Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Frontiers in Psychology mengungkapkan ketika pasien fibromyalgia mendengarkan musik yang mereka sukai selama 10 menit, detak jantung mereka melambat kurang dari 120 denyut per menit. Para pasien juga mengaku rasa sakitnya berkurang. Kini sudah banyak rumah sakit yang menggunakan musik untuk media terapi sebagai pengganti obat penghilang rasa sakit seperti saat melahirkan, anestesi dan pasca operasi. Musik juga memaksa tubuh melepaskan endorfin yang menetralkan rasa sakit.
Membantu lebih fokus
Kita sering melihat banyak orang bisa bekerja serius saat mendengarkan musik. Faktanya musik memang dapat meningkatkan ketajaman seseorang untuk berpikir dan meningkatkan konsentrasi. Penelitian Stanford University School of Medicine mengungkapkan bahwa musik dari masa Baroq akhir dapat mengubah bagian tertentu di otak yang membuat orang yang mendengarkannya bisa lebih fokus dalam bekerja.
Meningkatkan daya tahan tubuh
Meningkatkan mood
Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Neuroscience, lagu-lagu klasik dapat mendorong pelepasan dopamin dan endorfin, zat kimia dalam otak dan tubuh yang membuat seseorang merasa senang. Karena itulah, saat mendengarkan musik, secara otomatis pendengar akan merasakan timbulnya rasa senang dalam hati.
Meredakan tingkat stres
Banyak orang mendengarkan musik untuk membantu mengatasi stres. Yap musik memang dapat menekan tingkat stres seseorang. Sebuah studi dalam jurnal Ergonomics tahun 2013 mengungkapkan musik dengan irama kencang dan cepat dapat membuat orang bahagia. Sebaliknya, jika ingin suasana yang rileks dan tenang dengarkan musik dengan irama lambat. Bahkan disebutkan, mendengarkan musik slow dapat meningkatkan kemampuan mengemudi seseorang.
Dian Probowati
Foto: TPGNew/Clickphotos, Fotosearch