Health & Diet
Stres Bisa Memicu Serangan Asma, Ini 3 Cara Mencegahnya

3 Oct 2017


Foto: Pixabay

Asma adalah kondisi kronis yang mempengaruhi saluran udara di paru-paru; peradangan dan penyempitan saluran udara yang dapat menyebabkan suara mengi, sesak napas, sesak dada dan batuk. Dikutip dari 2012 World Life Expectancy, di antara negara-negara Asia, Indonesia berada di peringkat lima untuk kematian karena asma, dan peringkat 13 di seluruh dunia.
 
Asma memiliki lima tingkat, yaitu intermiten (tidak tetap), ringan, sedang, berat, hingga sangat berat. Tingkatan asma diperlukan untuk mengetahui pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien.
 
Menurut Prof. Faisal Yunus, MD, PhD dari Universitas Indonesia, penderita intermiten hanya kambuh di saat-saat tertentu saja, misalnya akibat erupsi gunung berapi atau akibat kebakaran hutan.
 
“Di negara-negara empat musim, penderita asma intermiten hanya kambuh saat musim semi atau musim gugur, maka sering disebut season asthma. Ada juga yang disebabkan oleh cuaca dingin atau hanya karena kelelahan. Biasanya penderita intermiten hanya butuh alat pelega pernafasan saja, sama dengan tingkatan asma yang ringan,” jelas Prof. Faisal di Jakarta beberapa waktu lalu.
 
Prof. Faisal menambahkan, asma bersifat sangat individual. Serangan asma juga berkaitan dengan stres. Bagi penderita asma ringan, masalah-masalah hidup seperti PHK, putus cinta, bisa menyebabkan serangan.
 
Sedangkan untuk penderita asma sedang, berat, hingga berat, karena sifatnya sudah menetap, maka diperlukan penanganan dengan obat. Dosisnya disesuaikan dengan gejala masing-masing individu. “Jika pengobatannya sesuai, bisa turun satu tingkat tetapi tidak bisa sembuh total,” kata Prof. Faisal.
 
Ia juga menyampaikan tiga kunci pencegahan asma seperti berikut ini:
Advertisement
 
Pencegahan primer dilakukan oleh orang tua penderita asma untuk mencegah anak menderita asma yang lebih tinggi tingkatnya dari orang tua.
 
“Kalau tahu ibunya asma, bapaknya jangan merokok, tidak perlu pelihara binatang berbulu di rumah, selalu menjaga kesehatan anak agar daya tahan tubuhnya tinggi,” ujar Prof. Faisal.
 
Orang tua juga perlu menjauhkan anak-anak dari makanan mengandung pengawet, pewarna, atau tambahan perasa. “Mi instan misalnya, mi tidak berbahaya, tetapi bumbunya mengandung pengawet, jadi ibu bisa memasak mi instan dengan bumbu yang dibuat sendiri.”
 
Pencegahan sekunder dilakukan untuk penderita asma intermiten, ringan, dan sedang agar tidak naik tingkat menjadi berat atau sangat berat. Hal ini bisa dilakukan dengan rutin minum obat dan membawa alat pelega pernapasan ke mana saja. Sama seperti pencegahan primer, pencegahan sekunder juga mengandalkan daya tahan tubuh. Semakin sehat gaya hidup pasien maka daya tahan tubuhnya akan semakin kuat melawan serangan asma.   
 

Pencegahan tersier dilakukan untuk penderita asma berat dan sangat berat agar serangan asma tidak menyebabkan kematian. “Untuk penderita asma yang sangat berat, bernapas saja sulit. Tetapi seharusnya penderita asma berat dan sangat berat tidak sampai meninggal. Jika terjadi serangan, harus segera dibawa ke rumah sakit, penanganannya tidak boleh terlambat,” tutup Prof. Faisal. (f)

Baca juga:
Cara Efektif Memotivasi Diri untuk Tetap Berolahraga
Suka Mendengkur? Ini Cara Mengatasinya
Mau Bakar Kalori Sekaligus Hilangkan Stres? Jalan Kaki Jawabannya



Topic

#asma, #inhalasi

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?