Cari tahu, deh, berapa lama waktu tidur yang kita butuhkan. Apakah kita biasanya kita merasa cukup tidur selama lima jam? Atau harus lebih? Menurut Michael, kita harus setting alarm dihitung dari waktu tidur, bukan setelah kita masuk kamar. Jika kita memang tipikal orang yang harus tidur delapan jam, cobalah tidur lebih awal agar bisa bangun tepat pukul lima pagi. Kita bisa menambah waktu tidur secara bertahap, 15 menit di malam pertama, 30 menit di malam kedua, dan seterusnya.
Majukan jam bangun
Jika kita selalu tergoda untuk menekan tombol tunda, setting alarm beberapa menit lebih awal, misalnya 10 menit. Tapi ingat, setelah bunyi yang kedua, kita harus benar-benar bangun. Boleh, sih, bersantai dulu di tempat tidur selama 1-2 menit setelah alarm berbunyi. Bukan untuk tidur lagi, melainkan ‘meresapi’ apa saja yang harus dilakukan hari ini.
Ngaku, deh, menjelang tidur di kasur kita pasti hobi otak-atik iPad atau ponsel. Entah buat mendengarkan musik, menonton video, atau cek timeline Twitter. Padahal, nih, terkena cahaya biru dari alat elektronik sebelum tidur akan membuat kita sulit tidur. Ujung-ujungnya, nggak mudah bangun pagi, deh. Para ahli pun menyarankan kita untuk mematikan semua alat elektronik satu jam sebelum tidur.
Pentingnya sinar matahari
Di malam hari kita memang nggak dianjurkan untuk terkena cahaya, namun nggak demikian di pagi hari. Mendapatkan sinar matahari di pagi hari bisa membuat otak kita terjaga, tuh, bahkan sebelum alarm berbunyi. Jadi, cobalah membuka tirai jendela agar sinar matahari bisa langsung masuk ke kamar.
Perhatikan kebiasaan tidur
Sudah mencoba cara-cara di atas tapi masih suka menekan tombol snooze? Cobalah cari tahu kebiasaan tidur kita. Jangan-jangan, nih, kita terlalu banyak makan saat makan malam, atau minum kafein berlebih menjelang tengah malam, atau terlalu heboh main gadget sebelum tidur. Jika iya, hentikan kebiasaan ini agar kita nggak lagi memencet tombol snooze! (VIN/FOTO:FOTO SEARCH)