Sejak menikah, suami meminta Anda mencatat seluruh pengeluaran, termasuk pengeluaran pribadi. Gaji Anda pun dipegangnya agar dia bisa mengontrol. Parahnya, beberapa kali ia mengurangi jatah bulanan Anda, dengan alasan masih banyak keperluan lain yang membutuhkan biaya besar, atau gaya hidup Anda dianggap terlalu boros.
Solusi:
Sebelum Anda melancarkan aksi protes, coba tanyakan lagi alasan suami memotong jatah keuangan ini. Kalau memang penting untuk keperluan mendesak, misalnya untuk melunasi cicilan rumah atau asuransi pendidikan anak, Anda harus berlapang dada dan menurunkan gaya hidup yang selama ini Anda jalani.
Namun, jika Anda merasa beberapa kebutuhan pribadi Anda tak terlalu memberatkan beban keuangan keluarga, maka utarakan keinginan Anda untuk mendapatkan ‘uang saku’ lebih secara baik-baik. Jelaskan tentang berbagai keperluan pribadi yang diperlukan setiap bulan. Rasanya, jika masih masuk akal, suami pasti mengabulkan keinginan Anda.
Agar hal ini tak terulang, tunjukkan kepada suami bahwa Anda bisa juga bertanggung jawab soal uang. Caranya, Anda menyisihkan sebagian jatah yang diberikan suami ke dalam tabungan. Dengan demikian, suami dapat melihat bahwa Anda ikut memahami keinginannya untuk berhemat. (f)
Niken Wastu Mahestri
Konsultan: Psikolog Dra. Clara Kriswanto dari Jagadnita Consulting