Bebebapa bulan menjelang pernikahan, Anda menjadi mudah marah. Bukan cuma vendor pernikahan yang jadi sasaran kemarahan, melainkan juga orang-orang terdekat, termasuk calon suami. Pasalnya, Anda ingin membuat pesta pernikahan sempurna dan nggak mau siapa pun merusak mimpi itu. Hati-hati, bisa jadi Anda sudah menjelma menjadi bridezilla.
Muncul Akibat Stres
Menurut Pingkan C. B. Rumondor, dosen psikologi Universitas Bina Nusantara, setiap wanita punya kecenderungan menjadi bridezilla mengingat banyaknya tekanan menjelang pernikahan. Kemungkinannya akan lebih besar lagi jika Anda punya sifat perfeksionis karena punya standar tinggi terhadap ukuran kesempurnaan.
Salah satu ciri yang terlihat jika Anda sudah terkena sindrom ini adalah sering marah-marah atau menangis jika keinginannya untuk resepsi pernikahan nggak tercapai. Bahkan, Anda rela begadang setiap hari hanya untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana.
Faktor dari Luar
Perubahan menjadi bridezilla juga bisa disebabkan oleh orang-orang di sekitar Anda. Contohnya, Anda menerima saran dari banyak orang untuk menjaga penampilan dan menurunkan berat badan agar tampil cantik di pelaminan. Jika dilakukan dengan terpaksa, pasti akan bikin tertekan, stres, dan mudah marah.
Tuntutan juga datang dari keluarga yang terlalu ikut campur terhadap persiapan pernikahan. Jika pernikahan dibiayai sendiri tanpa bantuan orangtua, sudah pasti calon pengantin akan menunjukkan ketidaksukaan terhadap campur tangan itu sehingga terlihat lebih tegas dan galak.
Faktor biaya juga bisa memengaruhi, tuh. Ketika sudah mengeluarkan banyak uang, pastilah Anda mengharapkan hasil maksimal. Akibatnya, Anda cenderung mengawasi vendor secara berlebihan dan ketika terjadi kesalahan, emosi lebih mudah tersulut.
Cegah Sebelum Terlambat!
Lakukan beberapa hal berikut agar Anda nggak berubah menjadi bridezilla...
1. Buat konsep pernikahan yang matang dan juga anggaran mendetail agar biaya nggak melonjak. Buat juga timeline yang jelas agar semua berjalan sesuai jadwal dan nggak ada hal kecil yang terlupakan.
2. Delegasikan tugas kepada panitia atau wedding organizer. Anda harus percaya kalau mereka bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
3. Siapkan waktu untuk menghilang sejenak dari rutinitas persiapan pernikahan. Ajak pasangan atau sahabat berlibur selama beberapa hari tanpa ada yang menyinggung urusan pernikahan.
4. Komunikasikan kepada pasangan apa saja yang selama ini membuat stres dan cari solusinya bersama. Bagi tugas dengan pasangan agar beban menyiapkan pernikahan nggak hanya ada di pundak Anda. Jadikan pesta pernikahan sebagai pesta Anda berdua, bukan hanya pesta Anda pribadi.
5. Ingatlah kalau pesta pernikahan hanya berlangsung dalam beberapa jam, tetapi ikatan pernikahan untuk selamanya. Daripada terobsesi membuat pesta yang sempurna, lebih baik siapkan diri melangkah dalam kehidupan pernikahan. (FANNY INDRIAWATI/CORBIS)