Sebut saja film ikonik Train to Busan, serial populer Kingdom dan All of Us Are Dead, film #Alive, hingga My Daughter Is a Zombie, yang menyorot cerita zombi dari hubungan ayah-anak.
Di tangan sineas Korea, cerita zombi mengalir menegangkan, dengan plot twist yang out of the box, dan kadang tega mematikan sang tokoh utama yang sudah berjuang mati-matian.
Yeon Sang-ho, sutradara Train to Busan dan Peninsula, kembali dengan film bertema zombi, Colony, yang pemutaran perdananya berlangsung di Festival Film Internasional Cannes, Mei silam.
Sebagian pemainnya pernah bekerja sama dalam projek Yeon Sang-ho sebelumnya (baik film maupun serial), menghasilkan chemistry dinamis di layar lebar.
Profesor Bioteknologi Kwon Se-jeong (Gianna Jun) diajak mantan suaminya, Profesor Han Gyu-seong (Go Soo), menemui bosnya, CEO Chains Bio, Kang Woo-Cheol (Kim Jong-tae), di Gedung Doongwoori, untuk mendapatkan pekerjaan. Istri Gyu-seong, Profesor Gong Seol-hee (Shin Hyun-been), tidak keberatan dengan hubungan mereka.
Di hari yang sama, Seo Young-cheol (Koo Kyo-hwan), ilmuwan yang dipecat dari Chains Bio, menghubungi kontak darurat dan mengatakan bahwa ia akan menyebarkan bioterorisme di Gedung Doongwoori, dan mengatakan dia adalah antidotnya.
Ketika polisi datang ke sana, ternyata Young-cheol telah menyuntikkan virus kepada CEO Kang, yang dalam hitungan detik berubah jadi zombi mengerikan, dan akhirnya membuat orang di sekelilingnya jadi zombi. Sebelum berubah, CEO Kang mengurung Young-cheol di ruang VIP kantornya.
Bersama sekuriti Gedung Choi Hyun-seok (Ji Chang-wook) dan kakaknya yang sedang jalan-jalan di mall dalam gedung itu, Choi Hyun-hee (Kim Shin-rock), serta beberapa pengunjung lainnya, Se-jeong dan Gyu-seong berusaha menyelamatkan diri, dan membuat grup chat untuk berkomunikasi saat harus terpisah. Namun lama-lama mereka menyadari bahwa gerombolan zombi itu pun bisa berkomunikasi secara kolektif.
Di luar gedung, Seol-hee bergabung dalam tim pengendalian aksi bioterorisme ini, dan menemukan bukti-bukti hasil eksperimen ilegal Young-cheol, yang ternyata diterapkannya dalam teror di Doongwoori.
Sementara itu, polisi dan militer tidak langsung menyerbu gedung, karena menganggap semua yang berubah jadi zombi adalah pasien. Mereka harus menemukan Young-cheol dan mengamankannya sebagai antidot, dan polisi yang ikut dalam rombongan Se-jeong pun hanya peduli menangkap Young-cheol.
Film ini menyajikan ketegangan demi ketegangan ketika para manusia harus bisa mengecoh zombi, yang ternyata bisa berkomunikasi dengan pengendali mereka, alias bisa diperintah. Yang bikin bergidik, rombongan zombi ini bisa meniru gerakan targetnya.
Manusia juga punya ambisi tersendiri, bahkan di tengah keadaan menakutkan seperti kepungan zombi. Bersikap jadi pahlawan atau justru mementingkan diri sendiri seperti pisau bermata dua.
Ngeri? Iyalah, tapi seperti biasa, selalu ada elemen humor yang kadang ironis–termasuk selipan cerita tentang bullying–tapi juga realistis.
Meski di 20 menit terakhir cerita ini lebih berat ke film action dibandingkan teror zombi, Colony tetap menghibur dan pantas dapat 7 menit standing ovation di Cannes.
Film Colony (13 tahun ke atas) tayang mulai 3 Juni 2026 di bioskop Tanah Air, dan tiketnya bisa dipesan dari sekarang. (f)
Zornia Harisantoso
Topic
#reviews, #koreancorner