Saat sepakat berkomitmen Anda dan si dia bisa diibaratkan ‘saling memiliki’. Namun bukan berarti Anda mempunyai 100% kendali terhadap dirinya. Kebanyakan wanita memanfaatkan ‘status’ untuk mengubah pasangan menjadi sosok yang diidamkan. Selama masih dalam tahap wajar dan positif, sih, oke saja. Tapi jika sampai mengubah pribadi dan segala kebiasaannya, bisa bahaya dan bikin pasangan nggak nyaman. Cobalah untuk menerima si dia apa adanya.
Berhenti berteman dengan pria lain
Saat pacaran otomatis si dia menjadi prioritas Anda, tapi bukan berarti Anda harus membatasi lingkungan sosial dengan berlebihan. Jika Anda melakukan untuk alasan menjaga perasaannya, artinya belum ada rasa kepercayaan untuk membangun fondasi kuat sebuah hubungan. Jika pacar Anda sosok yang baik, dia tentu nggak akan keberatan dengan siapa pun Anda berteman dan Anda nggak perlu khawatir. Kurangi kekhawatiran Anda ditinggal si dia. Bersikap demikian hanya akan membuat Anda kuper.
Pasrah dengan perlakuan kekasih
I’ll do anything for you
Saking takutnya kehilangan si dia, moto ‘I’ll do anything for you’ jadi nggak ada batasnya bagi Anda. Hati-hati, ladies, ini bisa menjerumuskan kita. Berkorban demi hubungan boleh saja, tapi pertimbangkan dahulu baik buruknya sebelum mengambil keputusan. Kasarnya, sih, jangan sampai kita ‘dibodohi’ pasangan sehingga merugikan diri sendiri.
Mendewakan hubungan dengannya
Saat jatuh cinta dunia serasa milik berdua. Anda menjadikan si dia prioritas utama di atas segalanya termasuk teman dan keluarga. Bahaya, tuh, sikap ini justru memicu keretakan hubungan dengan lainnya. Sebaiknya Anda tahu masing-masing porsi. Santai saja, ladies…