Sex & Relationship
5 Alasan Salah untuk Menikah (2)

7 Nov 2016


Foto: Fotosearch

Meski sudah ingin banget dilamar pasangan, bukan berarti kita mengorbankan logika. Berikut lima alasan yang kurang tepat untuk menikah...

1. Mengincar warisan
Mungkin salah satu kriteria pria idaman kita adalah mapan secara materi. Begitu dapat pacar yang tajir langsung, deh, kita buru-buru minta dinikahi—nggak usah pakai tunangan segala. Alasannya: biar kecipratan materinya juga, dong, he he he.

Sayangnya, kita lupa bahwa kekayaan pacar berasal dari ortunya yang kaya tujuh turunan dan punya keluarga besar. Seandainya bisa mengambil hati pacar dan camer belum tentu harta warisan langsung jatuh ke tangan kita. Kalau ada apa-apa, nih, pasti garis keturunan asli yang bakal mendapatkan jatah terbesar. Selain itu kecil banget, deh, kemungkinan si upik abu bersanding dengan keluarga berada, kan....
 
2. Bersaing dengan sahabat
Bulan lalu si A menikah, bulan depan si B menyusul, bahkan si C yang diprediksi paling akhir melepas masa lajang sudah menentukan tanggal pernikahan tahun depan. Sementara kita yang sudah empat tahun pacaran dengan orang yang sama belum juga dilamar. Masa keduluan lagi, sih?

Eits, jangan menikah karena latah melihat anggota geng kita sudah 'laku'. Mungkin mereka lebih dulu melepas masa lajang gara-gara sudah siap materi dan mental. Coba dengar lagi keluh kesah sahabat, deh. Ada yang nggak punya waktu luang buat diri sendiri bahkan susah berduaan dengan suaminya setelah melahirkan. Sebaliknya kapan pun kita masih bisa nyalon atau hang out bareng pacar tanpa beban—nggak ada lagi alasan buat iri, dong?
 
3. Happily ever after
Sejak kecil kita sudah mengidolakan Cinderella yang sukses menemukan prince charming-nya. Begitu dewasa kita makin terobsesi menonton drama romantis yang selalu berakhir bahagia. Nggak heran, deh, kita percaya banget kalau menikah dengan pria idaman bakal membuat hidup kita sempurna selamanya. Sayang, cerita dalam dongeng dan film berbeda banget, deh, dari jalan hidup kita. Kalau kisah Cinderella bisa selesai dengan kalimat 'and they lived happily ever after', perjalanan cinta kita belum selesai saat menikahi Mr.Perfect. Soalnya pernikahan berlangsung seumur hidup—nggak hanya sampai mengucapkan janjinya saja! Sst, kalau hanya mau senangnya saja berarti kita belum siap mental buat menikah, tuh.
Advertisement
 
4. Merasa terancam
Saking akrabnya dengan pacar, besar kemungkinan kita bakal berbagi semua rahasia gelap keluarga. Ketika bokap punya selingkuhan, misalnya, pasangan justru menggunakan cerita itu untuk keuntungan pribadinya. Dia mengancam akan memberitahu nyokap yang sakit-sakitan kalau kita nggak mau menikah dengannya—padahal motivasi pacar demi mengeruk materi keluarga kita!  

Jangan pernah merasa bertanggung jawab atas perbuatan negatif yang dilakukan orang lain, sekalipun ortu kita pelakunya! Sebelum mengikuti kemauan pacar, coba bicarakan 'dari hati ke hati' dengan bokap karena hal ini menyangkut kredibilitas beliau. Setelah itu minta bantuan saudara untuk melepaskan diri dari ancaman dia. Sejelek-jeleknya keluarga pasti mau membantui kita, deh.
 
5. Telanjur hamil
Berhubung takut kehilangan pacar, kita akhirnya rela memberikan keperawanan kita. Akhirnya dia malah 'nagih' dan kita dengan terpaksa menuruti keinginannya asal memakai pengaman. Sayangnya, kali ini kondom yang dia pakai bocor sehingga tahu-tahu kita sudah dinyatakan hamil tiga minggu! Meski menyesal, kita kudu tetap mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut.

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengakuinya kepada ortu. Semarah-marahnya mereka pasti bokap dan nyokap akan memberikan solusi terbaik buat masa depan kita.
Seandainya pasangan akhirnya siap bertanggung jawab, biasanya, sih, karena terpaksa—bukan karena benar-benar mencintai kita. Kalau memang cinta pasti pacar bakal berpikir ribuan kali sebelum menyakiti kita dan ortunya. (f)

Baca juga:
5 Alasan Salah untuk Menikah (1)
3 Mitos Cinta yang Salah
6 Hal yang Harus Dilakukan Saat Bertemu Pria dari Online Dating


Topic

#menikah

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?