Di awal LDR Anda seperti kebakaran jenggot memikirkan cara untuk bisa berkomunikasi dengannya. Tapi saat sudah menjalani LDR Anda justru merasa lebih tenang hidup sendiri dan lebih happy. Jauh dari si dia nggak lagi jadi masalah buat Anda. Anda nggak merasa khawatir, kangen, saat jauh darinya, bahkan Anda merasa nggak perlu ‘laporan’ lagi setiap beraktivitas. Rasa sayang pun perlahan memudar. Nah, itu tandanya Anda bisa hidup meski tanpa dia.
Nggak rela berkorban
Selama menjalani LDR si dia nggak pernah menunjukan pengorbanan, misalnya mengunjungi Anda. Justru selalu Anda yang menghampiri dia. Pacaran jadi berat di ongkos, deh. Bukan perhitungan, sih, tapi Anda tentu ingin melihat sejauh apa pengorbanannya untuk Anda.
Pengecualian bagi Anda menjalani LDR beda benua, misalnya Anda di Jakarta si dia di Jerman. Sikap berkorban bisa dilihat dari sejauh apa dia mendukung Anda. Mungkin saja dia rela bangun tengah malam hanya untuk mengucapkan selamat pagi dan menemani Anda sarapan. Wajib dihargai, tuh.
Jarang Komunikasi
Posesif
Menjalani hubungan jarak jauh saja sudah berat, ditambah harus menghadapi sifat posesif dia. Duh nggak banget, deh. Pasalnya, selain komunikasi, kepercayaan juga jadi kunci utama LDR. Kalau tiap jam si dia minta Skype, apalagi bukti foto aktivitas Anda, berarti saatnya bilang goodbye. Untuk apa menjalani hubungan yang nggak dilandasi saling percaya. Cowok nggak cuma satu, kok, di dunia.
Koneksi bikin marah
Di era digital saat ini internet jadi senjata utama buat para pasangan LDR. Hubungan terasa lancar ketika koneksi internet juga lancar. Masalahnya ketika koneksi internet lagi nggak mendukung, si dia bisa langsung marah besar. Bahkan ngambek berhari-hari dan menyalahkan Anda. Artinya, Anda nggak lagi berada di hubungan yang sehat. Tetap mau dipertahankan? Hm, pikir-pikir dulu, deh. Susah, kan, kalau hubungan diukur sebatas koneksi internet.
Topic
#LongDistanceRelationship