Ninit Yunita
Penulis Novel, co-founder The Urban Mama
Sebelum tahun 2012, saya sangat tidak suka berolahraga, apalagi lari! Saya merasa sehat-sehat saja dan tidak ada masalah dengan berat badan. Hingga suatu hari, untuk pertama kalinya suami saya, Adhitya Mulya, yang sudah terbiasa berolahraga, mengucapkan tiga kata yang saya kira tak akan pernah saya dengar, "Kamu ke gym, deh." Saya terkejut dan menganggap bahwa itu adalah sebuah ‘kode’ darinya agar saya lebih memperhatikan penampilan dan kesehatan.
‘Kode’ itu sempat terabaikan, karena waktu itu saya benar-benar masih enggan berolahraga apa pun. Saat itu, saya termasuk tipe orang yang lebih suka meringkuk di kasur dan menonton TV hingga siang di hari Minggu ketimbang bangun pagi-pagi untuk jogging.
Hingga pada 15 Maret 2012, memenuhi ajakan tetangga saya, Maylaffayza (Fay), saya datang untuk melihat presentasi IndoRunners di sebuah mal. Akhirnya, 18 Maret 2012, untuk pertama kalinya saya dan Fay lari di car free day (CFD) Sudirman. Saya jauh tertinggal dari Fay, tapi berhasil mencapai jarak 3 km. Minggu depannya, saya mengikuti Ladies Race 5K dan mungkin termasuk 5 orang terakhir yang memasuki garis finish! Tapi, rasanya senang sekali. Wah, ternyata saya bisa!
Namun sayang, setelah itu suami saya mengalami cedera lutut yang membuatnya tidak bisa lagi berlari. Meski demikian, ia selalu mendukung saya berlari. Saya sungguh bahagia ketika ia berkata bahwa setelah aktif lari, saya menjadi lebih gembira dan menarik secara fisik.
Kemudian, suami saya berkata, "If I deserve a sexy wife, then you deserve a sexy husband." Jadilah kami berdua rajin berolahraga, dengan tujuan bersama agar tetap sehat dan menarik bagi satu sama lain. Saya rutin berlari dan suami saya rutin berenang. Selain itu, kami bersama-sama bergabung di sebuah klub fitness untuk cross training. Latihan ini penting untuk mendukung lari, agar otot-otot tubuh lainnya terlatih.
Tak hanya itu, kesadaran untuk menjaga kebugaran bersama juga membuat saya sebagai ibu lebih memperhatikan dan memilih asupan makanan yang kami konsumsi sekeluarga, termasuk untuk Aldebaran (10) dan Arzachel (7). Saya memperbarui pola makan keluarga dengan mengurangi konsumsi makanan yang digoreng, mengganti nasi putih dengan nasi merah, dan memperbanyak porsi konsumsi buah dan sayuran.
Jadi, bisa dibilang, lari telah banyak mengubah hidup saya dan keluarga. Untuk itu, sebagai rasa terima kasih, saya menautkan lari dengan hobi lain yang juga saya dan suami cintai: menulis. Dua tahun lalu, saya menulis sebuah buku berjudul Mari Lari. Bahkan, untuk pertama kalinya saya juga menulis skenario filmnya. Satu lagi mimpi saya yang lain terwujud. (f)
Lucia Priandarini