Foto: 123RF
Popularitas vasektomi masih sangat rendah dibanding kondom, apalagi jika dibandingkan dengan kontrasepsi wanita, seperti pil, IUD, atau tubektomi. Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2013, vasektomi hanya dilakukan oleh 0,07% pria. Padahal, metode ini punya banyak keunggulan. Apa yang menghambat popularitasnya?
Banyak Kelebihan
BKKBN tak hanya mengampanyekan kontrasepsi bagi wanita. Belakangan, BKKBN giat menggalakkan vasektomi, termasuk dalam bentuk iklan layanan masyarakat dan memberikan layanan gratis. Para pakar kesehatan memang mendukung kontrasepsi ini karena tergolong sebagai kontrasepsi yang mantap, memiliki banyak keunggulan.
Yang paling utama adalah efektivitasnya yang sangat baik. Cukup satu kali tindakan untuk jangka waktu yang tak terbatas. Menurut dr. Jefri Effendi, Sp.U, spesialis bedah saluran kemih dari RS Premier Bintaro, persentase keberhasilan dalam metode vasektomi bisa mencapai 99 persen. Jumlah kegagalan dan komplikasi berat pada metode vasektomi jauh lebih kecil dibanding metode kontrasepsi lain, hanya 6,5 persen. Bandingkan dengan penggunaan Intra Uterine Device (IUD) yang jumlah kegagalannya mencapai 46 persen.
Selain tingkat keberhasilan yang tinggi, bila dibandingkan dengan metode kontrasepsi lain, vasektomi sesungguhnya paling rendah risiko terjadinya efek samping. Ini karena pada vasektomi bagian reproduksi pria yang diutak-atik adalah saluran sperma atau vas deferens. “Jadi, hanya salurannya yang diputus atau dihambat sehingga pada cairan mani tidak terkandung sperma,” ujar dr. Jefri.
Pengerjaannya pun sangat simpel, hanya operasi minor. “Beberapa tahun belakangan ini yang populer adalah teknologi vasektomi tanpa pisau (VTP). VTP ini cukup efektif dan paling simpel,” ujarnya. Pembiusan hanya bersifat lokal. Kedua saluran sperma, kiri dan kanan, dipotong lalu diikat menggunakan klem tuba yang kecil. Saking simpelnya, VTP kini bisa dikerjakan di klinik-klinik, tak harus di rumah sakit. “Bahkan, kami, para urolog, telah mengadakan pelatihan untuk para dokter umum agar dapat melakukan VTP.”
Waktu pengerjaannya juga singkat, hanya 20-30 menit. Setelah itu, bisa langsung pulang, tak perlu menginap. “Bahkan sudah bisa langsung beraktivitas seperti biasa. Berolahraga juga bisa, asal jangan terjadi benturan pada daerah tersebut,” ujar dr. Jefri. Lukanya sangat kecil dan tak perlu jahitan apa pun, hanya diperlukan penutup luka biasa.
Teknik vasektomi lain yang cukup baru adalah vasclip implant procedure. Dalam teknik ini, saluran vas deferens tidak dipotong, hanya ditutup menggunakan klip. “Tapi, terkadang menimbulkan rasa kurang nyaman karena ada klipnya, meskipun klip tersebut kecil sekali,” terang Jefri. Namun, metode ini nilai keberhasilannya masih di bawah VTP karena saluran yang tidak terpotong tersebut bisa membentuk saluran baru.
Vasektomi juga tidak memengaruhi hormon atau fungsi tubuh apa pun, karena letaknya tersendiri. Bahkan, produksi sperma masih tetap berlangsung. “Sperma yang tidak disalurkan akan diserap kembali oleh tubuh, sehingga tidak akan bermasalah,” lanjutnya. Vasektomi juga bersifat permanen, artinya tak perlu dilakukan pengulangan prosedur lagi. Sekali seumur hidup. Berbeda bila Anda melakukan kontrasepsi IUD, suntik KB, atau mengonsumsi pil KB, yang harus dilakukan berulang kali. Vasektomi bisa dibilang sebagai kontribusi paling besar yang dilakukan oleh pria untuk mengendalikan kehamilan. Wujud kasih sayang seorang suami untuk istri tercinta.
Banyak yang jeri
Sejak tahun 2000-an, BKKBN sudah memperkenalkan metode ini kepada masyarakat, antara lain dengan mengadakan prosedur vasektomi (tanpa pisau) massal di beberapa kota, seperti Surabaya dan Medan, yang diikuti oleh ratusan hingga ribuan orang. Namun, di luar acara massal itu, popularitasnya tak banyak berubah.
Pengetahuan masyarakat mengenai vasektomi yang masih sangat kurang, membuat vasektomi sepi peminat. “Secara jumlah, pelaku vasektomi saat ini bertambah dibanding tahun-tahun sebelumnya, tapi tetap saja masih lebih sedikit dibanding metode kontrasepsi lain, terutama kontrasepsi pada wanita.”
Masyarakat masih menganggap vasektomi adalah prosedur yang berbahaya, dan merupakan operasi yang rumit. Padahal, dibandingkan dengan tubektomi (metode kontrasepsi dengan mengikat saluran tuba pada wanita), vasektomi tentu jauh lebih sederhana. Pada tubektomi, operasi yang dilakukan adalah operasi besar, biasanya bersamaan dengan operasi caesar. Penyembuhan pada tubektomi juga bisa memakan waktu berminggu-minggu. Sementara dengan VTP, hanya memerlukan waktu 2-3 hari untuk pulih kembali seperti sedia kala.
Rendahnya jumlah peserta vasektomi juga bisa jadi karena alasan agama. “Para ulama sempat menyatakan bahwa vasektomi haram hukumnya, karena menyakiti diri sendiri,” kata dr. Jefri. Namun, sekitar tahun 2012 fatwa haram tersebut telah diubah menjadi mubah atau dibolehkan. Tetapi, tentu saja tidak semua orang bisa menerima metode vasektomi tersebut.
“Keberatan terhadap metode vasektomi juga terjadi pada sebagian besar wanita. Banyak wanita yang waswas bila pasangannya melakukan vasektomi, karena khawatir pasangannya akan merasa lebih aman untuk selingkuh,” ujar dr. Jefri, sambil tersenyum.
Terlepas dari itu semua, untuk melakukan vasektomi memang memerlukan pertimbangan yang sangat matang dan kesepakatan yang bulat dari pasangan suami-istri. “Vasektomi bersifat permanen, jadi harus benar-benar yakin,” tegasnya.
Memang, meski telah dipotong dan diikat, vas deferens bisa disambung lagi. Ini disebut dengan vasectomy reversal. “Namun, ini memerlukan prosedur operasi yang lebih rumit, menggunakan mikroskop dan bisa memakan waktu berjam-jam. Tingkat keberhasilannya pun hanya 20-30 persen,” terang dr. Jefri.
Meski vasektomi terbukti merupakan metode kontrasepsi yang relatif paling aman, simpel, dan memiliki tingkat keberhasilan tinggi, mitos-mitos yang mengelilingi vasektomi selalu ada. Hal ini yang membuat vasektomi selalu dalam bayangan metode kontrasepsi lain.(f)
Yudhanti (kontributor)
Topic
#vasektomi