Dalam hidup ini ada tiga hal yang saya (Adrianus Ivan) takuti: pertama, kehilangan pekerjaan; kedua, digigit ular; dan yang terakhir, berkenalan dengan keluarga pacar. Silakan tertawa, tapi itulah faktanya. Jika kolom konsultasi asmara dipenuhi curhat mereka yang blingsatan ketika ditantang berkomitmen untuk menjalani hubungan yang serius, kolom-kolom di otak saya dipenuhi 1001 strategi cara menghadapi keluarga pacar. Ketika tahap saling mengenalkan keluarga mulai tampak di depan mata.
Dihantui Pertanyaan
Selalu saja ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba bermunculan jika hubungan dengan kekasih sudah mendekati keluarga. Bagaimana jika si ayah apriori dengan pilihan profesi saya (penulis lepas yang sesekali membantu usaha katering kakak)? Atau calon ibu mertua yang gagal paham dengan konsep ketuhanan saya? (Ketuhanan YME yes, agama no). Dan jangan sepelekan paman dan bibi yang tiba-tiba saja punya hak veto – setidaknya hak nyinyir– jika ada karakter atau hal-hal yang tidak mereka sukai dari calon suami keponakan kesayangan mereka.
Kalau Anda mengira saya paranoid dengan segala praduga di atas, Anda salah besar. Selepas kuliah, saya memutuskan langsung bekerja dan menargetkan usia 30 sebagai batas maksimum untuk menikah. Sayangnya – atau untungnya – keasyikan mengejar karier yang baru hangat-hangatnya dan menekuni hobi diving bersama para sahabat membuat tenggat itu pelan-pelan mendekat. Satu-dua teman diving wanita dekat dengan saya, tapi tak satu pun yang mengarah ke hubungan serius. Saya pun mulai galau. Seolah tahu saya sedang blingsatan dengan deadline yang saya buat sendiri, seorang sahabat mengenalkan saya dengan seorang teman kantornya.
Kesamaan hobi dan selera humor (kami suka gaya melawak komedian Louis C.K.) membuat obrolan kami nyambung dan hubungan terasa mengasyikkan. Saya mulai berpikir, dialah the one. Ternyata, dia berpikiran yang sama. Layaknya sebuah hubungan yang mulai serius, kami berencana mengenalkan satu sama lain dengan keluarga.
Karena keluarga pacar tinggal di Jakarta, saya dapat giliran pertama ‘diaudisi’, sebelum Lebaran nanti saya ajak pacar mudik ke kampung halaman. Awalnya tidak ada rasa gugup atau takut. Toh, mereka bukan hantu yang bisa muncul tiba-tiba dari kolong tempat tidur saya, ‘kan? Ditambah asupan info (dan bumbu gosip seperlunya) seputar karakter dan kebiasaan orang tua dan 3 orang kakaknya, saya pun tenang-tenang saja ketika hari H tiba.
Perkenalan awal berlangsung lancar, di sebuah restoran keluarga sambil merayakan ulang tahun kakak sulung kekasih saya. Pertanyaan-pertanyaan investigasi berkedok rasa ingin tahu adat istiadat Indonesia Timur datang dari berbagai sudut meja dan bisa saya jawab dengan tenang dengan bumbu humor di sana-sini.
Yang tidak saya antisipasi adalah fakta saya perokok yang sengaja disembunyikan pacar dari keluarganya, karena menurutnya akan membuat acara perkenalan berantakan. Rupanya, pacar saya lupa bilang kepada saya bahwa adik kesayangan sang ayah yang perokok berat meninggal akibat kanker paru-paru.
Bisa ditebak, makan siang yang hangat itu tiba-tiba berubah menjadi adegan brutal dalam slow motion di film Quentin Tarantino, ketika sehabis makan saya dengan santai mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Dari sudut mata saya terlihat tatapan tajam ayah kekasih yang seolah tidak percaya ada perokok berbagi meja makan dengannya.
Sepertinya tak perlu saya jelaskan akhir dari makan siang itu. Keesokan harinya pacar mengatakan, hubungan kami bisa mendapat restu orang tuanya, jika saya mau berhenti merokok. Sebagai anak muda, ego saya pun tertohok. Bagaimana mungkin saya menghentikan sebuah kebiasaan demi orang lain, jika diri sendiri saja berniat pun tidak? Hubungan yang putus di tengah jalan ini saya anggap sebuah kesialan belaka.
Sebuah liburan ke Wakatobi sudah cukup membuat saya melupakan mantan pacar dan memutuskan move on. Ternyata, yang belum move on adalah teman-teman saya. Melihat populasi jomblo yang makin berkurang di geng kami, teman-teman seperti merasa wajib ‘menjajakan’ profil saya kepada sesama jomblo.
Tiga bulan setelah putus, saya kembali dikenalkan dengan sepupu jauh seorang teman. Karena dia masih harus menyelesaikan kontrak kerja di Kalimantan, 4 bulan pertama masa perkenalan berlangsung jarak jauh. Entah kenapa, sekali lagi hati saya mengatakan dia adalah pacar terakhir saya.
Pertemuan berjalan menyenangkan, keluarga pacar tak keberatan saya merokok. Saya pun tahu diri, tidak ngelepus sembarangan di meja makan, dan memilih pamit sebentar ke belakang restoran. Ketika waktu salat Magrib tiba –inilah yang tidak saya antisipasi– saya diam saja dan bergeming. “Yuk, Mas, berjemaah,” ajak ayah pacar. “Silakan, Pak. Duluan saja,” jawab saya.
Sekali lagi, sebuah fakta penting tentang diri saya yang menjadi agnostik beberapa tahun lalu, rupanya ‘luput’ diinformasikan kekasih kepada keluarganya. Layaknya review film di situs Rotten Tomato, keesokan pagi pacar mengatakan, saya mendapat predikat ‘rotten’, alias tak dapat restu dari orang tuanya.
Bersikap Jujur
Dua tahun setelah batas waktu menikah yang saya buat sendiri lewat, saya masih sendirian. Akhirnya, setelah 10 tahun kerja kantoran, saya memutuskan mengikuti kata hati menjadi penulis lepas, sambil sesekali membantu usaha katering kakak yang berkembang pesat.
Berdasarkan dua pengalaman pahit sebelumnya, status pekerjaan tidak tetap seperti ini kemungkinan akan menghalangi saya lolos ke babak selanjutnya dari screening keluarga calon istri. Tapi, saya juga belajar dari pengalaman sebelumnya, bersikap jujur dan menjadi diri sendiri jauh lebih nyaman dan menenangkan ketimbang berusaha keras memenuhi ekspektasi orang lain.
Saya sudah berhenti merokok, tapi itu pula yang membuat saya lebih relaks ketika mulai menjalani hubungan serius dengan seorang pelanggan katering kakak. Saking santainya, saya cuek saja ketika kekasih memberi tahu bahwa ayahnya adalah seorang purnawirawan ABRI yang keras kepala, yang menolak bersantai dengan cucu di rumah setelah pensiun, dan sibuk menjadi konsultan keamanan di sebuah perusahaan minyak.
Kali ini, saya mencoba cara lain. Bukannya dikenalkan lebih dulu oleh pacar kepada keluarganya, saya mengajak dia makan malam bersama ayah dan ibu saya. Idenya sederhana saja, kalau keluarga saya saja sudah welcome dengannya, mudah-mudahan dia mau usaha sedikit ekstra untuk meyakinkan keluarganya bahwa kekasihnya yang tak punya pekerjaan tetap ini adalah pria yang ingin serius menjalin hubungan dengan anak mereka.
Ketika pacar bertanya dos and don’ts sebelum bertemu calon mertuanya, saya berikan info secukupnya sambil minta dia menjadi diri sendiri. Pacar menatap saya, seolah saya sudah kerasukan arwah Mario Teguh. “Setidaknya kasih tahu aku, ibumu gaya berpakaiannya seperti apa. Nanti kalau dia enggak suka dengan baju yang aku pakai, bagaimana?” kata kekasih saya saat itu.
Bagi saya, ketika saya sudah berani mengenalkan kekasih, artinya dia adalah pilihan saya. Saya tak akan ambil pusing jika ada selera, karakter, atau kebiasaannya yang tak disukai orang tua saya. Mungkin terdengar kurang ajar, tapi yang akan menikah kan saya, bukan orang tua. Setidaknya, itu prinsip saya.
Jadi, ketika pacar bertemu orang tua saya, dia pun sebaiknya bersikap biasa-biasa saja. Saya bahkan meminta dia tak pura-pura ketawa jika ayah saya mengeluarkan koleksi lelucon garing yang sering saya sebut sebagai ‘joke bapak-bapak pemda’. “Senyum saja, dia sendiri sudah tahu, kok, lelucon-lelucon itu banyak yang tidak lucu. Dia hanya ingin didengarkan saja,” saran saya.
Benar saja, suasana makan malam kami terasa menyenangkan, meski tak bebas 100% dari lelucon lawas nan garing dari ayah saya. Dan ketika pulang, sebelum kami berpisah di parkiran, Ayah berbisik pada saya, “She’s the one.” Nah, benar, ‘kan.
Dari beberapa pengalaman saling mengenalkan dan dikenalkan ini, rasanya saya lebih percaya diri membawa pacar lebih dulu ke orang tua saya, sebelum saya yang dikenalkan pacar ke dalam lingkaran orang-orang terdekatnya. Dengan ayah dan ibu saya, setidaknya saya sudah tahu seperti apa harus berperilaku di depan mereka.
Berbeda dengan keluarga pacar, meski sudah dibekali aneka informasi seperti di pengalaman yang lalu, tetap saja rasanya seperti masuk ke dalam arena gladiator zaman Romawi, tanpa saya akan tahu bagian tubuh mana yang akan terpenggal.
Giliran saya untuk bertemu keluarga pacar, masih beberapa minggu lagi, karena sang ayah masih bekerja offshore. Saya tidak tahu apakah kesempatan ketiga akan berujung manis atau pahit bagi pria pekerja lepas yang agnostik ini. Well, saya yakin, alam semesta akan memberikan saya kesempatan keempat, kelima, atau kesepuluh untuk membuktikan menjadi diri sendiri lebih baik daripada berpura-pura menjadi orang lain. (f)
Adrianus Ivan