Foto: Zaki Muhammad
Berikut cara Indri menggabungkan dua konsep tersebut:
- Memanfaatkan keterbatasan lahan di rumahnya yang merangkap kos-kosan, menjadi ‘garasi’ tanaman. Caranya dengan menanam dan menumbuhkan sekitar 80 persen tanaman pangan yang bisa dimakan. Sisanya, 20 persen, merupakan tanaman hias yang diaplikasikan sebagai dekorasi bernyawa yang menghiasi ruangan.
- Dari segi desain ekologis, ia memercayakan arsitek dan urban designer, Sigit Kusumawijaya, untuk mewujudkan keinginannya. Ke dalam Rumah Beranda yang menjadi nama hunian, kedua konsep tampak melebur harmonis di atas bangunan tiga lantai dengan banyak bukaan hijau.
- Hal pertama yang dilakukan Sigit adalah merancang layout rumah yang sederhana dalam bentuk massa kotak. Ia juga membuat rongga di tengah sehingga tercipta ruang antarmassa yang difungsikan sebagai taman. Keberadaan taman membuat suasana di dalam bangunan terasa lapang dan ringan.
- Sebagai bagian pelengkap prinsip hijau, void yang merupakan penghubung antarlantai dibuat dalam ukuran besar. Tujuannya, agar sirkulasi udara bisa bergerak leluasa sehingga suhu dalam ruangan tetap terasa sejuk. Belum lagi penambahan lubang-lubang udara sebagai ventilasi silang, menjadikan dinding berongga ini sebagai aliran udara bagi tanaman.
- Meminimalkan dinding juga bertujuan untuk membuat sirkulasi udara dan cahaya matahari dapat bebas masuk. Dengan begitu, rumah dapat ‘bernapas’ secara alamiah. Dari segi ekonomi pun menguntungkan karena menghemat biaya pembangunan.
- Void yang menjadi center point di living room disempurnakan dengan kehadiran skylight di atas taman dalam. Sebagai jendela kaca pada atap yang digunakan untuk meningkatkan intensitas cahaya alami ke dalam ruangan, skylight juga menghadirkan keindahan pemandangan langit baik siang maupun malam.
- Untuk meluweskan bentuk bangunan yang kaku, ada beberapa bagian yang dimiringkan, seperti pada atap, railing pot di facade, dan railing tanaman rambat Liang Liu di living room. Kehadiran tanaman yang dahannya menjuntai ke bawah, berdaun kecil, panjang, serta runcing ini memberi tampilan elastis sekaligus penambah kesan rimbun.
- Elemen hijau berupa vegetasi dimaksimalkan dengan menempatkan pot tanaman di tiap lubang railing vertikal. Keberadaan mereka sebagai interior hijau yang asri tidak semata sebagai dekorasi, tetapi juga sebagai lapisan kedua bangunan yang berfungsi menyaring udara kotor masuk ke dalam rumah.
- Masih menyesuaikan dengan konsep alam, material dipilih ‘mentah’ supaya terkesan membumi. Terlihat pada dinding yang hanya diaci semen tanpa dicat untuk mengurangi penggunaan bahan kimia yang tidak aman bagi kesehatan. “Meskipun tanpa olesan warna tambahan, tembok tetap diberi finishing halus agar terkesan rapi,” ujar Sigit.
Dampak positif konsep ‘rumah hijau’ ini bisa terasa hingga ke seluruh ruangan, saat detail kecil lainnya turut dipikirkan. Ketepatan mengombinasikan bentuk bangunan dan interior dalam, membuat rumah ini menjadi tempat tinggal yang menyejukkan sekaligus menguntungkan. (f)
Topic
#rumahhijau