Foto: 123RF
Tahukah Anda, menurut data World Allergy Organization (WAO) tahun 2014, sekitar 40 persen total populasi dunia menderita alergi. Selain itu, 240-550 juta orang secara global berpotensi menderita alergi makanan? Bahkan, angka tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Penyebab penderita terus bertambah dikaitkan dengan perubahan gaya hidup modern saat ini. Mulai dari banyaknya kendaraan bermotor yang menyebabkan polusi udara, hingga banyaknya orang mengonsumsi makanan yang tinggi lemak dan minim santapan buah serta sayur-sayuran.
Ada lebih dari 200 penyebab alergi. Umumnya disebabkan oleh udara, makanan, sengatan serangga, obat-obatan, hingga getah tumbuhan. Reaksi alergi muncul ketika sistem imun keliru merespons zat tidak berbahaya sebagai sesuatu yang dianggap ancaman.
Kemudian, sistem imun memproduksi antibodi yang waspada terhadap alergen (zat yang menyebabkan alergi) tersebut. Bila kita terkena alergen lagi, antibodi ini melepaskan sejumlah zat kimia sistem kekebalan tubuh, seperti histamin, yang menyebabkan gejala alergi. “Jika orang tua punya riwayat alergi, kemungkinan diturunkan kepada anak sebesar 40 sampai 60 persen,” tutur Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), Konsultan Alergi Imunologi Anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Anafilaksis adalah reaksi alergi berat dan mengancam nyawa, yang terjadi dalam waktu cepat. Gejala yang muncul berupa denyut nadi yang lemah dan cepat, sulit bernapas dan berbunyi, lidah bengkak, sulit bicara, pusing, terdapat ruam pada kulit, mual dan muntah-muntah.
Menurut Journal of Allergy and Clinical Immunology (2014), 1 dari 50 orang berisiko menderita anafilaksis karena alergi. “Untuk kasus anafilaksis, jangan menunggu sampai gejalanya mereda untuk pergi ke dokter. Bagi penderita alergi berat, begitu timbul gejala, segera cari pertolongan medis terdekat,” saran dr. Zaki.(f)
Baca juga:
4 Penyebab Alergi Semakin Parah
3 Langkah Orangtua Tanggap Alergi pada Anak
5 Fakta dan Cara Menangani Alergi Protein Susu Sapi pada Anak
Topic
#reaksialergi