Tetapkan target
Menurut Patricia Sutanto, General Manager Business Development Division dari The Jakarta Consulting Group, rencana karier berhubungan dengan cara kita meraih target tertentu di dunia kerja.
“Sebenarnya, rencana karier hampir sama dengan ambisi, yaitu saat kita ingin meraih setinggi mungkin. Nggak jarang kita lantas jadi dilema, kalau tidak ambisius, bisa-bisa gagal mencapai target. Sebaliknya kalau ambisius, kesannya terlalu muluk. Padahal kalau bikin rencana kerja seharusnya realistis aja,” kata Patricia.
Kita boleh menyusun rencana sebaik mungkin, tapi sebaiknya hindari memandangnya sebagai sesuatu yang mutlak. Namanya saja rencana, boleh, kok, berubah-ubah.
“Jika dalam perjalanan mewujudkan rencana kita ternyata ada perubahan, itu wajar banget. Bahkan banyak individu yang rencana kariernya berubah total di tengah jalan. Biasanya kita memang bakal terpengaruh dengan informasi dan pengalaman,” ujar Patricia.
Bikin prioritas
“Kalau berminat menggeluti suatu bidang, kita harus memperdalam kemampuan di bidang tersebut. Selanjutnya cari tahu, apakah kepribadian kita cocok dengan peran yang dibutuhkan,” jelas Patricia. Contohnya, kita diharapkan jadi motivator andal, sementara kita ini tipe introvert. Kita harus berusaha lebih keras, deh! Dan kalaupun berhasil perlu kegigihan untuk bertahan....
“Perhatikan juga aspek sosial. Bila pekerjaan kita menuntut waktu, padahal keadaan tidak memungkinkan, maka kehidupan profesional dan personal kita jadi nggak seimbang.”
Sebut saja profesi event organizer yang umumnya bekerja malam hingga pagi hari. Jika kita sudah punya pacar, tentunya bakal sulit mengatur waktu bertemu, apalagi jika sudah berkeluarga nanti. Kita bisa saja menjalani profesi tersebut saat berusia muda—namun selanjutnya? Nah, dalam hal ini, kita perlu membuat rencana karier. CC