(foto: Unsplash)
Dari sudut pandang perencanaan keuangan, Achmad Gozali, financial planner, mengungkapkan meminjam uang boleh saja dilakukan. Namun ia menyarankan lebih baik berutang dilakukan secara terencana, daripada mendadak. Utang yang baik justru dibuat dalam kondisi yang tidak mendesak, karena biasanya kita telah memikirkan dengan jelas untuk apa uang pinjaman digunakan dan bagaimana kita akan membayar.
“Kadang orang bilang ‘terpaksa berutang’, atau dalam kondisi kepepet dan terpaksa. Justru saat itu keputusan yang diambil biasanya lebih berlandaskan emosi ketimbang logika”, jelas Achmad.
Achmad juga punya saran untuk kebutuhan apa sebaiknya kita meminjam uang. “Bagusnya pinjam uang dilakukan untuk kebutuhan produktif, yang bisa diprediksi ada uang kembalinya atau sekadar penyambung nafas saja Misalnya ada uang masuk tanggal 10, tapi harus bayar sesuatu tanggal 5. Bolehlah utang dulu karena sudah jelas pembayarannya”, ujarnya.
Sebelum meminjam uang, Achmad menekankan pentingnya mengecek kondisi keuangan terlebih dahulu. Secara lebih rinci, hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah sebagai berikut;
2. Dari mana sumber pembayaran utang. Apakah dari gaji, pemasukan lain, atau dari hasil memutar uang utang itu sendiri.
3. Pilih melalui jalur apa kita berutang. Ini akan mempengaruhi beban bunga dan mekanisme pelunasan.
4. Sesuaikan jenis utang dengan kebutuhan.
Bijaklah mengelola keuangan saat kita masih punya utang yang belum terbayar. Membayar pinjaman jadi prioritas utama yang harus dilakukan begitu mendapat uang.(f)
BACA JUGA:
Cara Aman Meminjam Uang Pada Fintech P2P Lending
9 Tipe Kepribadian dalam Merencanakan Keuangan. Anda Termasuk yang Mana?
6 Cara Transaksi Aman dengan Mobile Banking
Topic
#utang, #pinjamuang, #rencanakeuangan, #keamananfinansial