Foto: Fotosearch
Eits, jangan kalah sebelum berperang, dong. Sebenarnya peluang kita untuk berbisnis cukup terbuka, kok. Dengan modal seadanya, kita bisa, tuh, jadi bos untuk perusahaan sendiri. Simak, deh, tip dari perencana keuangan Pandji Harsanto.
Yang Penting ‘Sehat’!
Bukan tubuh saja yang mesti sehat saat mau menjalankan usaha sendiri, melainkan keuangan pribadi kita. Yap, sebelum merencanakan berbisnis, pastikan dulu kondisi keuangan pribadi kita sudah aman dan kuat.
Menurut Pandji, hal ini ditandai dengan empat hal. Pertama, kita tidak punya utang konsumtif seperti cicilan kartu kredit yang tidak bisa dilunasi. Kedua, punya dana darurat sebesar enam kali pengeluaran bulanan. Ketiga, memiliki asuransi kesehatan murni (bukan unit link alias perpaduan asuransi dan investasi). Terakhir, punya tabungan atau investasi.
Empat hal ini sangatlah penting agar kita bisa mulai mengumpulkan modal dan berbisnis tanpa mengganggu keuangan pribadi. Sebaliknya, kalau pun bisnis nggak berjalan lancar, kondisi keuangan pribadi kita juga jadi nggak terpengaruh. Jadi, kita memiliki keuangan pribadi dan bisnis yang dipisahkan.
Kenali A – Z
Kondisi keuangan pribadi sudah oke, kita pun sudah siap untuk buka usaha sendiri. Tapi sebelum terjun langsung, kita mesti tahu dulu, tuh, bisnis jenis apa yang ingin digeluti. Sebaiknya, sih, sesuaikan dengan hobi agar nggak terasa berat saat menjalankannya. Namun, mesti unik alias tidak pasaran, ya, agar persaingan tidak terlalu sulit.
Jika suka mengoleksi pernak-pernik lucu, misalnya, kita bisa menjual produk yang terbuat dari kain perca. Hobi makan? Pilihlah usaha kuliner dengan menu – menu yang tidak biasa.
Maklum, salah satu syarat untuk mendirikan usaha sendiri, kan, mengetahui seluk beluk bidang yang dijalani. Nah, kalau memilih bisnis yang disukai, otomatis kita pun sudah punya sebagian besar pengetahuan karena sering terjun langsung. Kita tinggal menyempurnakannya, deh.
“Kenali dulu jenis bisnis yang digeluti dari A to Z. Dengan begitu, kita tahu bagaimana cara mengangkat, mengolah hingga memasarkan bisnis kita,” kata Pandji.
Dana Minim
Ini dia, nih, yang sering bikin kita mundur duluan sebelum menjajal dunia bisnis: yaitu keterbatasan modal. Dalam bayangan kita, perlu ada sekoper uang untuk menjadi pengusaha. Padahal sebagai pemula, kita bisa menekuni bisnis sebagai reseller yang nggak memerlukan banyak modal!
“Mulailah dari usaha kecil, misalnya reseller. Kita cuma perlu tahu agen atau distributornya, tuh, untuk mendapat harga murah. Tugas kita cukup ringan: memberikan informasi barang dagangan pada orang-orang, minta barang pada agen, lalu menjualnya dengan harga lebih,” jelas Pandji.
Pilihan lain: jajal bisnis online agar kita nggak perlu menyewa tempat dan menggaji karyawan (jika kita merasa mampu menangani sendiri). Modal yang kita perlukan hanyalah biaya maintenance situs yang masih terjangkau!
Investasi vs Modal
Ingin menjalankan usaha yang lebih besar dan tidak mengandalkan online? Artinya kita kudu mempersiapkan dana lebih untuk modal. Pertama, cari tahu berapa modal yang kita butuhkan. Lalu, tentukan kapan kita mau membuka usaha tersebut. Setelah itu baru, deh, kita bisa mencari cara untuk mengumpulkan modal.
Jika ingin membuka usaha dalam waktu dekat seperti satu hingga dua tahun mendatang, kita bisa menyisihkan minimal 20% dari gaji untuk modal. Cara lainnya: berinvestasi obligasi pendapatan tetap atau logam mulia. Maklum, nilai keduanya lebih stabil sehingga risiko mengalami kerugian lebih sedikit.
Lain lagi kalau kita baru mau menjalankan bisnis lima tahun mendatang. Untuk investasi jangka panjang, cobalah reksadana saham. Jadi kalau nilainya sedang turun, setidaknya masih ada waktu untuk naik kembali dalam jangka waktu lima tahun tersebut. Sebaliknya, jika pasar sedang bagus, investasi saham kita bisa berlipat ganda.
Perhitungkan Cash Flow
Jika mau segera buka usaha namun dana belum cukup, kita bisa, tuh, meminjam ke bank. Dengan syarat, kita sudah ‘berguru’ pada praktisi atau ahli di bidang yang akan kita jalani. Jadi, kita pun tahu kemampuan kita untuk bayar cicilan ke bank setelah menghitung biaya operasional dan pendapatan.
Misalnya, kita buka usaha franchise jasa pengiriman barang. Nah, biasanya, nih, jasa pengiriman barang tersebut akan ‘melatih’ kita dulu mengenai cara beroperasi, memasarkan hingga perhitungan biaya dan laba.
Perhitungan inilah yang menjadi pertimbangan kita sebelum meminjam modal ke bank, terutama untuk cari tahu kesanggupan kita untuk mencicilnya.
“Kita harus tahu berapa keuntungan bersih kita, baru bisa mencicil hutang dari situ. Lalu pastikan, deh, apakah usaha kita memang layak mendapatkan penghasilan dalam jumlah tersebut. Jadi, bergurulah dulu pada praktisinya,” kata Pandji.
Mari Mulai…
Sudah mantap berbisnis sendiri? Jika ingin sukses dan bertahan lama, sebaiknya, nih, kita menjalaninya dengan penuh totalitas. Artinya: terjun langsung alias tidak menyerahkannya pada orang lain untuk mengoperasikannya. Apalagi, jika bisnis kita ini melibatkan sejumlah pegawai. Kalau hanya bisnis online, sih, masih bisa dibarengi dengan pekerjaan lain.
Setelah bisnis mulai beroperasi, terserah kita mau menggunakan laba bersih untuk apa. Idealnya, 50 % bisa kita gunakan untuk ‘menggaji’ diri sendiri, sedangkan sisanya disimpan untuk dana pengembangan bisnis.
Kalau setelah beberapa bulan kita mendapat laba yang cukup besar, kita bisa menggunakan laba untuk melunasi seluruh hutang ke bank. Jadi ke depannya, penghasilan bisa digunakan sepenuhnya untuk kita dan pengembangan bisnis. (f)
Topic
#peluangbisnis