Foto: 123RF
Serangan rasa sakit dada yang sama juga dirasakan seorang wanita ras Asia berusia 86 tahun saat ia sedang menonton televisi. Sakit di dadanya menyerang hingga 10 jam, padahal selama ini ia tidak pernah merokok, menjalankan pola makan sehat, dan rajin berolahraga. Menurut putrinya, sang ibu merasa stres berat setelah anak lelakinya meninggal secara mendadak karena kecelakaan sekitar dua minggu sebelumnya.
Kedua kasus yang tercatat dalam jurnal medis The Western Journal of Emergency Medicine berjudul Takotsubo Cardiomyopathy: A Case Series and Review of the Literature yang dilansir situs National Center for Biotechnology Information itu hanyalah sebagian kecil dari kasus sindrom takotsubo yang dilaporkan. Menurut jurnal medis yang sama, kasus sindrom takotsubo mulai terdeteksi pada akhir tahun 1990 di Eropa dan baru pada tahun 2003 di Amerika Serikat. Seluruh kasus yang tercatat dalam jurnal medis itu memiliki satu sumber stres, yakni kehilangan anggota keluarga.
Sindrom takotsubo yang disebabkan oleh stres terkadang sulit dibedakan dengan serangan jantung karena gejalanya serupa, yakni secara mendadak muncul rasa sakit di dada, sulit bernapas atau napas tersengal-sengal, pusing atau kepala terasa ringan, disertai keringat dingin. Meski begitu, faktanya kondisi takotsubo berbeda.
Menurut pakar kardiovaskular Deepak Bhatt, MD, MPH dalam artikel “Stress” Cardiomyopathy: A Different Kind of Heart Attack” yang dilansir di situs Harvard Health Publications, serangan jantung pada umumnya terjadi karena arteri koroner jantung tersumbat gumpalan darah sehingga menyebabkan plak-plak kolesterol. Aliran darah yang berkurang akibat sumbatan pada arteri itulah yang kemudian melemahkan otot jantung.
Sementara pada pasien penderita takotsubo, tidak ditemukan plak atau pembuluh darah yang tersumbat. Kondisi jantung pasien takotsubo pada saat ‘serangan’ justru cukup unik. Ventrikel kiri jantung menyempit di bagian tengah kemudian melebar dan membulat di bagian bawahnya. Bentuk itu menyerupai pot penangkap gurita (tako-tsubo) yang biasa digunakan nelayan di Jepang.
Meski tidak ada plak atau pembuluh darah yang tersumbat, dorongan hormon stres dalam jumlah banyak juga bisa mengacaukan detak jantung. Ventrikel kiri jantung jadi berdetak sangat cepat dan tidak menentu sehingga jantung tidak sempat relaks dan dipenuhi darah. Efeknya bisa mematikan. Jika terlambat mendapat pertolongan, sirkulasi darah ke otak dan seluruh tubuh akan terhenti.(f)
Baca juga:
- Lima Kunci Menjaga Kesehatan Jantung
- 4 Aktivitas Pencegah Penyakit Jantung Koroner
- Ini Bahaya Jika Anda Kekurangan Kalium yang Mengancam Otot Kaki Hingga Jantung!
Topic
#sindrompatahhati