Foto: 123RF
“Turun 5 kg setelah sebulan diet, dua minggu kemudian berat badan sudah kembali seperti semula. Sia-sia, deh.”
Anda mungkin bukan satu-satunya orang yang memiliki pengalaman demikian. Beberapa waktu lalu media menyoroti alumnus acara televisi yang pernah berlomba menurunkan berat badan selama 30 minggu untuk memenangkan uang tunai. Setelah acara usai, pakar nutrisi mengikuti perkembangan 14 kontestan selama 6 tahun. Hasilnya, hanya ada satu kontestan yang berhasil mempertahankan berat tubuhnya, sementara 13 kontestan lainnya kembali mengalami kelebihan berat badan. Bahkan, 4 di antaranya kini memiliki bobot tubuh lebih berat dari semula.
Menurut dr. Grace Judio-Kahl, M.Sc., konsultan nutrisi dan berat tubuh, ada faktor eksternal dan internal yang membuat seseorang sulit mempertahankan berat tubuh setelah diet. Faktor eksternal lebih ke arah motivasi. Orang ingin kurus punya beragam alasan, supaya sehat, cantik, atau penampilan baik. Dalam kompetisi mungkin motivasinya adalah reward. Selain itu, ada tekanan, teman, dan motivator. “Biasanya, jika melakukan secara bersamaan dan ada personal trainer, orang akan lebih terpacu. Namun, setelah tujuannya tercapai, ya, sudah, dia tidak tahu harus melakukan apa dengan tubuhnya,” ujar dr. Grace.
Grace menganalogikan tubuh manusia layaknya sebuah kendaraan yang perlu mesin untuk bergerak. Makin besar kendaraannya, makin besar pula ukuran mesin dan bahan bakar yang dibutuhkan. “Tubuh manusia untuk bisa bergerak memerlukan asupan kalori yang didapat dari makanan. Makin besar berat tubuhnya, makin besar kalori yang dibutuhkan,” ujarnya.
Sebelum seseorang mulai berdiet, metabolisme tubuhnya berjalan normal sesuai ukuran. Artinya, tubuh melakukan pembakaran kalori sesuai ukurannya. Ketika seseorang menjalani diet ketat, maka asupan makanan akan berkurang, otomatis kalori yang dibutuhkan tubuh pun berkurang, bahkan bisa di bawah rata-rata orang pada umumnya. Hal ini membuat metabolisme tubuh menyesuaikan diri pada perubahan yang terjadi. Ini yang disebut dengan metabolisme melambat.
Menurunnya metabolisme akan membuat kebutuhan kalori harian ikut terpangkas sehingga tubuh butuh asupan makanan lebih sedikit untuk hidup. Dengan kondisi tubuh yang hanya membutuhkan sedikit makanan, makan dengan jumlah kalori yang sama besarnya seperti sebelum memulai diet ketat pun sudah berpotensi menyebabkan surplus kalori.
“Ketika ukuran tubuhnya mengecil, otomatis tubuhnya tidak memerlukan kalori sebanyak seperti saat dia masih besar. Dan, ketika orang berhenti berdiet metabolisme akan melambat secara drastis dan proses pembakaran kalori dalam tubuh akan lebih sedikit sehingga tidak cukup untuk mempertahankan bentuk tubuh baru,” jelas Grace.
Grace mencontohkan, orang yang awalnya berbobot 100 kg butuh 3.000 kalori. Ketika diet bobotnya menyusut menjadi 50 kg, maka kebutuhan kalorinya menjadi 1.500 kalori atau 1.300 kalori. Bagi orang normal dengan berat 50 kg, makan 1.500 kalori terasa biasa. Tapi, bagi orang yang sebelumnya memiliki berat 100 kg dan memiliki kebiasaan makan 3.000 kalori, akan terasa sulit. (f)
Topic
#dietsehat