Sex & Relationship
Memahami Pasangan yang ‘Bermasalah’ Demi Kelanggengan Hubungan

15 Jun 2017


Foto: Fotoserach

Tak ada relasi yang mudah. Ketika dua kepala dipersatukan, akan muncul perbedaan dan gesekan. Tantangan itu akan  makin sulit jika pasangan memiliki kepribadian yang unik. Bagai jalan di atas kulit telur yang mudah pecah, mereka harus berhati-hati menjaga suasana hati pasangannya, jika tidak ingin ‘meledak’ tiba-tiba dan membawa masalah.  
 
Kematangan Emosional

Anwar Sadikin* (36) merasa seperti ‘berjalan di atas kulit telur’ dalam menjalani pernikahannya dengan Fira Yusrina* (32) yang telah berjalan 5 tahun. Anwar harus berhati-hati sekali dalam menjaga perasaan istrinya yang belakangan diketahui menyandang gangguan perilaku bipolar. Lain halnya dengan gangguan perilaku, bipolar merupakan salah satu bentuk gangguan kejiwaan.

“Tiap kali istri saya sedang turun mood-nya --ia bisa tiba-tiba bad mood dan marah-marah-- saya jadi sering bingung menghadapinya.  Bisa, dua jam sebelumnya ia baik-baik saja dan happy, lalu tiba-tiba marah atau sedih luar biasa,” cerita Anwar, yang mengaku sering frustrasi menghadapi emosi Fira yang sulit ditebak.

Di mata Anwar, istrinya sangat sensitif dan sikapnya drama queen. “Ia selalu mendramatisasi keadaan. Seakan tiap persoalan itu terlalu berat baginya dan semua orang membencinya. Ia pun mudah depresi dan marah karena menganggap tidak ada hal baik di dunia ini dan sering berkata ingin mati saja,” tambahnya.

Lain lagi cerita Nabila* (29), yang menikah dua tahun lalu dengan Roni* (33). Satu tahun pacaran, Nabila tidak melihat hal yang berbeda dari kepribadian Roni. Ia hanya menyadari bahwa kekasihnya ini sangat aktif di media sosial. Pernah juga suatu waktu, Roni terlibat twitwar dengan teman satu sekolahnya, hanya karena berbeda pilihan politik. Waktu itu memang harus sedang masuk masa kampanye pemilihan presiden. Nabila pun menganggap peristiwa tersebut wajar-wajar saja.
Advertisement

Baru setelah menikah, Nabila menemukan sisi kepribadian Roni yang tidak biasa. Roni sepertinya senang ngajak ‘berantem’ orang yang tidak sependapat dengannya. Ia juga tidak suka dibantah, untuk masalah apapun. Kondisi ini sempat membuat awal hubungan mereka tidak berjalan mulus.

Delapan bulan setelah menikah, Roni kembali melakukan perang di media sosial. Kali ini dengan seseorang yang memiliki follower Facebook ribuan, hingga account Facebook Roni penuh dengan kata-kata bullying. Tidak hanya account Roni, account Facebook Nabila pun ikut terseret-seret, hingga ia menutup account tersebut, sampai sekarang

Tidak tahan dengan himpitan rasa malu dan kesal dengan ulah Roni, Nabila memilih menenangkan diri ke rumah orang tuanya. “Satu minggu saya tinggal di rumah orang tua. Sempat ingin pisah, tapi kemudian saya berpikir untuk bertahan dan mencari bantuan psikolog pernikahan. Pertama saya pergi berkonsultasi sendiri, dari sini saya mendapat pencerahan. Saya jadi ingin bertemu dengan Roni dan menyelesaikan masalah kami. Biar bagaimana pun, Roni pria yang saya cintai,” ungkap Nabila.

Setelah kepergiannya itu, Nabila bercerita kalau Roni setiap hari datang ke rumah orangtuanya dan meminta maaf. Ia pun berjanji untuk memperbaiki sikapnya. Dan yang terpenting, Roni bersedia mengikuti saran Nabila untuk sama-sama pergi ke psikolog dan mencari penyelesaian masalah mereka.

Menurut dr. Laeli Andita, SpKJ, MKes dari RSUD Cibinong, bentuk gangguan kepribadian bermacam-macam jenisnya, ada yang berupa emotional unstable, narsistik (mencintai diri sendiri), histrionik (senang tampil dan memikat orang lain), dan banyak lagi. “Seseorang bisa dikatakan memiliki gangguan kepribadian jika orang lain sudah merasa tidak nyaman oleh sebab perilakunya,” jelas dr. Laeli.

Memosisikan diri sebagai suami atau istri yang harus bisa memahami sikap pasangan yang nyeleneh, bukan hal mudah. Baik Anwar dan Nabila mengaku butuh kesabaran tinggi dalam menghadapi kondisi mood swing pasangannya. Dalam kondisi seperti inilah dibutuhkan kecerdasan emosional dalam mengatasi masalah. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan, Psychology Today, kecerdasan emosional atau emotional quotient  (EQ) menjadi kemampuan yang tidak hanya membuat seseorang mampu mengenali dan mengatur emosi sendiri, tapi juga emosi orang lain di sekitarnya.
 


Topic

#kesetiaancinta

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?