1. Keranjang belanja di pintu masuk
2. Bahan pokok letaknya jauh
Produk kebutuhan rutin—seperti gula, deterjen, beras, dan lainnya) diletakkan jauh dari pintu masuk. Jika mau membeli barang-barang penting tersebut, kita harus “melewati” barang-barang yang tidak diperlukan. Saat itu, tanpa direncanakan, kita tertarik membeli barang lain tadi.
3. Permen dekat kasir
Bukan tanpa sebab permen atau coklat diletakkan di dekat antrean kasir. Asumsinya, konsumen yang telah selesai berbelanja akan merasa lapar, lalu mengambil permen yang bisa langsung dikonsumsi atau mengisi waktu dengan membaca majalah sambil menunggu antrian. Akhirnya, dibeli, deh, permen atau majalah yang mudah diperoleh saat itu juga.
4. Sejajar Pandangan Mata
Produk yang harganya lebih mahal disimpan di rak yang sejajar dengan pandangan mata sehingga kita mudah menemukannya. Hal ini amat ampuh bagi yang sedang terburu-buru sebab kemungkinan besar kita mengambil apa yang terlihat saat itu.
5. Harga ditulis khusus
Pada rak, disimpan keterangan tentang harga yang ditulis sendiri—harga normal barangnya—oleh orang tokonya. Secara psikologis, produk-produk yang sebenarnya tidak sedang diobral, diberi kesan seolah-olah sedang diobral gara-gara harganya ditulis tangan.
Meiranie Nurtaeni
Foto: Fotosearch