Foto: Fotosearch
***
Saya dan Mas Deddy Corbuzier sudah menikah selama delapan tahun (2005-2013) sebelum akhirnya berpisah. Masa pacaran kami pun cukup lama, yaitu empat tahun, Setelah bercerai, kami bahkan sempat masih tinggal satu rumah selama tiga bulan, walau tidak sekamar lagi.
Tadinya kami ingin tinggal bersama terus, tapi rasanya awkward. Bagaimanapun, kami bukan suami-istri lagi. Akhirnya saya putuskan untuk pindah rumah. Tapi, saya tidak mau egoistis dan menjauh dari anak kami, Azkanio Nikola Corbuzier, yang tinggal bersama Mas Deddy. Akhirnya, saya memilih rumah tak jauh dari rumah Mas Deddy. Dengan begitu, anak saya mudah untuk bertemu dengan saya.
Hubungan kami saat ini santai sekali, seperti adik-kakak. Sampai sekarang kami masih saling bicara dan bertukar pikiran tentang apa saja, dari topik anak, pekerjaan, hingga hubungan pribadi, seperti sedang dekat dengan siapa. Kami juga masih suka saling curhat jika ada masalah. Karena saya menganggap dia sebagai kakak, tidak ada yang saya tutupi dari Mas Deddy.
Melihat kedekatan kami, orang mungkin berpikir saya masih ‘macam-macam’ dengan Mas Deddy. Kami tahu menjaga batas, kok. Kami memang dekat, tapi dia bukan suami saya lagi. Enggak mungkin saya cium Mas Deddy lagi. Kalau bertemu paling banter hanya memeluk, itu pun pelukan sebagai sahabat atau saudara.
Jika ditanya, apakah saya masih sayang pada Mas Deddy, ya, saya sayang banget. Saya yakin dia juga begitu. Tapi, jika saat ini ditanya, apakah mau rujuk, jawabannya, kami sudah sangat nyaman dengan keadaan sekarang, dan kami tidak ingin kehilangan itu. Sekarang kami tidak pernah ribut, saling kesal, atau berantem lagi. Mungkin karena sekarang kami tidak ada rasa ingin memiliki lagi. Anak saya juga mengerti hal ini.
Pasangan kami masing-masing nantinya harus paham bahwa kami akan selalu dekat seperti ini. Jadi, penting bagi mereka untuk tidak cemburu dan mencurigai kami, karena itu hanya akan membuat capek hati. Kalau kami terkesan saling ingin tahu siapa pasangan baru kami, itu karena kami ingin melindungi anak kami. Saya harus tahu siapa yang akan jalan, bertemu, dan tinggal dengan anak saya nantinya, ‘kan? Saya tidak mau anak saya disakiti oleh siapa pun. (f)