Foto: 123RF
Cahaya Nur Hikmah, 21, Mahasiswi, Balikpapan
Menciptakan Couple Branding
Saya punya ide menamai hubungan saya dan kekasih, Yoga Pratama, setahun setelah resmi pacaran pada tahun 2011. Mulanya, nama CahayaPratama dibuat untuk lucu-lucuan, agar kesannya lebih romantis. Saya sempat mencoba beberapa kombinasi nama saya dan kekasih, tapi nama inilah yang rasanya paling cocok. Nama ini kemudian kami gunakan sebagai tagar di media sosial Twitter dan Instagram pada awal tahun 2015. Momen ini dirasa tepat, karena kami baru saja kembali menyambung jalinan asmara setelah putus selama setahun. Saya menyarankan kepadanya untuk menggunakan tagar ini tiap mengunggah foto berdua, dan ia setuju.
Dulu, tiap bulan saya pasti posting foto dalam rangka merayakan hari jadi pacaran, baik foto ketika kencan berdua saat itu ataupun dari koleksi foto lama. Lain halnya dengan kekasih, yang hanya posting tergantung suasana hati. Kami tak pernah saling janjian untuk posting. Tapi, kalau sedang tidak akur, biasanya saya ataupun kekasih tak akan mengunggah foto, apalagi demi menampilkan kesan bahwa hubungan kami baik-baik saja.
Sementara itu, saya tak pernah terlalu memikirkan apa yang akan saya perbuat dengan foto-foto kami maupun tagar #CahayaPratama, apabila ternyata kami tak berjodoh hingga ke pelaminan. Kami pernah bertengkar hebat hingga saya menghapus tag nama pasangan di foto, meski tetap mempertahankan tagar dalam caption. Bisa saja, bila hubungan kami tidak berakhir baik-baik, saya akan menghapus foto-foto kami berdua. Apalagi, saya juga harus mempertimbangkan pasangan saya kelak, karena tak etis rasanya memajang foto dengan mantan kekasih di media sosial.
Bagi kami pribadi, mengunggah foto berdua dengan pasangan, apalagi dengan menggunakan tagar, adalah bentuk keseriusan dalam menjalani hubungan. Setelah CahayaPratama menjadi tagar di Instagram, banyak kawan yang berkomentar positif dan menganggap kami sebagai pasangan yang romantis.
Merayakan hari jadi pacaran yang keenam tahun bulan lalu, nama CahayaPratama sudah cukup dikenal di lingkungan pergaulan kami. Terkadang, kami menggunakan nama itu saat memberi ucapan selamat pada teman yang berulang tahun atau menikah, kemudian dibubuhi paraf saya dan kekasih. Tanpa sengaja, kami telah membentuk branding sebagai pasangan lewat nama CahayaPratama. Bahkan, saking sudah merasa klop dengan nama ini, rasanya bila kelak berbisnis bersama, kami akan menggunakan Cahaya Pratama sebagai nama perusahaan.
Saya merasa, nama ini telah mendekatkan saya dan kekasih sebagai pasangan. Makin lama, kami makin saling sayang dan saling memahami, dan nama ini menjadi pengingat bahwa kami berdua sudah sehati.
Ali Sobri, 29, Jurnalis, Jakarta
Menangkap Momen, Berbagi Inspirasi
Setelah resmi melamar Hera Khaerani tahun lalu, kami berdua mulai mencari inspirasi di Instagram untuk mewujudkan pernikahan impian kami. Di sanalah kami menemukan banyak foto pernikahan dengan tagar berupa nama kedua mempelai, atau sesekali ditambahkan kata ‘wedding’.
Saya yang pertama kali mencetuskan ide untuk membuat tagar serupa, tapi pasangan turut memberi saran. Kami berpikir, kalau hanya mengombinasikan nama kami berdua, kesannya terlalu biasa, dan bisa saja sudah ada yang lebih dulu menggunakan tagar yang sama. Akhirnya kami memilih tagar #aliherasah, karena ‘sah’ adalah kata yang paling dinantikan dalam prosesi pernikahan, sehingga menegaskan peresmian hubungan kami, yang terlaksana Januari silam.
Meski ide untuk menggunakan tagar pasangan di Instagram adalah ide saya, pasanganlah yang pertama kali melakukannya. Dialah yang lebih rajin dan konsisten mengunggah foto-foto persiapan pernikahan dan koleksi foto lama saat kami melancong bersama, yang disertai secuplik cerita seputar kami berdua. Sementara itu, saya hanya posting sesekali, tergantung suasana hati dan momen yang dirasa layak untuk segera disebarluaskan. Umumnya kami mengunggah foto sendiri-sendiri, baik untuk Insta story maupun di linimasa.
Dengan sama-sama mengunggah foto berdua dengan tagar di Instagram, saya dan pasangan menjadi lebih kompak. Tagar ini lahir dari pemikiran kami berdua, dan kami menikmati menggunakannya bersama. Pernikahan memang merupakan hal yang serius, dan ada saat-saat kami harus serius mempersiapkannya. Tapi, kami juga meyakini bahwa saat-saat ini juga perlu dinikmati dengan senang hati, dan tagar inilah salah satu hal yang membuat kami bisa melakukannya.
Tagar untuk pasangan bagi kami bukan semata memamerkan #relationshipgoals. Kami juga sempat menggunakan tagar-tagar sejenis, termasuk #muslimwedding, agar foto-foto kami bisa dilihat lebih banyak orang, dan #nikahsederhana, untuk berbagi inspirasi bagi sesama calon pengantin yang punya rencana serupa. Bagi kami, mendapatkan banyak like adalah bonus.
Saat ini, kami masih menggunakan tagar #aliherasah, dan belum berniat membuat tagar baru. Tapi, mengingat kami adalah pasangan yang terbilang spontan, bisa saja ada tagar lain yang tercipta ketika muncul ide dan momen yang tepat.
Vera Violen, 27, Senior Business Executive, Singapura
Tak Selalu Seindah Foto
Alasan utama saya menyertakan tagar #raymondvera di Instagram untuk foto-foto bersama suami, Raymond Yap, adalah agar kami dapat dengan mudah mengakses dan mengenang momen-momen yang pernah kami lalui berdua. Saya juga memintanya untuk melakukan hal serupa, dan ia tak menolak. Dengan demikian, kami juga bisa berbagi cerita tentang perjalanan hubungan kami, baik selama enam tahun pacaran hingga setelah resmi menikah bulan Desember tahun lalu.
Selama itu pula, kami berdua menjadi support system bagi satu sama lain sebagai sesama perantau. Bertemu ketika sama-sama kuliah di Melbourne, Australia, kami kemudian memutuskan mencari pekerjaan di Singapura agar tak perlu menjalani hubungan jarak jauh. Meski tiap hari bertemu untuk setidaknya makan malam, kami hanya mengunggah foto berdua saat kencan ketika ada acara-acara khusus. Salah satu foto favorit saya adalah saat kami kembali ke tempat pertama kali berjumpa setelah bertahun-tahun lulus kuliah.
Pertama kali mengunggah foto berdua di Instagram pada tahun 2012, saya kemudian menambahkan tagar di koleksi foto-foto lama kami sekitar tahun 2014. Tiap kali mengunggah foto berdua, saya selalu menyertakan (tag) akun Instagram pasangan, sehingga saya mudah menemukan foto-foto kami. Tak ada pertimbangan spesifik dalam membuat tagar saat itu, karena gabungan nama kami berdua belum pernah ada yang menggunakan sebagai tagar di Instagram.
Tagar untuk pasangan tidak secara khusus memengaruhi kondisi nyata hubungan kami. Bila hanya melihat dari hasil pencarian dengan tagar #raymondvera, tak jarang muncul anggapan bahwa hubungan kami senantiasa mulus dan seindah foto-foto yang kami unggah. Padahal, sebagaimana semua hubungan asmara pada umumnya, saya dan pasangan juga kerap mengalami pasang surut. Bila sedang tak akur, kami pun memilih untuk tak menunjukkannya di media sosial.
Sejak pertama kali punya ide membuat tagar untuk foto-foto bersama pasangan, saya tak pernah memikirkan akan dikemanakan foto-foto itu bila hubungan kami kandas. Apalagi, sekarang kami baru menikah, dan kami mencita-citakan pernikahan yang awet sepanjang hayat. Namun, bila hubungan seseorang yang telah dipublikasikan di Instagram kemudian berakhir, menurut saya ada dua pilihan yang bisa dilakukan. Pertama adalah menghapus semua foto bersama mantan pasangan agar bisa move on, atau membiarkannya dan tidak lagi menggunakan tagar untuk pasangan.
Memiliki tagar untuk pasangan di Instagram memang membuat kami terkesan lebih kompak, bahkan kerap menuai tanggapan sebagai pasangan ideal. Namun, pasangan tak pernah mau secara khusus difoto dengan mengenakan pakaian yang senada. Jadinya, kami belum bisa mengunggah foto outfit of the day berdua dengan tagar #coupleootd, deh, he… he… he…. (f)
Baca juga:
5 Aturan Bermesraan di Media Sosial
Pamer Kemesraan di Media Sosial, Yay or Nay?
Kekuatan Tagar di Media Sosial
Topic
#mediasosial