Femina, sebagai platform yang tumbuh dalam lintas generasi perempuan Indonesia, berusaha terus relevan sambil menjaga makna dalam memberikan informasi kepada perempuan Indonesia yang berdaya, bergaya, dan berbudaya.
Tak heran jika pandangan ini juga diteruskan oleh Wajah Femina 2025, terutama oleh Nawasi Laisha Ramadhania, Pemenang I Wajah Femina 2025, yang menyebut perannya sebagai sebuah amanah.
“Ini berat, tapi sangat respectable. Ada integritas yang harus terus aku uphold, baik dalam berkarier maupun beredukasi,” ujar perempuan yang akrab disapa Nawa itu.
Baginya, menjadi representasi Femina berarti menjaga nilai yang diwariskan lintas generasi—dari ibu, nenek, hingga perempuan-perempuan di sekitarnya—bahwa perempuan bisa multitasking, berdaya, dan tetap berpegang pada hati nurani.
Di tengah banjir informasi, Nawa menekankan satu kebiasaan mendasar, membaca. Tidak harus buku berat; artikel, cerita pendek, koran, atau media digital pun sah, selama substansinya ada. “Dengan membaca, critical thinking berkembang dan empati terasah,” katanya.
Membaca menjadi pintu untuk mengurasi berita, memahami konteks, dan menyadari bahwa satu kabar selalu punya banyak sisi. Rasa ingin tahu, menurutnya, adalah jalur belajar paling jujur—membuat seseorang tidak mudah percaya, tidak lekas menelan headline yang hiperbola, dan terbiasa mengecek sumber serta kredibilitas.
Pengalaman personalnya di lingkar keluarga dan pertemanan menguatkan pesan itu. Diskusi soal isu terkini kerap berangkat dari kebiasaan membaca dan memeriksa ulang.
Ia bercerita tentang sang kakak yang berprofesi sebagai jurnalis, yang kerap mengajak keluarga menelaah video, mengamati editing, dan mempertanyakan asal kabar. “Jangan cuma baca judulnya,” kata Nawa menirukan nasihat itu.
Literasi fungsional—membaca lalu memahami dan memecah makna—menjadi bekal penting agar publik tahu kapan sedang disesatkan dan kapan perlu mencari rujukan lain.
Nawa juga mengajak Sahabat Femina untuk mengonsumsi beragam konten: Kisah progres, proses di balik sukses, karya seniman perempuan, hingga ekspresi seni yang out of the box.
“Kita jadi tidak gampang berasumsi bahwa sukses itu instan,” katanya. Dukungan dan kebanggaan antarsesama perempuan, menurutnya, adalah energi yang mencerahkan—menguatkan diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Nada optimisme itu berpulang pada satu prinsip: Membuka pikiran. “Beritanya harus bermanfaat dan tidak menjatuhkan satu sudut,” Nawasi menegaskan. (f)
Baca juga:
5 Tip Mengisi Waktu Libur dari Nawasi Laisha Ramadhania
Positive Vibes Pemenang I Wajah Femina 2025, Nawasi Laisha Ramadhania
Ida Yulidina Menemukan Inti Diri dalam Pengabdian untuk Keluarga
Laili Damayanti
Topic
#WajahFemina, #PerempuanBersuara