Foto: NF
Dalam ASMIHA yang digelar 14 – 17 April 2016 lalu, tema yang diangkat adalah Menjembatani kesenjangan dalam layanan kardiovaskular. Kesenjangan memang salah satu isu yang jadi tantangan bagi dunia kesehatan. Pada tahun 2012 tercatat ada 860 spesialis jantung dan pembuluh darah di Indonesia, sebuah jumlah yang sangat sedikit meningat jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Itupun penempatannya tidak merata, sebagian besar hanya ada di kota-kota besar.
Selama empat hari ASMIHA yang dilakukan berbagai workshop dan seminar untuk saling berbagi ilmu dan penemuan baru dalam bidang kardiovaskular dan diskusi untuk memecahkan tantangan yang dihadapi. “Inovasi dan studi-studi terkini dibahas dan didiskusikan misalnya mengganti katup tanpa operasi tetapi dengan intervensi non bedah yaitu Transcatheter Aortic Heart Valve(TAVI) dan MITRAL CLIPS yang banyak dilakukan di Indonesia mulai tahun 2015, demikian pula upaya penutupan apendiks atrium untuk mencegah stroke,” ujar Dr.DanielTobing, MD, FIHA, FasCC, FAPSC, FAPSIC, FESC, Ketua ASMIHA 2016.
Menarik, tentang kesehatan jantung wanita menjadi salah satu fokus yang dibahas dalam pertemuan tahunan tersebut. Menurut dr. Antonia Anna Lukito SpJP, FIHA, “Jumlah penderita sakit jantung pada perempuan meski lebih sedikit jumlahnya dibanding pria, tapi lebih mematikan. Salah satu perhatian kami adalah mencegah kematian pada ibu hamil dan paskamelahirkan yang sering terjadi karena tidak terdeteksi mereka memiliki gangguan jantung,” ujarnya.
Untuk mengajak wanita untuk memeriksakan jantung sebagai salah satu persiapan sebelum hamil serta memperhatikan gaya hidup sehat, dr. Antonia mempromosikan pin bergambar kebaya merah dengan gambar hati di dada kiri sebagai tanpa kepedulian bersama.