Profile
A.A Istri Putri Dwi Jayanti, Putri Sulamit Denpasar yang Menginginkan Kesetaraan untuk Kaum Tuli

29 May 2017


Foto: AL, Dok. Putri Sulamit

Terpilih menjadi Putri Sulamit Denpasar merupakan kebanggaan tersendiri bagi A.A Isti Dwi Jayanti (20). Bersama enam Putri Sulamit lainnya, wanita yang akrab dipanggil Gektri ini ingin menginspirasi wanita Indonesia untuk membuat perubahan berarti di lingkungannya masing-masing. Gektri sendiri memilih proyek sosial Deaf Talk dengan menggandeng Bali Deaf Community (BDC).

Saat berdiskusi dengan ketua BDC, Gede Ade Putra Wirawan, Gektri mengetahui bahwa kaum tuli sering kali dianggap tidak setara dengan kaum dengar. Berbeda dari tuna rungu yang tidak bisa mendengar sejak lahir, kaum tuli kehilangan indera pendengarannya pada usia tertentu karena berbagai sebab, sakit misalnya. Hal inilah yang membuatnya tertantang untuk melakukan perubahan.

“Saya ingin mengomunikasikan kesetaraan itu, sekaligus memperkenalkan bahasa isyarat Indonesia atau bisindo. Saya juga baru mengenal bisindo, tapi berpotensi untuk dipelajari. Saya ingin membantu BDC sebagai perpanjangan tangan mereka. Dengan menjadi Putri Sulamit saya bisa mempublikasikannya bukan hanya di lingkup Bali saja, tapi hingga ke luar Bali.

“Saya akan menuangkan konsep proyek ini dalam sebuah buku. Beberapa teman di BDC membantu untuk menulisnya. Saat ini sudah masuk proses editing dan tinggal merangkumnya saja. Senang sekali Bali menjadi pilot project pertama yang dikunjungi oleh tim media,” ungkapnya.

Bersama BDC, Gektri juga melakukan kegiatan sosial untuk lingkungan, seperti aksi bersih-bersih mangrove hingga kegiatan cross culture.

Advertisement
“Saya sudah lama kenal dengan teman-teman BDC, tapi semakin intens sejak lima bulan lalu setelah terpilih sebagai Putri Sulamit dan membuat proyek sosial. Proyek ini tercetus karena passion saya adalah komunikasi. Selain itu kakak saya juga mengalami tuli bukan bawaan dari lahir sehingga saya harus memahami cara berkomunikasi dengan bahasa isyarat,” cerita Gektri yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Udayana jurusan Ilmu Komunikasi semester 8.

“Dalam kegiatan cross culture, saya mengajak kaum dengar untuk bertukar informasi, budaya, dan pengetahuan. Kaum tuli mengajari kaum dengar bahasa isyarat, itulah realisasi proyek sosial saya yang sudah berjalan lima bulan terakhir ini. Harapannya masyarakat kaum dengar bisa sadar dan aware terhadap keberadaan kaum tuli. Saya ingin memperkenalkan dan membuktikan bahwa mereka juga punya hak sama seperti kita, itu target jangka panjangnya.”

Gektri pun mengingatkan kaum dengar agar terus memaksimalkan potensi yang dimiliki agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Kalau punya kelebihan, tapi tidak mau berbagi sama dengan bohong. Jangan pernah lupa dan takut untuk berbagi karena itu tidak akan mengurangi apa pun yang kita miliki, malah akan menambah nilai dalam diri kita sehingga bisa menjadi panutan bagi orang lain. Just start where you are, use what you have, and do what you can!” ujar Gektri menutup wawancara. (f)


Baca juga:
Berkenalan dengan 7 Putri Sulamit yang Siap Berkarya untuk Sesama
Belajar Budaya Kaum Tuli Bersama Bali Deaf Community


Topic

#PutriSulamit

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?