Carmeleo Nascha, 29, Jakarta, Tak Mau Culture Shock
Saya pernah tinggal dan bekerja di Bali selama 2 tahun. Suatu hari, saya kedatangan teman-teman wanita saya dari Jakarta. Mereka heboh, berusaha mencari kenalan pria Barat selama waktu berlibur di sana. Hal yang menggelikan adalah mereka juga menanyakan apakah saya sudah ‘berhasil’ menggaet pria kulit putih dan apakah saya sekarang tinggal bersamanya.
Saya jadi tahu, rupanya ada anggapan bahwa wanita muda dari Jakarta yang tinggal di Bali punya tujuan mencari pria Barat. Tidak bisa disangkal, memang ada yang seperti itu. Tapi, tidak bagi saya. Saya pindah ke Bali karena sangat menyukai alam dan gaya hidup di Bali yang lebih santai. Saya ingin lari dari hiruk-pikuk kota besar semacam Jakarta.
Daripada melirik surfer seksi Australia, saya justru lebih menyukai pria lokal yang berkulit legam dan aksen yang terdengar eksotis di telinga saya. Menurut saya, wajah pria Indonesia itu lebih manis ketimbang pria asing. Ini masalah selera saja, sih. Kebetulan saya lebih suka kepada pria hitam manis.
Pernah saya bertengkar dan lalu menangis. Bukannya dibujuk, saya malah dimarahi. “Don’t act like a baby!” katanya. Dia sangat tegas. Dia juga bicara apa adanya, yang terkadang membuat saya sakit hati. Saya juga ternyata sulit beradaptasi dengan kebiasaannya yang sangat tepat waktu dan segala sesuatu harus direncanakan dulu. Berbeda dengan saya yang terbiasa santai.
Beberapa kali pacaran dengan pria asing, ternyata saya merasa tak cocok. Kalau dengan pria Indonesia, bisa lebih santai karena karakter kami sama, easy going, saling mengerti, tidak perlu ada gesekan culture shock. (f)