Bangga menjadi bagian dalam film Soekarno, Tika Bravani bercerita banyak kepada CC seputar pengalamannya menjadi Fatmawati. “Dulu saya mengira Fatmawati itu seorang perempuan yang jaim. Jujur setelah bermain dalam Soekarno, saya jadi semakin mengenal sejarah Indonesia,” cerita aktris yang juga bermain dalam sinetron Bidadari-Bidadari Surga ini. Yuk, simak obrolan lengkapnya berikut ini
Bagaimana awalnya Anda bisa terjun ke dunia akting?
Semuanya terjadi tanpa sengaja. Awalnya saya ikut Abang None, kemudian casting Alangkah Lucunya Negeri Ini. Dari Alangkah Lucunya Negeri Ini, saya mulai sering main di FTV dan sinetron.
Apakah pernah mengikuti kelas akting?
Saya nggak pernah ikut kelas akting yang resmi. Paling cuma ekskul ketika SMP dan SMA. Malah dulu saya bercita-cita jadi dokter dan ketika kuliah ‘main’ aman dengan mengambil jurusan Ekonomi—kan, ekonomi masuk ke semua bidang.
Pernah kepikiran berkecimpung di bidang lain?
Sebenarnya, sih, setelah lulus kuliah Agustus kemarin, saya coba melamar di perusahaan BUMN tapi nggak diterima, hehehe….
Bagaimana ceritanya Anda bisa bermain sebagai Fatmawati di film Soekarno?
Saya ditawari ikutan casting dan sempat melihat infonya di Twitter. Pada saat casting, tuh, saya sudah seperti syuting beneran di Jalan Pegangsaan bersama Ario Bayu juga.
Bagaimana rasanya bermain bersama Ario Bayu? Susah nggak membangun chemistry?
Saya belajar banyak dari Ario Bayu. Dia sangat kooperatif, easy going, dan enak diajak diskusi. Bahkan ketika di lokasi syuting pun, di luar pengambilan gambar, saya menganggap dia sebagai Soekarno dan dia menganggap saya sebagai Fatmawati.
Bagaimana bekerja sama dengan Maudy Koesnaedi?
Saya sudah mengenal Maudy di Teater Abang None. Maudy sendiri sudah lama melakukan riset mengenai Inggit Ganarsih, jadinya kami sering berdiskusi bareng.
Bagaimana cara Anda mendalami peran Fatmawati? Apakah ada diskusi dengan keluarga Soekarno juga?
Ada, sih, tapi pandangan dari keluarga terlalu subjektif, ya. Ada banyak pendapat mengenai sosok Soekarno. Jadi selain riset dari buku, saya lebih banyak mengikuti arahan Hanung Bramantyo selaku sutradara. Saya, kan, bermain dalam filmnya Hanung, ya, saya mengikuti arahan ‘kokinya’.
Apa bagian paling sukar dalam memerankan sosok Fatmawati?
Bagaimana menunjukkan keistimewaan Fatmawati di antara perempuan-perempuan Bengkulu lainnya sehingga seorang Soekarno bisa jatuh hati kepadanya. Kemudian, bagian paling sukar adalah memunculkan peran Fatmawati dalam pergerakan Soekarno merebut kemerdekaan Indonesia.
Scene paling berkesan?
Ketika pembacaan proklamasi. Asli saya merinding!
Bagaimana sosok Soekarno di mata Anda, setelah akhirnya bermain dalam film Soekarno?
Jujur, saya jadi semakin mengenal sejarah Indonesia. Memang Soekarno itu nggak ada tandingannya. Nggak ada yang berpikir seperti Soekarno yang memperjuangkan kemerdekaan dengan cara kooperatif. Dan saya cukup ‘wow’ juga mengetahui ternyata istri beliau ada sembilan.
Siapa, nih, aktor dan aktris Indonesia yang aktingnya Anda kagumi?
Saya senang dengan akting Maudy Koesnaedi, apalagi ketika dia bermain sebagai Inggit Ganarsih. Dapat banget! Kalau aktor, sih, Reza Rahadian. Selain pernah main bareng di Alangkah Lucunya Negeri Ini, saya juga ikut main di film pendeknya Reza tahun 2011 lalu, Sebelah. Melihat kerja keras Reza dan pola bekerjanya, saya tahu dia aktor beneran…
Untuk film selanjutnya, Anda ingin memerankan karakter seperti apa?
Apa saja, sih, yang penting perannya menantang. Psikopat boleh tapi karakternya tergarap jelas nggak hanya sekadarnya saja.
(ESP/FOTO:DOK.FEMINAGROUP/PRIBADI/IST)