Dos
Bersikap netral selalu jadi pilihan. Paling nggak nantinya kita nggak ikut dipojokkan jika salah satu kelompok berbuat salah. Nggak perlu sibuk mikirin apa yang sedang direncanakan kelompok yang sedang berkonflik. Lebih baik konsenstrasi ke tugas sendiri. Keuntungan bersikap netral, nih, kita bakal dinilai lebih dewasa dan nggak mudah terpengaruh.
Good listener
Waktu makan siang kita diisi curhatan salah seorang teman kita yang terlibat konflik. Seru, juga, sih, mendengarnya tapi kita nggak perlu memberi pendapat. Jika teman minta opini kita, kembalikan lagi pertanyaan itu pada dirinya sendiri. Biarkan dia menentukan sendiri langkah yang diambil, kita cukup mendengarkan.
Perluas jejaring
Konflik akan membuka mata kita untuk berteman dengan orang lain yang beda divisi. Geng di kantor biasanya berteman dengan itu-itu saja. Beda dengan kita, dong. Sikap terbuka kita dengan orang lain bisa memperluas jejaring. Mungkin saja, kan, kita ditawari posisi yang lebih menantang.
Don'ts
Gosip, nih!
Gosip di kantor memang seru untuk bahan obrolan. Tapi hindari menceritakan konflik di kantor pada orang lain. Apalagi kalau pendengar kita masih berhubungan dengan rekan kerja yang berkonflik. Mau minta saran dari orang lain, sih, pilih yang nggak ada hubungannya dengan kantor. Kakak atau si dia, misalnya.
Duri dalam daging
Mentang-mentang netral, kita merasa bebas untuk bergabung dengan kubu mana pun. Bahkan kita nggak segan-segan mengumbar hasil pendengaran kita dari salah satu kelompok pada kelompok lain. Nggak perlu bikin situasi makin panas, deh.
Buru-buru resign
Netral nggak berarti harus buru-buru mengundurkan diri dan kantor. Bisa-bisa orang lain malah curiga dan menuduh kita yang menyulut konflik itu. Jadikan pengalaman kita sebagai pelajaran jika nantinya menghadapi konflik yang lebih besar. Mungkin saja, kan, di kantor yang lain kita justru ikuran dalam konflik itu. CC