Career
Rendy Pandugo, Raih Popularitas Lewat SoundCloud

15 Jan 2015

Untuk beberapa musisi, bisa dinaungi major label adalah impian yang jadi kenyataan. Bayangan kesuksesan seakan di depan mata, tapi hal ini justru nggak berlaku untuk Rendy Pandugo. Dia pernah kehabisan uang akibat sepinya tawaran manggung.

Menjajal Sekolah Musik
“Ketertarikan saya pada musik sudah dimulai saat saya masih SD di Medan. Om yang serumah dengan kami hobi memainkan gitar sehingga saya tertarik mencobanya. Namun saat itu belum berniat serius mempelajarinya.
“Ketika ayah membawa kami pindah ke Surabaya, saya mengatakan padanya kalau ingin bermain musik. Ayah pun mendukung, saya didaftarkan ke sekolah musik di Surabaya untuk mempelajari gitar klasik.
“Sayangnya selama di sekolah musik, saya nggak suka membaca not balok. Buntutnya saya nggak lulus ujian. Saat pengumuman kelulusan, teman-teman sekelas mendapat nilai tinggi, sementara nama saya ada di urutan terbawah.
“Nggak lama setelahnya, saya memutuskan keluar dan mempelajari gitar elektrik. Untuk menambah skill, saya kembali mendaftar di sekolah musik untuk kursus gitar elektrik. Lagi-lagi hanya bertahan satu tahun karena saya merasa kurikulumnya terlalu lama. Saya justru lebih berkembang jika belajar sendiri atau dengan teman-teman band.”

Sepi Tawaran Manggung
“Walau menyadari bahwa passion di bidang musik, saya merasa masih membutuhkan ilmu lain. Saya pun mengambil jurusan ekonomi manajemen di Universitas Airlangga Surabaya. Sambil kuliah saya tetap bermusik. Bersama band Riviera, saya mengikuti berbagai event hingga ke Jakarta. Namun, saya merasa stuck dengan band itu sehingga memutuskan keluar
“Di akhir masa kuliah, saya bertemu dengan teman lama Iddo Pradananto dan sepakat membuat grup bernama Dida. Akibat nggak juga menemukan vokalis, saya yang tadinya gitaris memutuskan menjadi vokalis.
“Awal karier Dida termasuk mulus. Dondy Sudjono—produsernya RAN—menjadi produser kami sementara materi lagu juga diterima oleh label ternama Universal. Pada 2010, kami pun hijrah ke Jakarta dan mulai memproduksi album.
“Single pertama dan kedua kami cukup terdengar di pasaran. Namun, setelahnya album kami nggak terdengar lagi. Tawaran manggung juga sepi. Jika ada itu hanya bagian dari promo. Saat itu boyband tengah booming sehingga sepertinya kami kalah bersaing.”

Bermusik di SoundCloud
Advertisement
“Sadar nggak bisa hanya bergantung pada manajemen atau label, saya mencoba berjuang sendiri. Jika nama saya nggak terdengar di pasaran, paling nggak harus kuat di media sosial. Saya pun membuat portofolio pribadi di situs berbagi musik SoundCloud.
“Saya lebih memilih SoundCloud karena nggak perlu mengunggah video, cukup rekaman suara saja—pasalnya saya nggak pede di depan kamera, he he he. Nggak ingin hasilnya asal-asalan, walau menyanyikan lagu musisi lain, saya memilih jenis musik yang sesuai dengan karakter suara saya. Saya juga merekamnya di studio rekaman agar hasilnya oke.
“Nggak banyak yang mengenal SoundCloud sehingga awalnya akun saya sepi pendengar. Kondisi ini berubah saat salah satu selebtwit mendengarkan musik unggahan saya dan men-share-nya di akun Twitternya. Akun saya mulai banyak follower-nya. Dalam sehari ada 1.000 pendengar yang berkunjung.

Berkah Uang Rp 20.000
“Banyaknya follower bukan jaminan tawaran manggung berdatangan. Di awal 2014 saya mulai putus asa dan ingin mengakhiri karier musik saya. Timbul keinginan untuk bekerja kantoran agar memiliki gaji tetap. Akibat nggak manggung tabungan saya habis. Bahkan pernah, tuh, di akhir Januari 2014 sisa uang di dompet hanya Rp 30.000 dan di ATM hanya Rp 5.000!
“Lucunya di saat kondisi yang kekurangan itu saya malah bersedekah. Usai salat Jumat, saya menyumbangkan Rp 20.000 ke dalam kotak mesjid. Saya nggak mengharapkan apa-apa saat itu, ikhlas saja.
“Nggak disangka kehidupan saya berubah total sesudahnya. Pada awal Februari tawaran manggung datang dari salah satu kenalan saya. Meski manggungnya seakan nggak ada istirahatnya—dalam sehari saya harus menyanyi selama empat jam hingga suara saya habis—saya lakukan dengan senang hati. Setelahnya undangan menyanyi di berbagai event pun berdatangan.

Dari Soundtrack Hingga Menjadi Juri
“Dari SoundCloud saya mendapat tawaran bermusik seperti menjadi juri Starvoices Indonesia, ajang pencarian bakat menyanyi di SoundCloud. Saya juga mendapat tawaran dari Acha Septriasa untuk menyanyikan soundtrack film yang disutradarainya. Kebetulan Acha menyukai lagu-lagu John Mayer yang saya nyanyikan dan unggah di SoundCloud.
“Saya pun berduet dengan Piyu menyanyikan lagu Firasatku untuk soundtrack film omnibus Aku Cinta Kamu yang diperankan oleh Acha dan Rio Dewanto. Tentu saja ini jadi pengalaman yang luar biasa. Apalagi hingga saat ini saya nggak pernah kehabisan job manggung. Saya berharap akan mendapat proyek yang lebih besar lagi tahun depan.”  






 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?