Berbekal kenangan masakan ibu, passion terhadap bumbu khas Nusantara, dan satu unit food truck, ia mendedikasikan diri untuk membawa cita rasa Indonesia dekat di lidah warga Amerika Serikat. Mei 2015 lalu, usahanya yang satu ini bahkan telah membawanya pada sebuah kemenangan, dengan hadiah 10.000 dolar AS di Chopped, salah satu reality show memasak dengan rating tinggi di Amerika Serikat. Kini, ia makin dekat dengan impian besarnya.
BANYAK SALAH KAPRAH
“Apakah masakan Anda merupakan campuran antara masakan Thailand dan Filipina?” Pertanyaan warga lokal di Seattle ini membuat Hilda terkejut. Apalagi saat mengingat bahwa semua masakan buatannya adalah masakan asli Indonesia.
Meski sempat kecewa, kesalahkaprahan ini terbilang wajar. Sebab, kebanyakan masakan Indonesia justru dikenal warga Amerika lewat restoran negara ASEAN lainnya. Satai misalnya, justru banyak dijual di restoran Thailand, sementara rendang banyak ditemukan di restoran Malaysia.
“Selama ini mereka menyangka bahwa satai adalah masakan Thailand, dan lumpia itu dari Filipina,” ujar Hilda, gemas. Kekecewaan ini pula yang melatari bisnis makanan yang ditekuninya. Berawal dari berbisnis katering kecil-kecilan berdasarkan pesanan teman, ia mulai memberanikan diri untuk membuka stan di Farmers Market. Hingga, pada tahun 2011, ia tertarik untuk menjajal bisnis makanan dengan menggunakan food truck, yang waktu itu sedang booming di Seattle, AS.
Iklim bisnis yang sedang mekar makin membuat ibu tiga orang putri ini bergairah dengan misi kecil nasionalisnya. Memakai nama Bumbu Truck, sejak tahun 2011 ia membawa berbagai masakan selera Nusantara ke penjuru Seattle. Nama Bumbu Truck diambil dari istilah Indonesia, yaitu bumbu. Kata ini dipilih atas usulan putrinya, Alexa, yang memang paling sering dimintai tolong untuk berbelanja bumbu. Menurutnya, nama ini juga cukup catchy di telinga orang asing.
“Harapannya, masakan Indonesia tidak kalah populer dari masakan Thailand dan Vietnam,” ujar Hilda, tentang misinya. Ia merasa bahwa pemerintah harus lebih serius lagi dalam mengelola kekayaan kuliner Indonesia. “Jangan mau kalah dari pemerintah Thailand dan Malaysia yang telah membuat gebrakan lewat Culinary Diplomacy sejak awal tahun 2002,” imbuh Hilda.
Menurutnya, dengan inisiatif ini, pemerintah Thailand mendukung warganya yang tinggal di luar negeri untuk membuka restoran. Langkah kreatif ini berhasil membuat pertumbuhan restoran Thailand di seluruh dunia melonjak, dari 5.500 di tahun 2002 menjadi 10.000 di tahun 2013. “Saya berharap kemenangan saya di Chopped bisa menjadi jalur pembuka untuk menginisiasi Culinary Diplomacy,” harap Hilda.
TIDAK MUDAH
Serving authentic Indonesian Street Food to the greater Seattle area. Kalimat ini menjadi gebrakan awalnya untuk menarik rasa penasaran dan minat konsumen lokal. Makanan kaki lima populer dirasa cukup pas dengan konsep bisnis food truck. Tetapi, embel-embel ‘street food’ tidak lantas membuat mereka abai dengan kualitas rasa.
Hilda beruntung bahwa di Seatlle dan sekitarnya, bumbu-bumbu khas masakan Indonesia cukup mudah didapat. Bumbu-bumbu dasar yang selalu dibutuhkan, seperti kemiri, terasi, daun salam, daun jeruk, dan gula jawa selalu tersedia. Tetapi, bumbu seperti asam kandis, daun kunyit, dan kencur tidak tersedia. “Terpaksa saya minta tolong Mama untuk mengirim langsung dari Indonesia,” ujar Hilda, tentang komitmennya untuk menjaga cita rasa autentik masakan Indonesia buatannya.
Baginya, tantangan terberat mewujudkan impiannya ini adalah masalah perizinan, baik dari Departemen Ketenagakerjaan & Industri maupun Departemen Kesehatan. “Butuh setidaknya satu tahun sebelum truk kami bisa beroperasi,” ujar Hilda. Peraturan-peraturannya memang sangat ketat. Ia harus menyerahkan layout dari sistem pembuangan air hingga listrik dan sistem perapian. Semuanya harus dipertimbangkan demi keselamatan konsumen dan pekerja di food truck itu sendiri.
Apabila mendapat izin dari Departemen Ketenagakerjaan & Industri, barulah mereka bisa mengajukan perizinan ke Departemen Kesehatan. Kali ini, pengalaman perizinan membuka stan di Farmers Market sedikit meringankan mereka. Intinya, penyajian dan kebersihan makanan harus terjamin.
“Suhu makanan harus benar-benar diperhatikan dan dijaga,” jelas Hilda. Makanan panas harus dijaga agar dimasak pada suhu lebih dari 145 derajat Fahrenheit. Sementara bahan-bahan mentah harus disimpan di pendingin bersuhu kurang dari 40 derajat Fahrenheit. “Harus selalu ada air panas, sabun, dan paper towel untuk mencuci tangan,” tambahnya. Setelah semua syarat kelengkapan ini beres, barulah food truck-nya bisa berjalan.
Kerja kerasnya tidak sia-sia. Lidah warga Amerika yang gemar bertualang rasa menggugah rasa penasaran dan minat untuk mencicipi masakannya. Hilda memanjakan mereka dengan berbagai pilihan menu. Ada mi goreng Jawa, nasi goreng, sate, dan appetizer seperti lumpia dengan isian kari daging sapi, serta lumpia rebung yang bisa dibeli tiap harinya.
Ada juga menu spesial yang berganti tiap minggu. Jenisnya bisa dipantau lewat media sosial mereka di Facebook (Bumbu Truck) dan Twitter (@bumbutruck). Saat tulisan ini dibuat, Hilda tengah menyajikan gudeg Yogya, lengkap dengan sayur nangka legit, sambal goreng kerecek, telur bulat, dan opor ayam. Lain waktu, ia menyajikan nasi Padang, nasi bakar komplet, dan talapia woku plus bakwan jagung, makanan khas Manado. Memang, dalam dirinya mengalir darah Manado dari sang ibu, Elly R. Doodoh.
Ketakutan awalnya, bahwa masakannya kurang bisa diterima lidah warga lokal karena spicy, tidak terjadi. Sebaliknya, dari aliran komentar di media sosial terlihat banyak pelanggan yang suka, bahkan kangen dengan beberapa menu spesialnya. Salah satu menu yang menjadi bestseller adalah Undecided Combo, atau ‘kombinasi plin-plan’ yang terdiri dari nasi goreng, mie Jawa, satay ayam, dan lumpia. Menu ini muncul karena seorang pelanggan kebingungan memilih menu.
“Saking senangnya, salah satu pelanggan pernah memberikan tip 2.000 dolar AS! Ini yang membuat kami makin semangat,” ungkap Hilda senang, kerja kerasnya mendapat apresiasi yang baik.
MODAL NEKAT
“See you in New York and good luck….” Kalimat yang diucapkan oleh salah satu kru reality show Chopped ini membangunkannya dari ruang antara mimpi dan nyata. “Saya benar-benar nervous. Selama dua bulan itu saya terus berdoa dan mengikuti semua episode Chopped untuk mempelajari jalannya pertandingan.
Chopped adalah salah satu reality show memasak yang memiliki rating tinggi di kanal Food Network. “Pada akhirnya saya hanya bisa berdoa, ‘Apabila ini betul-betul dari-Mu Tuhan, beri saya kemampuan,” ujar Hilda saat itu.
Bertemu kontestan lain justru membuatnya makin merunduk. Bagaimana tidak, dua kontestan asal NY dan Seattle adalah chef berpengalaman di sebuah restoran. Sementara kontestan lain dari Chicago berpengalaman membuat dessert. Ketika peserta yang lain datang dengan satu set pisau profesional khusus untuk chef, ia hanya datang dengan pisau dapur biasa.
“Latar belakang pendidikan saya adalah bisnis dan komputer,” ungkapnya. Pengalaman memasak pun didapatnya karena desakan rasa kangen pada masakan tanah air, saat masih menyelesaikan pendidikan di Seattle. “Apalagi, saat pertama saya datang di tahun 1992, belum ada gerai makanan Indonesia. Jadi, mau tidak mau saya harus masak sendiri,” ceritanya, geli.
Rupanya, masakannya banyak menuai pujian dari teman-temannya. Sampai ia berani menerima pesanan kecil-kecilan sewaktu magang bekerja di IPTN North America. Ia mulai terjun total di dunia kuliner sejak suaminya kena PHK.
“Makanya, saya sempat risi, bahkan protes, meminta agar tidak dipanggil dengan sebutan ‘chef’ saat mengikuti Chopped,” katanya. “You better get used to it,” adalah jawaban mereka, yang sekaligus membongkar cara pandangnya tentang profesi chef. Sebab, pada akhirnya, lebih dari soal teknik memasak, passion, kreativitas, dan kualitas rasa juga menjadi hal utama. Alhasil, dengan lantang ia berseru, “Saya datang untuk menang!” yang diucapkan dalam bahasa Indonesia.
Di awal acara Hilda mengatakan bahwa salah satu niatnya mengikuti reality show ini adalah untuk memperkenalkan masakan Indonesia. Tekadnya ini langsung diuji. Hanya dalam waktu 20 menit, ia harus membuat menu lengkap, dari makanan pembuka, utama, hingga penutup. Tantangan makin berat saat bahan-bahan yang tersedia cukup ajaib, yaitu nasi campur Korea, hot dog, selada warna-warni, dan kacang garbanzo.
Di luar dugaan, nasi dan sambal goreng daging olahannya berhasil merebut lidah juri, sehingga ia menyisihkan sesama pesaingnya dari Seattle. Hidangan pembukanya berhasil menyisihkan chef asal New York, sementara itu dessert bolu santan, setup nanas blueberry dan saus nutella buatannya sukses menggeser satu-satunya kontestan yang tersisa. Hadiah uang tunai 10.000 dolar AS itu pun jatuh ke tangannya.
Ia mempersembahkan kemenangan ini untuk sang mama. Wanita pekerja keras yang membuatnya belajar untuk gigih dan tidak mudah menyerah. Kenangan lidah terhadap masakan lezat yang diolah dengan penuh cinta oleh sang ibulah yang menginspirasinya. Kini, dengan dukungan penuh dari pasangan hidup dan rekan kerjanya, Tino Syamsir, dan ketiga putrinya: Alda (20), Alexa (18), Aubrey (15), Hilda siap mewujudkan mimpi terbesarnya, menjadi duta kuliner Indonesia lewat tiap masakan olahan tangannya.(f)