melati dan teh hijau dari toko teh legendaris Wu Yu Tai (8 RMB).
  2. Hou Hai (后海): Tempat ini terkenal dengan danau yang dikelilingi restoran, kedai, dan bar. Datanglah pada malam hari saat semua lampu menyala. Cara termudah mencapainya adalah berhenti di stasiun subway Shichahai, line 8.
  3. Guijie(簋街): Walau bukan hutong,  jalan besar ini patut dikunjungi, terutama pada malam hari. Singgahi restoran Huda (胡大) yang memiliki beberapa cabang di sepanjang jalan. Spesialis hidangan crayfish --sejenis lobster sungai-- rebus dengan bumbu merica Sichuan. Jika hendak makan malam di sini, datanglah lebih awal agar tidak perlu mengantre lama.
 Elvina Febriani


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?