Foto: Nuri Fajriati
Di putaran final Piala Thomas yang baru berakhir 22 Mei lalu, pemain yang pada tanggal 20 Oktober mendatang akan genap berusia 20 tahun ini juga tidak mengecewakan harapan pendukung Indonesia. Dia selalu menang hingga semi final dan membawa Indonesia ke final. Meski ketika melawan Denmark Anthony harus mengakui keunggulan pemain peringkat 5 dunia, Jan O Jorgensen, dirinya tetap mendapat pujian dari Ketua Umum PP PBSI, Gita Wirjawan.
Kini, pria keturunan Medan dan Jawa ini akan bermain di turnamen BCA Indonesia Open Super Series Premiere 2016 yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, 30 Mei – 5 Juni. Kepada Femina, penggemar Taufik Hidayat ini menceritakan kiprahnya di bulu tangkis dan harapannya di masa depan….
Bagaimana awalnya Anda bisa terjun ke bulu tangkis?
Kalau berdasarkan cerita ayah, sih, dia sering membawa saya ke GOR ketika dia dan teman-teman kantornya bermain bulu tangkis. Saat itu mungkin saya berusia 5 atau 6 tahun. Ketika saya ikut pukul-pukul kok, ada pelatih dari salah satu klub yang melihat saya bermain. Dia pun menyarankan ayah untuk memasukkan saya ke klub karena dia melihat peluang saya untuk menjadi juara. Sejak itulah saya masuk ke klub Tunas Bandung, yang kemudian bergabung dengan SGS Bandung.
Perjalanan Anda menuju pelatnas…
Setahun atau dua tahun setelah masuk klub, saya mulai menunjukkan prestasi di tingkat sekolah. Hingga akhirnya saya mewakili Jawa Barat di Kejuaraan Nasional yang berlangsung di Solo di tahun 2012. Saya berhasil masuk semifinal untuk kategori taruna, bersama Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, dan Thomi Azizan Mahbub. Empat pemain yang masuk semi final pun direkrut langsung ke pelatnas.
Di babak final Piala Thomas kemarin, Anda kalah dari Jan O Jorgensen. Ini lebih karena tegang, atau memang teknik Anda masih di bawah Jan?
Lebih ke teknik, sih. Jan adalah pemain top ten, yang tentunya punya teknik bagus dan berpengalaman. Saat itu, saya bermain kurang sabar karena Jan terus bisa mengembalikan bola. Akhirnya, saya mati sendiri.
Di babak pertama Indonesia Open besok, Anda menghadapi Jan kembali di babak pertama. Ada persiapan khusus?
Yang jelas, saya harus bermain tenang dan sabar. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik.
Menurut Anda, apa kelebihan dan kekurangan Anda?
Saya memiliki permainan menyerang, jadi senjata saya adalah smash dan netting. Namun, saya suka kurang sabar dan membuat kesalahan sendiri jika lawan nggak ‘mati-mati’. Banyak yang bilang, ini penyakit pemain muda, he he he.
Bagaimana cara Anda mengendalikan emosi?
Berdoa. Pernah, tuh, saat latihan saya juga merasa nggak ‘in’. Hasilnya, saya merasa stres dan kesal. Latihan saja begini, bagaimana di pertandingan nantinya? Berdoa dapat menenangkan pikiran dan hati. Yang penting, senang dulu saat latihan agar nantinya bisa bermain enak.
Siapa teman dekat Anda di pelatnas?
Jonatan dan Ihsan. Maklum, kami sering bertanding bareng, begitu juga saat latihan. Hari Rabu, di saat hanya latihan setengah hari, kadang kami pergi di sore hari. Kadang buat menonton film, kadang sekadar untuk makan.
Sekarang Anda sudah punya penghasilan sendiri. Bagaimana mengelolanya?
Saya memberikannya kepada ibu. Nantinya, penghasilan ini disimpan, entah buat rumah atau investasi. Saya sejujurnya nggak berani memegang banyak uang. Selain takut habis, ngeri dipakai untuk hal-hal yang nggak benar. Tinggal di Jakarta, kan, banyak godaan, he he he.
Punya hobi yang menghabiskan banyak uang?
Saya bukan anak game, kurang suka otomotif, dan nggak mengoleksi suatu hal. Paling-paling, saya menghabiskan uang untuk makan.
Jadi, bulu tangkis prioritas utama Anda saat ini? Bagaimana dengan pacar?
Bulu tangkis nomor satu. Pacar, sih, belum, ya….
Nggak pernah mengalami cinlok dengan sesama pemain pelatnas?
Nggak, tuh. Kayaknya akan bosan kalau pacaran dengan anak pelatnas, ketemu terus, he he he.
Anda digadang-gadang sebagai pemain harapan Indonesia. Apakah ada perasaan terbebani?
Tidak. Saya justru bersyukur banyak yang mendukung saya. Jika orang lain saja yakin saya bisa menjadi yang terbaik, kenapa saya justru tidak meyakininya?
Siapa role model Anda?
Taufik Hidayat. Semua orang tahu dia punya prestasi yang membanggakan. Saya tentunya berharap bisa seperti dia.
Apa target Anda selanjutnya?
Saat ini saya berperingkat 22 dunia. Harapan saya, bisa segera masuk top 20 dan mulai bisa menjuarai turnamen-turnamen dunia. (f)
Topic
#bulutangkis