Banyak yang menganggap lari di pagi hari lebih sehat daripada malam hari, padahal belum tentu seperti itu. Waktu terbaik untuk berlari idealnya disesuaikan dengan jam aktif Anda. Jika Anda bekerja sampai tengah malam, tentunya sangat tidak ideal jika memaksakan diri berlari saat subuh karena tubuh perlu istirahat. Pastikan juga Anda telah cukup tidur sebelumnya (antara 6-8 jam) agar tubuh siap diajak 'bekerja keras'.
Minum hanya saat haus
Saat Anda berlari di udara dingin, tubuh tidak akan banyak mengeluarkan keringat. Hal ini membuat Anda berpikir tubuh tidak memerlukan banyak minum. Padahal, meskipun Anda tidak berkeringat ataupun merasa haus, tubuh tetap membutuhkan air. Cobalah minum setiap 10-15 menit berlari. Jika Anda berlari dengan intensitas sedang lebih dari 30 menit, tidak ada salahnya mengonsumsi minuman isotonik.
Menganggap semua lokasi sama
Tidak peduli polusi
Anda mungkin ingin memaksimalkan waktu berolahraga sehingga memilih berlari ke rumah sepulang kerja. Namun, kondisi jalanan yang penuh asap kendaraan bisa mengancam kesehatan Anda. Karbon monoksida akan masuk ke aliran darah dan hemoglobin tidak bisa mengikat oksigen. Belum lagi debu-debu jalanan siap masuk ke saluran pernapasan. Bisa-bisa, Anda malah mengalami sesak napas, tuh.
Fokus pada lama latihan
Semakin lama Anda berlari, kalori yang dikeluarkan memang semakin banyak. Tapi, Anda bisa lebih efektif jika mengutamakan intensitas daripada lamanya latihan. Daripada berlari terus menerus tanpa henti selama satu jam, Anda bisa mencoba metode HIIT (High Intensity Interval Training).
Contohnya dalam waktu 15 menit, kombinasikan sprint selama 15 detik dan jalan cepat 30 detik berulang kali. Atau jika Anda berlari 30 menit, kombinasikan sprint 2,5 menit dan lari lambat 30-60 detik.