Yap, sejak 1994 sampai 2008, total 14 tahun. Keluarga saya tinggal pindah ke sana setelah dapat undian green card.
Apa yang membuat Anda kembali?
Di Amerika saya bekerja di sebuah perusahaan besar sebagai 'tukang insinyur' dengan gaji besar. Sangat mencukupi, tapi entah kenapa saya merasa nggak puas karena sejak kecil pengennya menjadi seniman. Setiap bangun yang ada di pikiran cuma seni, seni, dan seni. Di Amerika saya punya band namanya Fourwall. Sebenarnya dengan band inilah saya bermimpi menjadi musisi besar. Sayangnya di sana kami susah untuk berkembang mungkin karena semua personelnya orang Indonesia, jadi agak sulit menembus rekaman. Akhirnya terpikir untuk membawa band ini ke Indonesia, dengan harapan mendapat sambutan besar. Sebelum pulang saya sampai menguras tabungan bikin sebuah album EP Fourwall.
Bagaimana hasilnya?
Ditolak mentah-mentah, ha ha ha. Padahal kami datang dengan pede. Soalnya saat itu yang lagi happening lagu-lagu melayu, sedangkan produser bilang band kami terlalu bule. Akhirnya saya jadi pengangguran, deh.
Kok, bisa belok berakting?
Awalnya dari teater. Jujur saja saya butuh pekerjaan, ha ha ha. Saving saya saat itu sengaja saya habiskan untuk renovasi rumah demi memotivasi saya bekerja. Nah, di saat itu Daniel Mananta kasih kabar bahwa sedang ada casting teater Gita Cinta the Musical. Setelah ikut casting akhirnya terpilih dan berlanjut ikut teater Laskar Pelangi, Ali Topan the Musical, pokoknya keliling terus.
Lalu, dari teater ke film?
Iya, itu pun diawali sebagai figuran di film The Raid 2 yang cuma muncul sepersekian detik. Tahu, kan, adegan berantem di lumpur penjara? Saya ada di antara 100 orang itu, ha ha ha. Tapi sejak bermain teater memang networking saya mulai terbuka. Kemudian saya mulai ikut casting film yang membawa saya ke film pertama Soekarno.
Senang banget, nggak pernah menyangka. Tapi ini masih awal, saya harus banyak berkembang. Ini sekaligus pembuktian ke ortu karena selama ini, khususnya ayah, selalu menentang karier saya di dunia seni.
Mimpi terbesar sebagai aktor?
Saat ini saya memang agak pemilih karena ini akan menentukan langkah saya ke depan. Dalam mengambil film saya mempertimbangkan tiga hal: sutradara, pemain, dan kru. Soal alur dan cerita nggak saya pikirkan karena tujuannya untuk belajar. Kapan lagi saya bisa bekerja bareng orang-orang hebat kalau bukan sekarang. Saat ini saya punya bucket list ‘sutradara who I want to work with’, ada Riri Riza, Garin Nugroho, Rizal Mantovani, dan banyak lainnya. Saya pengen mewujudkan itu semua.
Ada perubahan dalam diri setelah dikenal?
Nggak ada, sih, masih sama, hanya lebih banyak yang kenal. Mungkin jadi lebih rapi saja dalam berpenampilan. Biasanya kalau keluar rumah pakai celana pendek dan kaus, sekarang harus lebih rapi, tuntutan pekerjaan. Oh ya, sekarang saya sudah punya tabungan lagi, he he he.
Hubungan dengan fans?
Wah, besar banget arti fans. Sekarang ini sebisa mungkin setiap ada fans yang menyapa saya di medsos pasti saya balas, meski sekadar ‘say hi’. Kecuali kalau sudah mulai annoying biasanya saya cuekin saja. Mereka pemberi dukungan terbesar bagi saya. Kalau ada yang minta saran sukses dan segala macam, sebisa mungkin saya balas. Apalagi kesuksesan ini pun saya dapatkan dari nol.