Health & Diet
Jangan Anggap Sepele, Pahami Penyebab dan Penanganan Luka yang Tepat

7 Nov 2016


Foto: 123RF

 
Terpercik minyak goreng panas, kita langsung buru-buru mengoleskan pasta gigi ke area kulit yang melepuh. Tindakan emergensi seperti itu memang sudah jadi kebiasaan karena diajarkan turun-temurun dari ibu dan nenek kita. Padahal, cara menangani luka bakar ringan seperti itu tidaklah tepat.

Meski bukan penyakit berat, luka bukan masalah sepele dan tak bisa ditangani sembarangan. Anggota Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI), dr. Wishnu Pramudito D.P,, Sp.B, menjelaskan tentang manajemen penanganan luka yang benar.
 
Minim Pengetahuan
Luka bisa dialami oleh siapa pun, tidak pandang usia. Luka adalah kelainan yang terjadi pada lapisan kulit teratas hingga jaringan ikat di bawahnya. Jenis-jenis luka yang muncul disebabkan oleh berbagai hal, seperti suhu panas yang mengakibatkan luka bakar, benda tajam yang menyebabkan luka tusuk dan luka iris, serta benda padat yang membuat luka memar maupun luka robek.  

Advertisement
Kecelakaan yang menyebabkan jaringan tubuh terluka bisa terjadi di mana saja. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyimpulkan, 42% cedera banyak terjadi di jalan raya, sementara 36% cedera terjadi di rumah. Adapun, proporsi jenis cedera terbanyak yaitu luka lecet atau memar sebesar 71%, terkilir 28%, dan luka robek sebanyak 23%, sedangkan proporsi luka bakar tidak melebihi jumlah luka robek.  

Karena banyak terjadi di lingkungan yang dekat dengan aktivitas kita sehari-hari, sudah sepatutnya kita memiliki pengetahuan dan keterampilan cara menangani luka. Hingga saat ini, masih banyak orang yang tidak paham dan bahkan tidak mempersiapkan perlengkapan P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan).

“Hal ini diketahui dari data instalasi gawat darurat di beberapa rumah sakit. Banyak pasien yang dibawa dengan kasus-kasus ringan, misalnya luka tersiram air panas, lecet, atau memar ringan. Sayangnya, sering kali  penanganan pertamanya kurang tepat, sehingga menyebabkan infeksi,” papar dr. Wishnu.

Infeksi pada luka bisa muncul akibat bagian luka maupun daerah kulit sekitar luka tidak steril. Maka, untuk menghindari timbulnya infeksi, dr. Wishnu menyarankan agar mengurangi jumlah polutan (kuman) dengan cara membersihkan luka dan menjaga kebersihan kulit sekitar luka selama luka belum menutup. Membersihkan luka terbuka dengan alkohol bukanlah tindakan tepat, karena menyebabkan perih. Cukup dengan air matang atau larutan antiseptik.

Jika luka sudah terinfeksi atau terkontaminasi bakteri, tentu proses pengobatan dan penyembuhannya akan makin sulit. Antibiotik pun sering kali tidak bekerja pada luka dengan kondisi seperti itu, dikarenakan kemampuan kuman telah beradaptasi untuk bertahan hidup.

"Penderita diabetes atau perokok juga memiliki gangguan terhadap penyembuhan luka. Ini karena terjadi kerusakan berupa penebalan pada dinding pembuluh darah. Hal itulah yang akan menghambat pembentukan sel-sel darah, pengangkutan nutrisi maupun obat oleh darah ke daerah luka,” kata dr. Wishnu. Penyakit-penyakit lain yang juga dapat mengganggu penyembuhan luka adalah penyakit yang menurunkan imunitas, seperti TBC, HIV/AIDS, penderita hemofilia, kekurangan gizi, dan usia manula. (f)
 
 



Topic

#penangananluka

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?