Foto: Dok. Nin Djani
Buku dan film yang telah lebih dulu populer tentunya menjadi tantangan bagi Nin Djani. “Rata-rata orang sudah tahu jalan ceritanya, sehingga mereka mungkin merasa Opera Ainun akan sama saja. Padahal dalam Opera ini, kita diperlihatkan sisi yang lain dari cerita Habibie & Ainun, yang mungkin lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari,” kata wanita yang menggelar Master of Arts (MA) dalam Studi Asia Tenggara dari Universiteit Leiden dan gelar Bachelor of Arts (BA) di Media Communications dari Goldsmiths, University of London ini.
Tentunya bukan hal yang mudah untuk bisa menggali sosok dan karakter tokoh Ainun mengingat Ainun telah lama wafat. “Semua pihak yang saya wawancarai selalu membicarakan kehebatan, keanggunan, kebaikan hati dan betapa Ainun adalah perempuan, istri, dan ibu sempurna!,” tutur Nin Djani.
Namun dalam mengolah kisah hidupnya menjadi sebuah cerita yang menyentuh, Nin Djani merasa perlu memperlihatkan Ainun sebagai seorang perempuan, seorang manusia apa adanya yang juga mengalami pergolakan batin dan melalui masalah hidup. “Hampir tidak ada anekdot yang menceritakan konflik-konflik itu – mungkin juga karena Ainun adalah sosok yang cenderung tertutup untuk urusan pribadi,” katanya.
Alhasil, dari cerita yang ia kumpulkan, Nin Djani berusaha menyelami pengalaman-pengalaman Ainun melalui sudut pandangnya sebagai wanita bercita-cita tinggi yang memilih untuk menyimpan cita-citanya sendiri demi keluarga serta cita-cita suami yang lebih besar.
“Kami tidak berusaha mengkultuskan sosok Habibie & Ainun, justru kami menampilkan mereka seperti pasangan dan keluarga pada umumnya yang berhadapan dengan masalah pilihan karir, keluarga, jarak, hingga penyakit. Segala permasalahan inilah yang membuktikan Habibie & Ainun memang perlambang cinta sejati.”
Sekitar tiga bulan lamanya Nin Djani gerilya melakukan riset, diskusi dan revisi dalam proses penggarapan cerita Opera Ainun. Isi cerita ini kemudian selanjutnya dikembangkan lagi menjadi naskah oleh Titien Wattimena.
Setelah merampungkan proyek Ainun, Nin Djani juga baru saja merampungkan proses penulisan dan penyuntingan buku fashion photography berjudul CHRYSALIS yang merupakan hasil kolaborasinya dengan Atreyu Moniaga Project.
“Selain itu, sudah ada rencana untuk kurasi pameran tunggal dari seorang seniman dan kolaborasi penulisan buku bersama ilustrator lainnya – tapi saat ini saya belum bisa cerita banyak dulu!,” katanya sambil mengakhiri wawancara dengan femina. (f)
Baca Juga:
Opera Ainun Memberdayakan Warga Binaan Lapas
Ari Tulang Sempat Kesulitan Mencari Pemeran untuk Opera Ainun
Yayasan Orbit Meneruskan Semangat Ainun untuk Mencetak Seribu Habibie Muda
Topic
#operaainun, #senipertunjukan