Dok. Femina Media / Shinta Meliza
Walau dalam pekerjaannya harus berkutat dengan sampah, Aretha merasa tak masalah. “Saya merasa ini menjadi ikigai (makna hidup) saya. Saya selalu merasa excited ketika harus memikirkan solusi yang terbaik untuk mengatasi masalah sampah ini dengan kondisi di tanah air yang ada,” ujarnya, penuh semangat.
Aretha mengingat betul bagaimana dulu saat kuliah S-2 di Belanda, seorang dosen yang bercerita tentang kiprah UN Environment Programme, membuatnya sangat tertarik pada industri ini. Bahkan, ia juga bermimpi untuk bisa bekerja di lembaga tersebut. Mimpinya tersebut membawa Aretha untuk mengenyam pendidikan S-3 di Jepang dengan fokus pada ilmu waste energy.
Pada tahun 2005, Aretha akhirnya menyadari bahwa masalah persampahan adalah problem yang besar bagi negara berkembang, khususnya Asia. “Bahkan, sektor ini dianggap aneh, padahal di dunia internasional sudah jadi pembicaraan. Kemudian saya pikir, bagaimana di Indonesia, ya? Dari sini saya makin tertarik menyelami ilmu ini dan berupaya agar bagaimana Indonesia bisa mengadopsi pemilahan sampah dari sumbernya, hingga akhirnya sampailah saya di sini,” kenangnya.
Namun memang, dalam menjalani kariernya, tak jarang dirinya dianggap aneh. Bahkan, ia kerap diledek oleh suaminya, Dr. Nuki Agya Utama, atas pekerjaan yang telah membesarkan namanya tersebut.
“Suami saya selalu meledek, masa princess mainnya ke landfill? Tapi, saya justru menganggap ini adalah pekerjaan yang menarik. I’m fine and it’s fun,” katanya, sambil tertawa. Memang, aroma tak sedap dari sampah-sampah yang harus ditelitinya tersebut tak bisa dihindari. Namun, dapat bertemu dengan banyak orang, baik itu pemulung maupun petugas Dinas Lingkungan Hidup, memberikannya banyak perspektif menarik tentang sampah.
Tugasnya untuk meneliti sejumlah tempat pembuangan sampah memberikan warna yang menarik. Misalnya, ketika mengunjungi TPA Bantar Gebang, Bekasi, memberikannya pandangan yang berbeda tentang banyak hal.
Hal ini menyadarkannya bahwa tanah air sudah darurat sampah dan membutuhkan solusi nyata, bukan omongan belaka. Karena masalah persampahan ini seperti bom waktu, kalau tidak ditangani cepat, akan membuat kita tenggelam dalam sampah. Inilah yang membuatnya memiliki perhatian besar pada permasalah sampah dan lingkungan.
Menurut Aretha, sebagai wanita, ia merasa memiliki sifat altruism yang membuatnya lebih memperhatikan permasalahan lingkungan. “Sifat ini seperti nature-nya wanita. Kita merasa ingin mengayomi dan mengurus, salah satunya alam dan lingkungan, agar menjadi lebih baik,” paparnya.
Telah mengenyam pendidikan tertinggi, berkarier di dunia internasional, hingga kembali ke tanah air mengikuti panggilan hatinya, tak lantas membuat Aretha puas. Salah satu goal besar dirinya adalah ingin bisa menjadi decision maker.
“Karena, sekarang ini decision maker itu government driven. Industri ini mau ngomong apa, tapi pemerintah tidak mendukung, ya, akan sulit. Maka, harapan saya ingin bisa masuk ke dalam ranah itu di kancah nasional,” paparnya. (f)
BACA JUGA :
Ratih Citra Sari, Menembus Belantara Demi Membantu Pasien Korban Bencana
Tiza Mafira, Perintis Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia Mendapat Apresiasi Badan Lingkungan PBB
Untung Berlipat Bisnis Jamur Tiram
Topic
#ArethaAprilia