Foto: 123RF
Hani - Balikpapan
Saran Monty Satiadarma
Menikah merupakan sebuah pilihan hidup yang tak luput dari risiko. Di lain pihak, mengharapkan perubahan tanpa mengubah tindakan adalah sesuatu yang amat sulit, karena perubahan alami dalam hubungan interpersonal harus berlangsung melalui pengambilan sikap tegas.
Ada dua kemungkinan untuk mengubah keadaan. Pertama, Anda menerima kondisi ini dan membiarkan suami kembali kepada pasangan lamanya, dengan risiko hidup dimadu. Kedua, menolak kondisi tersebut dengan risiko perceraian dan tidak dinafkahi, dengan pertimbangan kesejahteraan psikologis anak karena absennya sosok ayah dan kesejahteraan Anda sendiri bila terjadi masalah hukum terkait pengasuhan anak.
Saran Irma Makarim
Anda berdua perlu membicarakan semua ini dengan terbuka, termasuk niat suami terkait hubungannya dengan mantan kekasihnya di masa depan. Pikirkanlah bersama apakah memang perkawinan ini cukup berharga bagi Anda berdua, agar tidak terburu-buru memutuskan bercerai. Sementara itu, kehamilan membuat Anda mengalami ketidakseimbangan hormon yang berujung pada suasana hati yang lebih peka dan emosional, sehingga Anda dan suami juga perlu memperhatikan nasib sang calon anak kelak.
Perilaku Anda dan suami dalam menyikapi perkawinan yang sedang dilanda dilema ini akan menentukan masa depan rumah tangga Anda berdua. Anda perlu menyadarkan suami akan kesungguhannya memelihara hubungan Anda berdua dan perkawinan. Penting pula bagi Anda untuk dapat melihat kemampuan diri sendiri dalam menerima semua ini, apakah memungkinkan bagi Anda untuk kembali memercayai suami atau mungkin memaafkannya. Setelah mengetahui semuanya dengan jelas, barulah Anda bisa menentukan langkah untuk menyikapi keadaan ini.
Sebuah perkawinan hanya bisa berjalan dengan harmonis, apabila kedua belah pihak bersedia berperan aktif dalam merawatnya. Sebaliknya kedamaian dalam perkawinan akan terusik, kalau salah satu pihak melakukan perselingkuhan dan menyakiti pasangannya. (f)
Baca juga:
Topic
#masalahpernikahan