Foto: Fotosearch
Bagi pria, kesempatan luas di bidang karier dan pendidikan menjadi salah satu alasan utama untuk menggeser prioritasnya untuk menikah. Dengan mengatasnamakan kebebasan untuk berkonsentrasi menata masa depan karier, mereka pun memilih menunda pernikahan. Selain itu, masih banyak alasan lain, misalnya, merasa belum cukup mapan secara materi, belum ketemu orang yang tepat, punya trauma masa lalu, ketidaksiapan berkomitmen, ketidakpercayaan terhadap lembaga perkawinan (akibat maraknya kasus perceraian), hingga tidak adanya ketertarikan seksual terhadap lawan jenis.
“Bahkan, tak sedikit yang mempertanyakan, apakah sebenarnya menikah itu perlu? Karena, kalau menikah hanya untuk punya anak, mereka lantas berpikir, kan banyak anak kurang beruntung yang bisa diadopsi,” ungkap Zainoel.
Selain itu, kehidupan masyarakat modern saat ini juga cenderung mengutamakan hak pribadi, sehingga mereka enggan berbagi waktu dan materi dengan orang lain. “Setelah menikah, ia merasa waktu pribadinya akan terampas. Begitu juga dengan materi yang sudah susah payah ia kumpulkan,” ujarnya.
Baca juga:
Tantangan Pernikahan Masa Kini
Blog: Terpikat Pria Asing
Mamah Muda: Benarkah Matang dan Menggemaskan?
Namun, Zainoel menambahkan, apa pun alasannya, menikah merupakan sebuah pilihan yang tidak bisa dipaksakan pada siapa pun. “Lagi pula, siapa bilang semua orang harus menikah?” ujarnya, balik bertanya. Kalaupun ada tekanan dari masyarakat, hal ini lebih karena masih kuatnya sistem kekerabatan dan pola pikir kuno dalam masyarakat kita. “Bahkan, tak sedikit yang menganggap bahwa masih melajang di atas usia 30 tahun adalah aib,” katanya. (f)
Tari Trisulo, Ikrima Nurfikria
Topic
#Menikah