Pada riset tersebut, para peserta diberi luka ringan di lengan dimonitor selama delapan hari. Sebelumnya mereka mengikuti psikotes untuk mengetahui seberapa mudah mereka meluapkan amarah.
Hasilnya, peserta yang nggak bisa mengontrol rasa marah mengalami proses penyembuhan luka empat kali lebih lama dibandingkan mereka yang mampu mengontrol amarah.
Uniknya, nih, peserta yang meluapkan amarahnya secara tidak sadar mengalami penyembuhan luka hampir sama cepatnya dengan mereka yang tingkat kemarahannya rendah.
Menurut para peneliti, perbedaan mas apemulihan ini ditentukan oleh kAdar hormon stres atau kortisol yang dikeluarkan tubuh. Riset itu juga menunjukkan kalau terapi pengendalian rasa marah dapat membantu pasien memulihkan kondisi lebih cepat pasca pembedahan. CC