Lebih lanjut Erna mengungkapkan, dari masa ke masa wanita dihadapkan pada pembatasan sosial oleh masyarakat. Tempat yang dianggap terbaik bagi wanita adalah ranah domestik. Wanita yang lebih banyak berada di luar rumah, khususnya di malam hari, berisiko dianggap bukan ‘wanita baik-baik’.
Sementara, peralihan zaman dari era industrialisasi ke era teknologi informasi turut membawa pergeseran paradigma di masyarakat. Era industri menekankan pada konsep kepemilikan (ownership) dan penciptaan produk, termasuk para istri dan anak yang patuh pada pria sebagai pemimpin keluarga. Sementara itu, era digital lebih terbuka dan memberi akses serta kesempatan yang setara, tanpa mempersoalkan gender maupun status pernikahan seseorang.
Dalam masa transisi ini nilai-nilai baru yang mengusung kesetaraan mulai mendapat tempat di masyarakat. Namun, nilai-nilai lama dari era industri belum sepenuhnya terhapus, misalnya konsep bibit-bebet-bobot yang sering menjadi pertimbangan dalam membina keluarga di Indonesia.
“Kini, kualitas bobot wanita mulai lebih diperhitungkan, sehingga mereka dapat bersekolah tinggi, berkarier, dan membina relasi. Tapi kenyataannya, banyak wanita masih dibebani tanggung jawab domestik yang besar,” jelas Erna.
Contohnya adalah pemahaman bahwa wanita belumlah ‘lengkap’ tanpa memiliki anak, yang justru digaungkan sebagai kodrat wanita karena mereka terlahir dengan rahim, indung telur, dan vagina. Padahal, Erna mengungkapkan, konsep kodrat wanita tersebut justru diciptakan oleh pria untuk melanggengkan kepentingan mereka secara patriarkat.
Menyadari bahwa single shaming adalah produk dari cara pandang yang bias gender, Noni menilai tak ada yang salah dengan status lajangnya. “Makanya, saya tidak merasa harus membela diri. Zaman sekarang ada banyak wanita yang masih melajang seperti saya, dan mereka umumnya memiliki prestasi yang membanggakan alias alpha female. Kalau marah, saya hanya buang-buang tenaga,” tegas Noni.
Jasmine juga meyakini bahwa berkeluarga bukan alasan bagi seorang wanita untuk berhenti mengejar cita-cita dan mengaktualisasikan dirinya. “Wanita harus senantiasa berdaya dan mandiri agar bisa menghadapi berbagai tantangan hidup, karena berumah tangga bukan berarti bergantung sepenuhnya kepada suami,” ungkapnya.
Wanita yang melajang tak selalu berarti enggan berkeluarga. Baca di laman selanjutnya.
Topic
#single