Bila sebagian besar orang perlu menunggu sampai mapan secara finansial di usia tertentu, Wisnu mampu membeli rumah pertamanya di usia 22 tahun. Saat itu, tahun 2007, ia baru terjun ke dunia hiburan. Popularitasnya juga baru merangkak naik berkat perannya dalam sinetron Cinta Fitri.
“Namanya juga anak muda, awalnya saya lebih mikir untuk gaya-gayaan saja. Tiap ada pemasukan, langsung habis untuk jalan-jalan atau belanja barang yang nggak penting,” ungkapnya jujur. Untunglah, Wisnu segera sadar untuk tak terjebak ke dalam hidup yang terlalu konsumtif. Ia lalu mengubah pandangan hidupnya.
“Saya ingin hasil jerih payah saya ada buktinya, tidak menguap begitu saja,” begitu tekadnya. Bagi pria kelahiran 4 Maret 1985 ini, mobil dan rumah bisa menjadi salah satu bukti nyata dari kerja kerasnya. Sejak itu, ia pun menabung, membeli mobil, dan memberanikan diri untuk membeli rumah pertamanya di daerah Joglo, Jakarta Barat.
Ketika dikunjungi di rumahnya pada suatu pagi, Wisnu terlihat segar dengan jeans dan T-shirt putih. Dengan ramah, ia mengajak femina naik ke lantai atas, yang ia jadikan area pribadi. “Saya banyak menghabiskan waktu di atas. Sementara, ruangan bawah ditempati Mama yang baru pindah ke Jakarta dari Aceh,” jelasnya.
Sambil duduk di karpet di ruang televisi, ia bercerita. Ketika masih tinggal di apartemen, tiap hari selalu ada saja temannya yang datang berkunjung, bahkan menginap. Ia jadi kekurangan waktu tenang untuk istirahat. “Padahal, pekerjaan sering membuat mood saya jadi tidak stabil. Tiap pulang ke rumah saya ingin tidur dan sendiri saja. Karena itu, saya membangun rumah ini untuk mendapatkan sedikit privasi,” katanya.
Selang beberapa waktu, ia membeli rumah kedua di kompleks yang sama. Rumah kedua ini ia sebut sebagai ‘rumah kucing’. “Rumah itu sengaja saya beli untuk menampung barang, mobil dan motor, sekaligus tempat tinggal kucing saya yang sekarang ada belasan ekor,” tutur Wisnu, yang sempat hobi mengoleksi sepeda motor.
Memiliki dua rumah, lama-kelamaan Wisnu mengerti bahwa punya rumah sendiri ternyata bukan hanya soal privasi, tapi juga perlu ‘manajemen’. “Pernah suatu kali, listrik tiba-tiba mati. Ternyata, saya lupa bayar tagihan!” kenangnya, tertawa. “Sekarang saya punya catatan untuk semua tagihan yang harus dibayar tiap akhir bulan,” tambahnya, bangga.
Bagi Wisnu, rumah menjadi penanda kedewasaan. “Saya jadi banyak berpikir tentang masa depan. Saya tak lagi memikirkan diri sendiri, tapi juga keluarga saya kelak,” ungkapnya. Selain itu, Wisnu, yang berasal dari keluarga besar, juga ingin membahagiakan ibunya yang ingin tinggal bersamanya.
“Saya ingin punya ruang tengah yang cukup besar untuk tempat keluarga besar berkumpul. Karena ibu saya senang berdekatan dengan alam, saya juga ingin punya pekarangan rumah yang luas. Saya ingin, kelak beliau bisa mengundang teman-temannya ke rumah,” tuturnya, berbinar.