Penyanyi solo Korea yang baru saja menjalankan konser di Indonesia ini berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya. Yuk, simak wawancaranya dengan CC….
Bagaimana awal mulanya Anda bisa menjadi penyanyi?
Impian saya saat masih anak-anak adalah menjadi produser musik. Padahal, saya nggak bisa main alat musik. Saya belajar piano otodidak, deh. Lalu, saya membuat suatu lagu, dan menganggapnya bagus. Lalu saya berpikir, saya nggak mau lagu saya dinyanyikan orang lain. Saya minta restu, deh, ke bokap untuk jadi penyanyi. Itulah awal mulanya. Saya sempat kuliah musik di Boston, AS, tapi tidak lulus karena harus wajib militer.
Apa hal paling menyenangkan sebagai musisi?
Saya bisa menyanyikan lagu sendiri, orang suka lagu saya, dan mereka menyanyikannya. Saya suka membuat musik—nggak ada beban. Namun, menjadi musisi mau nggak mau menjadikan Anda sebagai seleb. Sebenarnya saya agak kurang nyaman karena harus waspada terhadap setiap momen. Saya nggak bisa keluar kapan pun saya mau, misalnya saat nggak memakai makeup atau saat rambut lagi berantakan.
Jadi, bagaimana Anda mengatasinya?.
Seleb Korea identik dengan penampilan yang fashionable. Apakah itu juga penting bagi Anda?
Ya. Saya suka fashion. Namun, baju saya nggak harus mewah. Brand nggak masalah, yang penting gayanya oke.
Pernah shopping di Jakarta?
Yes, a lot. Maunya, sih, tiap hari, tapi waktu terbatas. Saya nggak membeli Gucci atau LV. Cukup membelinya di Uniqlo, H&M, untuk sekadar membeli kaus.
Bagaimana dengan aksesori?
Waktu masih muda, sih, saya suka. Dulu bisa ada 10 cincin di jari. Tapi sekarang, saya menyimpannya. Terlalu berat, hehehe.
Siapa musisi K-Pop yang paling dekat dengan Anda?
Saya dekat dengan banyak musisi, seperti Fly to the Sky, Super Junior. Namun, yang paling dekat adalah OJ, vokalis dari grup band Click B. Kami sering minum bareng dan ngobrol.
Saat sedang stres, apa yang Anda lakukan?
Tergantung seberapa stres saya. Kalau tingkatnya rendah, cukup mendengarkan musik. Kalau agak berat, jalan keluar, menyendiri di taman atau di pinggir sungai Han.
Kabarnya berat tubuh Anda pernah mencapai lebih dari 100 kg, ya?
Betul, 117 kg lebih tepatnya. Ini terjadi saat saya kuliah. Saya hobi makan di tengah malam, plus minum. Semua oily food saya makan, seperti ayam goreng, hamburger, dan lain-lain. Gendut banget, deh.
Apa yang membuat Anda memutuskan untuk diet?
Dulu, ada cewek yang saya suka ketika kuliah di AS. Ketika kembali ke Korea, saya bertemu dia lagi. Saya pun menyapanya dan mengobrol. Di antara obrolan itu, saya berkata kalau saya sebenarnya menyukainya. Setelah itu, dia langsung berkata. “Kamu, kan, gendut banget. Bagaimana mungkin kamu mengajak aku keluar?” Saat itu saya berpikir, “What?” Lihat siapa yang akan mengajak keluar saya nantinya!”
Saya rasa, kejadian ini sangat memengaruhi saya. Mulai, deh, saya diet dan berolahraga. Setelah 1,5 tahun, berat saya turun 45 kg. Awalnya berat. Saya mengontrol jumlah asupan makanan dan berhenti minum alkohol. Setelah jam enam malam, saya nggak makan. Saya juga olahraga empat jam sehari.
Apakah Anda mengontak cewek itu lagi?
Nggak, karena saya nggak punya nomornya. Tapi seharusnya, sih, dia pernah melihat saya di TV.
Apa, sih, kebiasaan cewek yang paling sulit Anda mengerti?
Cewek Korea, tuh, suka menghabiskan waktu berjam-jam di coffee shop dengan hanya memesan satu cangkir kopi. Kok, bisa, ya? Kalau saya ada di coffee shop selama lima jam, pasti saya sudah memesan lima cangkir. Mereka bahkan nggak meminum kopinya! Saya benar-benar nggak mengerti….
Kapan Anda merasa cool?
Nggak pernah. Hmm, mungkin saat tidur. Menurut nyokap, dia suka melihat saya tidur karena terlihat lelah dan cool, hahaha.
VINI DAMAYANTI - FOTO: JUNARTA TAUFIK