High risk, high return. Low risk, low return. Ini adalah pakem dasar dalam berinvestasi. Jika ingin mendapatkan keuntungan yang besar, maka harus siap dengan risiko yang besar pula. Fluktuasi yang harusnya menjadi ‘sahabat’ para investor di pasar modal, masih menjadi momok yang menakutkan bagi pemula karena mengingatkan mereka pada risiko kerugian jika pergerakan saham mengalami penurunan.
Memang tak ada yang bisa memberi kepastian seperti apa fluktuasi pergerakan saham. Dan tak ada pula yang bisa menjamin para investor akan untung atau rugi dalam berinvestasi. Namun, mental yang tenang harus jadi modal awal dalam berinvestasi saham di tengah gejolak pasang surutnya. “Berinvestasi saham itu tidak susah, yang susah adalah mengatasi mental kita yang takut kalah,” cerita Ryan.
Selain harus punya mental tenang, jangan berharap bisa mendapatkan keuntungan berinvestasi dalam waktu yang cepat, karena menurut Irwanti, keuntungan investasi saham ditujukan untuk masa depan. “Justru jika ada tawaran investasi yang menawarkan keuntungan dalam waktu yang cepat, kita harus mewaspadai itu sebagai penipuan,” jelas Irwanti.
Kesabaran adalah kuncinya, atau lebih tepat jika dikatakan harus punya mind-set jangka panjang. “Idealnya dana yang digunakan untuk investasi saham itu adalah dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat dan harus menunggu minimal 5 tahun,” jelas Irwanti.
Mengapa harus jangka panjang? Pergerakan saham itu sifatnya fluktuatif, naik dan turun yang tak dapat diprediksi waktunya. Jika investor menetapkan jangka waktunya terlalu pendek, maka dampak fluktuasi yang naik turun tersebut masih akan terasa. Sementara, jika jangka waktunya dipanjangkan akan memberikan kesempatan investasi saham untuk pulih dan bangkit dari kejatuhan harga bila pasar modal terjadi penurunan.
“Berdasarkan hasil pengamatan saya pada bursa tertua di Amerika Serikat sekalipun, investasi berjangka panjang selama lebih dari 10 tahun selalu memberikan keuntungan. Tak ada yang rugi,” cerita Ryan, yang mengaku sudah berinvestasi sejak usia 18 tahun.
Dalam daftar bursa saham saat ini, setidaknya ada 529 perusahaan yang menjual saham mereka ke publik. Tentu saja, memilih perusahaan yang tepat untuk diinvestasikan bisa menjadi sangat sulit jika tidak punya informasi yang cukup luas. Namun, setidaknya ada tiga parameter dasar dalam memilih saham yang tepat di antara ratusan perusahaan yang ada, dengan ragam kinerja dan keuntungan yang ditawarkan: pendapatannya yang bagus, keuntungannya stabil dan kontinu, serta tidak memiliki utang.
“Namun, akan lebih aman jika kita memilih saham perusahaan yang masuk dalam daftar LQ-45 selama 10 tahun berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa reputasi perusahaan tersebut bagus dan kuat,” saran Ryan. LQ-45 adalah daftar 45 perusahaan teraktif dalam bursa dengan laporan keuangan yang bagus.
“Atau pilih perusahaan dengan rekam jejak pemberian dividen yang disiplin selama 10 tahun berturut-turut. Namun biasanya, perusahaan yang seperti ini belum tentu masuk dalam daftar LQ-45,” paparnya lagi.
Pemilihan saham perusahaan pada sektor-sektor tertentu juga bisa memberikan keuntungan yang stabil, misalnya sektor kesehatan, pendidikan dan kebutuhan-kebutuhan pokok sehari-hari. Sektor-sektor ini adalah sektor yang sifatnya defensif, yang dalam keadaan ekonomi seperti apa pun akan terus berjalan. “Bahkan, jika ada perang sekalipun, tiga sektor ini akan terus berjalan,” ujar Ryan.
Bila diibaratkan, bisa seperti ini: selama 15 tahun terakhir, merek ponsel yang paling banyak digunakan oleh masyarakat telah berganti-ganti. Mulai dari merek Nokia, Blackberry, hingga kini lebih banyak pilihan. Namun, coba perhatikan pada sektor pangan (kebutuhan pokok), salah satu perusahaan yang masih merajai pasar di industri tersebut adalah merek Indomie. Ini membuktikan betapa kuatnya perusahaan tertentu di sektor pangan yang bisa mempertahankan kinerjanya dalam periode yang lama.
Memilih saham pada perusahaan yang tepat memang akan memengaruhi keuntungan yang akan didapatkan. Tapi, penerapan strategi investasi yang benar diyakini juga akan memberikan keuntungan yang tepat pula. Beberapa orang mungkin memilih menggunakan strategi analisis teknikal, yang memprediksi harga saham dengan mempelajari histori yang terjadi di masa lalu. Beberapa orang lagi merasa dengan menganalisis fundamental dan memprediksi pergerakan harga menggunakan laporan keuangan dan rasio perusahaan tersebut akan lebih tepat.
Mana yang lebih jitu? Di antara mereka yang menggunakan strategi tersebut mungkin akan beragumen bahwa strategi merekalah yang paling baik. Namun, bagi Ryan, tak ada yang salah dan tak ada yang benar pula.
“Bagi investor jangka panjang, nilai menjadi lebih berharga dibandingkan harga. Sedangkan bagi pedagang atau trader, harga dan volume perdagangan menjadi fokus utama mereka,” jelasnya lagi. Semua analisis sama baiknya untuk digunakan, tergantung pada tujuannya, yaitu untuk berinvestasi atau trading. Namun, akan jadi berbahaya justru jika kita tidak memiliki dasar analisis apa pun dan tidak disiplin dalam bertransaksi.
Maka dari itu, penting untuk memiliki pemahaman yang cukup tentang investasi saham. Terlebih kini informasi gampang sekali diakses melalui internet. Seminar yang membahas investasi pun banyak digelar oleh berbagai kalangan, dengan tujuan untuk memberikan pemahaman baru bahwa berinvestasi itu tidak sesulit dan semahal yang diperkirakan selama ini.
Bahkan, demi memudahkan masyarakat era kini yang serba digital, makin banyak platform online untuk bertransaksi dan memantau pasar modal secara real-live dalam sistem Online Trading (OLT).
Bedanya dengan cara konvensional, OLT tak perlu repot-repot bertemu atau menghubungi broker secara langsung. Hanya dengan sekali klik di komputer atau satu sentuhan pada layar ponsel, kita sudah bisa membeli atau menjual saham. Bisa dikatakan, sistem OLT sama halnya seperti fasilitas e-banking pada perbankan.
Beberapa perusahaan sekuritas pun menerapkan kebijakan yang berbeda antara trading saham secara konvensional dan online. Biasanya, biaya trading saham secara online akan lebih murah dibandingkan dengan offline.
Umumnya memang broker atau perusahaan sekuritas besar sudah memiliki fasilitas sistem OLT, yang harus dipasang terlebih dahulu di perangkat gadget canggih. Bahkan, mereka memberikan fasilitas trial, agar masyarakat dapat mencobanya terlebih dahulu sebelum benar-benar menggunakannya. Dengan berbagai fasilitas ini, investasi saham pun bisa dilakukan dengan cepat dan praktis karena bisa dilakukan kapan saja, di mana saja.(f)