Foto: Peter F Momor
Komersial Bukan Festival
Siang itu, di ruang kerjanya yang berukuran besar dan menempati hampir setengah lantai 10 Gedung MD Entertainment yang tertata rapi, Manoj Punjabi (43) menyapa femina. Seulas senyum terukir di wajah pria yang sudah 10 tahun belakangan ini konsisten mengembangkan bisnis production house miliknya, MD Entertainment. Dalam balutan kemeja dan blazer formal, gayanya sehari-hari, Manoj lalu mengajak femina berbincang santai di meja kerjanya yang terletak di sudut ruangan.
Di atas meja panjang berukuran 2x1 m itu, ada satu sisi yang menarik perhatian femina: tumpukan kertas putih dengan judul besar berwarna hitam bertuliskan: Ayat-Ayat Cinta 2. “Ya, ada rencana untuk membuat sekuel film Ayat-Ayat Cinta. Sekarang saya sedang dalam taraf membaca skenarionya,” kata Manoj, menjawab rasa penasaran femina.
Bisa dibilang, Ayat-Ayat Cinta adalah titik tolak yang kemudian mengubah arah Manoj dalam memproduksi film. Film yang diangkat dari buku dengan judul serupa karya Habibburrahman El Shirazy ini mampu bertahan lama di bioskop dan ditonton oleh lebih dari 3,8 juta orang. Ini tentu saja pencapaian yang membanggakan, mengingat kala itu dunia film Indonesia sedang melempem. Tak banyak film produksi lokal yang bisa menarik perhatian masyarakat untuk datang ke bioskop.
Sebenarnya, Ayat-Ayat Cinta merupakan proyek film pertama Manoj. Tapi, karena waktu produksinya yang cukup lama --memakan waktu dua tahun lebih-- akhirnya film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini baru benar-benar tayang pada tahun 2008. “Waktu pertama kali mendapat kabar tentang buku ini, saat itu saya sedang berada di Amerika. Waktu itu public relations saya bilang, ‘Pak, ada buku baru, ini lebih dari Harry Potter!’ Tidak sampai satu menit dia cerita, saya langsung menyuruhnya untuk mengejar penulisnya,” ungkap pria yang mengaku selalu menomorsatukan instingnya dalam memilih sebuah cerita ini.
Cerita Ayat-Ayat Cinta yang Manoj percaya akan disukai publik pun akhirnya menjadi sebuah film yang fenomenal. Bahkan, menjadi trend setter lahirnya film-film dengan sentuhan Islam. “Hanung sempat bertanya, mengapa saya ingin membuat film tersebut. Maklum, saat itu memang film itu seperti game changer, belum ada orang yang membuatnya. Tapi, saya melihat mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, jadi saya tidak melihat ada alasan yang tidak tepat untuk memproduksi film ini. Kalau film ini berhasil dan disukai banyak orang, saya bisa mendapatkan banyak kebaikan dan doa,” kata pria yang juga memproduseri film Di Bawah Lindungan Ka’bah ini.
Sejak penayangan film yang diperankan oleh Fedi Nuril dan Rianti Cartwright ini, peta perfilman Indonesia seakan berubah haluan. Tren film horor yang sebelumnya dianggap paling bisa menarik minat penonton dan menghasilkan keuntungan dalam waktu cepat, telah bergeser. Para produser dan pembuat film justru berlomba membuat film dengan tema religi.
“Bagi saya, kesuksesan film ini membuat saya berpikir lebih matang. Kita memang harus lebih serius lagi membuat film berkualitas. Walaupun dulu, dalam perjalanan membuat Ayat-Ayat Cinta, saya juga memproduksi beberapa film horor. Saya memandang hal itu sebagai cara saya berproses,” ungkap pria yang sempat memproduksi film horor, seperti Suster Ngesot, Hantu Jembatan Ancol, dan Lawang Sewu ini.
Sepuluh tahun berkecimpung di dunia perfilman membuka matanya untuk melihat kenyataan yang sebenarnya membuatnya prihatin sebagai salah satu pelaku industri kreatif ini. Jika tidak ingin dibilang jalan di tempat, perfilman Indonesia masih merangkak dengan lamban. Banyak masalah yang belum mendapatkan perhatian baik dari pelaku industri itu sendiri, maupun pemerintah. Selain soal hak cipta, ia paling khawatir dengan menurunnya minat penonton untuk menonton film lokal.
“Seharusnya ketika ada film yang bisa menarik banyak penonton, saat itulah kepercayaan publik terhadap film nasional meningkat. Momen ini yang seharusnya dimanfaatkan dengan menggempur pasar dengan film-film yang bermutu dan bisa mengikuti selera pasar,” ujar Manoj. Dengan jujur ia mengatakan bahwa tujuannya adalah bukan membuat sebuah film festival, melainkan film yang komersial yang targetnya jelas: ditonton jutaan orang!
Rasanya tak berlebihan bila menyebut bahwa tekad itu pula yang menjadi salah satu faktor penting yang membawa beberapa film produksi MD Pictures menduduki peringkat tertinggi dalam pengumpulan jumlah penonton. Sebut saja film Habibie dan Ainun, yang memecahkan rekor film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak, mencetak angka 4,7 juta. Film terbarunya, Merry Riana, yang tayang di bioskop pada akhir tahun 2014, berhasil mencapai 750.000 penonton.
Komitmen Panjang
Berasal dari keluarga yang memiliki nama besar di dunia perfilman, bukan berarti langkah pria penggemar film Titanic ini mulus ketika terjun ke bisnis film. Sempat tak didukung keluarga, ia pun memilih bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pulp and papper. Tak bertahan lama, baru tiga bulan ia sudah memutuskan untuk keluar karena merasa tidak sejalan dengan hatinya.
Ia lantas banting setir dengan menjadi pengusaha. Mulai dari usaha tekstil, membuat pakaian jadi, hingga harus keluar masuk Pasar Tanah Abang pernah ia jalani. Tapi, ia merasa, semua itu tidak sesuai dengan jiwanya.
Dua tahun jadi kutu loncat dalam bisnis, ia akhirnya mengikuti jalan hatinya: memilih bekerja di dunia perfilman. Ia lantas bergabung dengan Multivision, yang kala itu menjadi production house (PH) besar di Indonesia. Tujuh tahun bekerja di perusahaan milik keluarga tersebut, karena alasan berbeda visi, Manoj dan sang ayah, Damond Punjabi, akhirnya memutuskan untuk keluar dari Multivision dan membuat PH sendiri.
Di sinilah perjuangannya membangun MD Entertainment dimulai. “PH baru tapi kami punya kantor di Tanah Abang. Ini sebuah langkah yang besar, karena saya mau apa yang saya mulai itu benar-benar jelas, bukan hit and run. Target kami kan untuk jangka panjang,” katanya.
Tak mengherankan jika kemudian hidupnya habis di urusan pekerjaan. Tiap hari ia bisa bekerja 17-18 jam karena ingin memberikan hasil yang maksimal pada sinetron yang ia garap. Kalau sedang proses editing sebuah sinetron, ia bahkan bisa bekerja lebih dari 24 jam. Ia berprinsip, dengan memperhatikan secara detail di tiap produksinya, akan memberikan hasil yang maksimal. Bahkan, untuk teknik lighting di sinetronnya saja, ia mengaku melalui tahap panjang untuk mendapatkan yang sesuai dengan keinginannya.
“Membangun bisnis ini butuh passion dan minat yang kuat. Tidak bisa setengah-setengah. Itu sebabnya, semua yang saya butuhkan saya bentuk sendiri. Termasuk ketika membangun kerja sama, saya menginginkan yang long term, jadi butuh win-win negotiation,” kata pria yang menghasilkan 1.500 - 2.000 jam tayang sinetron per tahun ini.
Berkat kerja keras dan persistensinya itu, bukan kejutan jika hanya dalam waktu dua tahun saja sinetron produksinya mengisi slot premium berbagai stasiun televisi swasta. Eksistensinya dalam dunia sinetron makin bersinar ketika sinetron produksinya, seperti Bawang Merah Bawang Putih, Si Yoyo, Hikmah, dan Cinta Fitri, meraih rating teratas. Bahkan, Cinta Fitri disebut-sebut sebagai sinetron tersukses karena mampu menembus 1.000 episode.
Tentang Cinta Fitri, Manoj mengaku sinetron ini bisa bertahan panjang karena kemampuan membangun karakter pemainnya yang sangat kuat. Digabung dengan cerita yang berlatar kejadian sehari-hari, sinetron ini pun punya penggemarnya sendiri, yang jumlahnya fantastis. Meski tak sedikit orang yang mencibir pada keberadaan sinetron Indonesia, bagi Manoj semua itu seperti tempaan yang membuatnya ingin selalu menjadi trend setter.
Kerja keras pula yang membuat Manoj melangkah dengan cepat di industri ini. Jika awalnya ia menargetkan bisa membangun fondasi yang kuat bagi bisnisnya selama empat tahun, ternyata baru dua tahun ia sudah mampu melewati targetnya. Fondasi yang kuat inilah yang membuat ia optimistis untuk melebarkan fokus bisnisnya, tak lagi hanya sinetron, tapi juga layar lebar.
Tahun 2006, di tengah-tengah penggarapan Ayat-Ayat Cinta, Manoj melempar film Kala ke pasaran. Inilah produksi film pertama yang berhasil ia selesaikan. Dari segi penonton, Kala memang tidak mendatangkan banyak penonton. Tetapi, ia tidak menyesal, karena ia merasa harus memproduksi film itu sebagai cara ia belajar. Terbukti, setelah itu film-film MD Pictures mengantarkan Manoj sebagai sosok yang ikut memengaruhi industri film nasional. Belakangan ini ia juga mengembangkan MD Animation, yang menggerakkan tumbuhnya film animasi di Indonesia.
Lima belas tahun lebih berkecimpung di dunia ini, ia pun sudah punya formula sendiri tentang apa yang menjadi minat pasarnya. “Kemasannya bisa berbeda dan mengikuti zaman, tapi cerita drama dengan konflik keluarga itulah yang diminati pasar,” ungkap Manoj, yang cukup 2 menit membaca untuk tahu skenario yang komersial atau tidak.
Tak jauh dari meja kerjanya, terdapat dinding yang dipenuhi layar televisi yang tersusun rapi. Tiap layar menampilkan satu stasiun televisi. Sambil berbincang, sesekali ia melihat ke layar televisi. Dari sini, ia bisa memantau tayangan sinetron, termasuk yang diproduksi oleh PH miliknya.
Ada satu cita-cita yang hingga kini masih menjadi target besarnya, yaitu menembus pasar Hollywood. Untuk itu, Manoj mengaku sedang mencari formula yang pas. “Membawa nama saya ke Hollywood berarti saya harus benar-benar terjun, membuat film di sana yang sesuai dengan tipe pasar mereka. Bukan membawa film Indonesia ke Hollywood,” ungkap penggemar film India, Kutch Kutch Hota Hai, dan 3 Idiots ini, yakin.
Faunda Liswijayanti