“Saya sudah lama kenal Dee. Sekitar akhir tahun 2012 dia memberikan saya buku Supernova dan menyuruh saya membacanya. So it’s long long time ago. Saat itu dia cuma bilang, kemungkinan buku ini akan difilmkan dan kayaknya ada karakter yang cocok untuk saya,” cerita Arifin kepada CC.
“Ini pengalaman pertama saya memerankan karakter seperti ini. Sempat kaget waktu tahu dipasangkan dengan Hamish, karena baru kenal dengan dia tiga minggu sebelum mulai produksi. Bisa dibilang bagian tersulit selama proses produksi adalah membangun chemistry dengan Hamish,” jelas Arifin.
Alhasil Arifin pun inisiatif sering mengajak Hamish hangout untuk mendekatkan diri. Bahkan Arifin mengaku hampir tiap hari jalan dengan Hamish.
“Tujuannya biar nggak canggung saat di kamera nanti karena hampir semua scene saya bareng dengan Hamish. Meskipun nggak ada jadwal reading, kami tetap jalan bareng dan reading berdua. Pokoknya sampai bosan, deh, ketemu dia, ha ha ha,” ujar Arifin.
Hal lain yang juga jadi kendala bagi Arifin saat syuting adalah soal bahasa. Pasalnya, Hamish yang berdarah Australia-Indonesia lebih terbiasa mengunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari.
“Tapi soal pendalaman dan eksplorasi karakter, Hamish sangat terbuka dan open minded. Dia tipe orang yang mau belajar, jadi nggak begitu sulit. Kami sering kali memberi masukan, dia sangat kooperatif sehingga proses syuting juga enak dan dinamis,” ujar Arifin memuji.
Nggak sabar melihat akting Arifin dan Hamish? Saksikan film Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh di bioskop mulai 11 Desember 2014.