Career
Resolusi Gagal Lagi!

31 Dec 2013

Untuk menepati rencana yang kita buat—menikah di usia 24, promosi jabatan usia 25, punya anak di usia 26 dan sederet rencana lain—kita sering memaksakan diri. Contohnya saja, bertahan dengan cowok brengsek bertahun-tahun karena ngebet banget pengen nikah. Atau rela bekerja 12 jam sehari untuk mengejar target promosi jabatan dalam waktu singkat. Padahal… nggak ada salahnya melanggar rencana yang kita buat sendiri, bahkan sekalipun semua cewek di geng kita berhasil menepatinya. Ini, kan, hidup kita.


Ah, cuma angka!
Seharusnya itulah yang kita pikirkan tentang usia kita. Tak perlu berpatokan pada orang kebanyakan tentang pencapaian mereka di usia tertentu. Kalau mau ‘membuka wawasan’, banyak, kok, orang sukses yang termasuk ‘terlambat’ dibandingkan seangkatannya.
    Contoh, nih, Salma Hayek yang baru menikah di usia 41 tahun. Oprah Winfrey malah tidak menikah sampai sekarang atau JK. Rowling yang bukunya baru terbit di usianya yang ke-31. Nah, kenapa kita terobsesi kudu nikah atau sukses di usia 20-an, sih?

Sooo… much happier
Saat gagal mewujudkan rencana, kita sering banget jadi stres dan terobsesi. Iri setiap kali melihat orang yang lebih sukses dari kita, ogah menghadiri undangan pernikahan karena kita belum punya pacar. Akibatnya kita sulit menikmati kondisi saat ini. Padahal kalau kita santai dan melupakan semua obsesi tadi, kita pasti bisa lebih bahagia menjalani yang kita punya.

Lihat dari 2 sisi
Sementara teman-teman seangkatan sudah memajang foto bayinya di sosmed, status kita masih single atau it’s complicated karena si dia menghilang tanpa kabar. Tapi apakah kita lantas kudu ngebet mencari cowok yang bersedia melamar kita?

Kan, lebih asyik kalau kita menikmati status single dengan puas-puasin traveling, atau kebebasan melakukan apapun yang kita suka. Percaya, deh, dua hal ini pun bikin iri teman-teman yang sudah menikah dan punya anak pada kita.


Cewek asyik
“Aduh… kenapa, ya, gue belum punya pacar?”
“Kamu, sih, enak sudah jadi asisten manajer, gue masih jadi kacung!”
Kesal nggak, sih, menghadapi teman yang tiap kali ketemu cuma bisa mengeluh. Nah, satu lagi, nih, keuntungan kalau kita nggak terobsesi dengan rencana yang kita buat, kita jadi pribadi yang lebih menyenangkan. Dengan begitu, kita nggak kehilangan teman yang bête dengan keluhan-keluhan kita tadi …

Nikmati aja, deh!
Advertisement
Merasa gagal hanya akan membuat kita stres, bahkan depresi. Parahnya, stres nggak membuat keadaan lebih mendekati keinginan kita. Yang ada malah kesehatan kita ikut terganggu. Kalau dipikir lagi, kan, kita yang rugi. Prestasi kita di kantor terhambat karena sakit, cowok pun ogah dengan cewek yang penyakitan. Yap, cewek lemah yang disukai cowok cuma ada di sinetron! Jadi, enjoy ajalah….  

Kenapa ‘gagal’?
Kadang-kadang kita gagal mewujudkan rencana karena rencana tersebut nggak realistis. Maklum, kita masih terlalu muda saat membuatnya.
Coba, deh, ingat lagi kapan kita menetapkan ingin menikah di usia 24 tahun? Mungkin saat kita masih di bangku SMP, yang belum kebayang seperti apa kehidupan di usia 24. Dan saat kita memutuskan ingin menjadi penulis beken di usia 22 tahun, pasti saat itu, kita belum tahu beratnya mencari penerbit yang mau mencetak novel karangan penulis baru, kan?

Jalan Tanpa Rencana
Cara ini akan membuat kita lebih santai, tapi biar nggak kebablasan, ada baiknya tetap menyimak aturan main:
• Audit kehidupan kita.
Jika di usia 26 kita nggak merasa menikmati bekerja, coba selidiki apakah ini benar-benar pekerjaan yang kita inginkan dan cocok buat kita. Jika tidak, kenapa nggak nyoba cari peluang karier lain. Nggak harus berubah 180 derajat, kok. Carilah profesi dimana pengalaman kerja kita masih bisa diperhitungkan. Atau kita bisa nyoba S2 atau pekerjaan sukarela untuk selingan.

• Fokus pada sedikit hal
Rencana kita bisa terlihat sulit diwujudkan bila kita membuatnya terlalu hebat. Tapi tak perlu melihatnya sebagai sesuatu yang hampir nggak mungkin diwujudkan. Cukup bikin rencana jangka pendek dan berusahalah mewujudkannya. Daripada merencanakan ‘menikah dua tahun lagi’ lebih baik merencanakan ‘lebih banyak bergaul’.

• Jalani dengan senang
Jangan pernah menghukum diri sendiri karena nggak bisa memenuhi target atau menyesali tindakan yang sudah kita buat. Percaya, deh, si bad boy memang pantas kita putusin.  Lebih baik melihat ke masa depan dan membuat target baru—apa yang bisa kita capai. Dengan begitu kita lebih optimis melihat masa depan dan kerutan di wajah pun bisa diperlambat muncul, hehehe. (CY/FOTOSEARCH)








 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?